Dewan Beberkan “Dosa” PT PLM – Berita Kota Kendari
Kasuistika

Dewan Beberkan “Dosa” PT PLM

Ilustrasi

Ilustrasi

KENDARI, BKK – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bombana membeberkan beberapa dugaan pelanggaran yang dilakukan PT Panca Logam Makmur (PLM).

Anggota Komisi III DPRD Bombana Heryanto, Senin (1/8) menyebut, selain telah melakukan pengusiran paksa terhadap sekitar 150 karyawan, perusahaan penambang emas ini juga dinilai telah melakukan pelanggaran lain.

Di antaranya, izin usaha pertambangan (IUP) PT PLM sudah berakhir sejak 25 Deseber 2015, namun hingga kini masih tetap berada di lokasi.

Heryanto mengatakan, dalam rapat dengan pendapat (RDP) dengan dewan, alasan PT PLM belum meninggalkan lokasi karena masih mengirus perpanjangan IUP.

“Sementara Undang-Undang (UU) atau aturan pertambangan mengamanahkan bahwa, enam bulan sebelum berakhir IUP, itu sudah harus diurus. Sudah tujuh bulan PT PLM masih tetap berada di dalam,” semprotnya.

Pelanggaran selanjutnya adalah analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal). Heryanto mengungkapkan, Amdal yang dimiliki PT PLM adalah Amdal sekunder.

Sementara yang dikelola hari ini adalah primer yang ada di bawah batuan. Mestinya PT PLM mengubah Amdal itu.

Kemudian, mengenai royalti sebesar Rp 11 miliar, hingga kini PT PLM belum melakukan pelunasan ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bombana.

“Belum lagi kita bicara royalti Rp 11 miliar. Ini royalti belum dibayar-bayar sampai sekarang, kalau kemudian diperpanjang IUP-nya, siapa yang akan bayar royaltinya,” ketus Heryanto.

Berkait dengan hanya PT Panca Logam Nusantara dan PT Anugerah Alam Buana yang melakukan penambangan, Heryanto menjelaskan, PT PLM dan kedua perusahaan tersebut memiliki IUP yang berbeda. Kantor yang digunakan pun milik PT PLM.

“Ini (PT PLM, PT Panca Logam Nusantara, dan Anugerah Alam Buana) memiliki IUP masing-masing, tapi realitanya bahwa, kedua perusahaan (PT Panca Logam Nusantara, dan Anugerah Alam Buana) itu berkantor di PT PLM. Karyawannya juga itu-itu juga, ini nda benar, ini akal-akalan ini. Yang ini juga kerja di Alam Buana Nusantara, yang ini kerja di PT Panca Logam Nusantara, dan sudah karyaman ini juga yang kerja di PT PLM,” katanya.

Heryanto menambahkan, ketiga perusahaan ini bukan berada dalam grup. Sehingga, beda dengan Tbk, karena Tbk sudah pasti mempunya anak-anak di bawahnya.

Masih kata Heryanto, PT PLM pernah meminta pinjam pakai kantor selama enam bulan, tapi enam bulan itu sudah berakhir 25 Juni 2016.

“Ini sudah Agustus masih tetap dipakai kantor itu. Bahkan lebih krusial lagi ada masyarakat meminta lahannya untuk membuka areal persawahan, namun justru PLM melarang. Padahal IUP PLM ini sudah berakhir,” pungkasnya. (kas)

 

Click to comment
To Top