Feature

KEMISKINAN Demi Sekolahkan Anak, Firman Rela Jadi Pemulung dan Petugas Kebersihan

AHMAD RIDHA/BERITA KOTA KENDARI HIDUP miskin tidak membuat Firman melupakan pentingnya pendidikan bagi dua buah hatinya.

AHMAD RIDHA/BERITA KOTA KENDARI
HIDUP miskin tidak membuat Firman melupakan pentingnya pendidikan bagi dua buah hatinya.

Salah satu misi utama pemerintah agar masyarakatnya bisa hidup sejahtera belum dirasakan oleh Firman (52).

Laporan: Ahmad Ridha
Bombana

Minggu (31/7) siang. Denyut aktifitas masyarakat di ibu kota Kabupaten Bombana berjalan sangat lamban. Jalan-jalan poros maupun lorong tampak lengang. Kendaraan maupun orang yang biasanya lalu-lalang kali ini nyaris tak terlihat.
Di salah satu tepi jalan yang nampak lengang, diantara rumah-rumah batu yang cukup bagus, ada sebuah gubuk tua berdinding papan dan beratap nipa yang sangat reyot. Seorang pria paruh baya tampak duduk merenung di tangga rumahnya yang terbuat dari susunan balok tua.
Rambut di kepalanya sudah lebih banyak ubannya. Namun badannya tampak masih kuat.
Dia adalah Firman (54). Warga Kelurahan Lauru, Kecamatan Rumbia Tengah, Kabupaten Bombana.
Firman merupakan salah satu potret warga miskin yang tidak mudah menyerah. Pria yang akrab disapa Pure itu juga sosok ayah yang sangat sadar betapa pentingnya pendidikan itu untuk masa depan anak-anaknya.
Demi kebutuhan sekolah dua anaknya, Pure rela banting tulang pagi sampai malam. Pagi sampai sore, dia bekerja membersihkan Pasar Sentral Rumbia. Jika pasar sudah tutup, dia berkeliling Rumbia memulung sampah yang masih bisa didaur ulang untuk ditimbang.     Memulung sampah sudah dilakoninya sejak belasan tahun terakhir. Bahkan sejak Bombana mekar, 2003 lalu.

“Gaji saya dari kebersihan hanya Rp 700.000. Itu tidak cukup kalau mau biayai sekolah anak-anak saya. Jadi saya masih harus cari tambahan,” kata pria yang sudah lama menduda ini.

Pure tidak punya keinginan yang macam-macam. Dipikirannya hanya ada dua hal penting. Menyekolahkan anaknya hingga tamat serta memperbaiki rumahnya yang mungkin tak lama lagi akan rubuh.
“Seandainya kedua anak saya sudah selesai sekolahnya dan dapat kerja, mungkin gaji saya sebagai petugas kebersihan bisa saya gunakan untuk perbaiki rumah ini. Jadi sabar saja. Yang penting Allah Swt masih memberi kita kesehatan dan umur panjang,” ungkapnya.
Saat ditanya apakah dia tahu soal Dana Gembira yang ditujukan untuk membantu peningkatan rumah bagi warga miskin, Pure geleng-geleng kepala. Sejauh ini, Pure hanya mendapatkan bantuan beras miskin.
“Kalau Raskin ada saya terima tiap bulan,” ucapnya.
Pure mengatakan, mungkin karena rumahnya berada di jejeran rumah batu yang bagus-bagus milik para PNS, sehingga luput dari pantauan aparat pemerintah.
Tapi bagaimana jika musim kampanye, Pure mengatakan rumahnya sering disambangi oleh orang-orangnya calon bupati. Bahkan Pure mengaku diminta untuk menyebarkan lembaran-lembaran politik kepada keluarganya.         “Kalau dekat mi pemilihan bupati, banyak orang yang selalu datang di rumah meminta supaya saya dukung calonnya. Kemarin saja, saya bawa-bawakan ji stikernya itu pak bupati sama keluarga saya,” cerita Firman polos.
Sementara Lurah Lauru, Arifuddin S Kom mengatakan, pihaknya sudah mengusulkan nama Firman kepada Pemkab supaya mendapatkan bantuan bedah rumah melalui Dana Gembira. Dia berharap Firman bisa segera menikmati program tersebut secepatnya.
“Kelurahan kan bukan yang memberikan bantuan. Tapi kami sudah usulkan ke kantor perumahan. Informasinya tahun ini sudah cair dananya. Yang pasti kalau masalah itu jangan mi dihawatirkan,” katanya. (*/aha).

To Top