Polda Gagalkan Penyelundupan 18 Kg Ganja ke Kendari – Berita Kota Kendari
Headline

Polda Gagalkan Penyelundupan 18 Kg Ganja ke Kendari

KASMAN/BERITA KOTA KENDARI NARKOBA MASUK KE KENDARI. Kasubdit I Ditresnarkoba AKBP Hadi Winarno SIK bersama Kasubbid PID Bidhumas Polda Sultra melakukan ekspos terhadap penyitaan 18 kg ganja dan 50.000 kapsul tramadol, di Polda Sultra, Selasa 92/8).

KASMAN/BERITA KOTA KENDARI
NARKOBA MASUK KE KENDARI. Kasubdit I Ditresnarkoba AKBP Hadi Winarno SIK bersama Kasubbid PID Bidhumas Polda Sultra melakukan ekspos terhadap penyitaan 18 kg ganja dan 50.000 kapsul tramadol, di Polda Sultra, Selasa 92/8).

KENDARI, BKK
Aparat Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) berhasil menggagalkan penyeludupan narkotika jenis ganja kering siap edar seberat 18 kilogram (kg) yang dikirim dari Aceh.

Selain narkotika golongan satu tersebut, polisi juga menggagalkan pengiriman 50 ribu kapsul tramadol yang dikirim dari Jakarta. Sayangnya, meski sudah berusaha keras, namun polisi belum juga berhasil mengungkap pengirim maupun penerima barang.
Yang mengejutkan, kedua jenis barang haram tersebut masuk ke Kendari melalui Bandara Halu Oleo Kendari. Tetapi berkat kerja sama yang apik antara intelejen dan masyarakat, kedua barang yang bikin teler pemakainya itu, bisa ditemukan pada Senin (27/7).
Namun demi kepentingan penyelidikan untuk mengungkap pengirim dan penerima barang, polisi baru mengeksposnya kepada publik, Selasa (2/8) kemarin. “Beberapa hari terakhir, tim sudah bekerja menelusuri siapa pengirim maupun penerima barang ini. Tapi belum kita temukan,” kata Kasubdit I Ditrenarkoba, Polda Sultra, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Hadi Winarno SIK di hadapan awak media, di Markas Polda.
Lantas bagaimana ganja belasan kilo itu bisa lolos lewat bandara? Perwira polisi dengan dua melati di pundak ini menjelaskan, pelaku kemungkinan sudah mengetahui celah agar lolos dari pemeriksaan X-Ray. Saat ditemukan polisi, ganja itu dikemas sedemikian rupa.
“Mereka membungkus ganja itu dalam enam bal. Modus penyeludupannya adalah dengan memasukkan enam bal ganja ke dalam (enam) ember, kemudian dicurah pakai gula merah. Lalu ember dibungkus lagi dengan karung. Jadi otomatis dalam perjalannya tidak terdeteksi secara manual maupun oleh X-Ray bandara,” paparnya.
Selang beberapa jam setelah menyita ganja, polisi kembali menemukan 50 ribu kapsul tramadol yang juga merupakan salah satu obat terlarang. Seperti diketahui, obat daftar “G” ini telah dicabut izin peredarannya oleh Kementerian Kesehatan RI sejak 2015.
Adapun modus penyelundupan tramadol hampir sama dengan ganja. Hanya tramadol dikemas dalam kardus. Namun belum diketahui apakah ganja dan tramadol tersebut dikirim oleh orang yang sama atau orang yang berbeda, hanya kebetulan saja ditemukan dalam hari yang sama.    “Keterkaitan antara kedua barang itu masih dalam penyelidikan,” katanya.
Sayangnya, polisi menemukan jalan buntu saat menelusuri identitas penerima ganja itu. Pasalnya, alamat penerima barang dan nomor handphone (hp) pengirim ternyata fiktif. Itu diketahui setelah polisi mendatangi alamat rumah penerima serta menghubungi nomor ponsel pengirim ganja.
“Kita telusuri, kita coba membuat kontrol delivery atau pengiriman, jadi kita pantau bagaiman alur pengirimannya, mulai bandara sampai ke rumah penerima. Kita cek alamat tidak ada, nomor telepon pengirim juga fiktif.
Meski demikian, aparat tidak patah arang. Mereka kemudian kerja sama dengan ekspedisi untuk tetap menyimpan barang tersebut, dengan tujuan siapa tahu masih ada penerima yang akan mengambilnya melalui ekspedisi.
“Tapi sampai saat ini belum ada penerima yang datang mengambil,” terang Hadi yang didampingi Kasubbid PID Bidhumas Polda Sultra Komisaris Polisi (Kompol) Dolfi Kumaseh.
Masalah yang sama juga dialami untuk pengiriman Tramadol.  “Alamat penerimanya juga fiktif. Dan, sampai saat ini juga belum ada yang datang mengambil kiriman tramadol ini,” kata Hadi. (kas/aha)

Click to comment
To Top