Peneliti Irlandia Teliti Burung-burung Kecil Sultra – Berita Kota Kendari
Feature

Peneliti Irlandia Teliti Burung-burung Kecil Sultra

KEKAYAAN flora dan fauna di Sulawesi Tenggara memang memikat banyak pihak. Jauh-jauh dari Irlandia, seorang anak muda namun sudah kandidat doktor di negaranya, datang ke Kendari khusus untuk meneliti burung-burung kecil yang tersebar di Sultra. Laporan: Rahmat Rulla

KEKAYAAN flora dan fauna di Sulawesi Tenggara memang memikat banyak pihak. Jauh-jauh dari Irlandia, seorang anak muda namun sudah kandidat doktor di negaranya, datang ke Kendari khusus untuk meneliti burung-burung kecil yang tersebar di Sultra.
Laporan: Rahmat Rulla

Namanya Darren O’Connell. Usianya baru 25 tahun. namun di usia semuda itu, bule berwajah ganteng tersebut sudah menjadi salah satu kandidat doktor di Trinity College Dublin (TCD) Irlandia.
Burung-burung kecil endemik di Sulawesi Tenggara, seperti burung madu kelapa dan burung cabai panggul kelabu yang membuatnya terbang beribu-ribu mill dari Irlandia ke provinsi ini.
O’Connell sudah berada dua bulan di Sulawesi Tenggara. Selama itu pula, dia bersama mahasiswa dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Halu Oleo melakukan ekspedisi di bidang Ornithologist, sebuah studi yang khusus mempelajari tentang burung. Ekspedisi itu disebut Operasi Wallacea (Opwal).
Selama dua bulan terakhir, O’Connell sudah mengunjungi empat kabupaten yang
menjadi lokasi penelitian, yaitu Konawe Selatan, Bombana, Buton serta Buton Utara. Namun dia mengakui awal ekspedisinya tidak lah mudah.
“Hanya kesulitan di awalnya. Terutama saat mencari habitat burung yang kami cari. Saya juga belum tahu kesulitan di daerah yang kami tuju,” kata O’Connell dalam bahasa inggris, yang diterjemahkan oleh Adi Karya S Si M Sc, salah satu dosen FMIPA UHO, di Kendari, Jumat (29/7).
O’Connell memfokuskan penelitiannya pada pengaruh habitat pada populasi burung di lokasi-lokasi yang dia teliti. Beberapa lokasi, lanjutnya, menunjukkan adanya antara populasi burung dengan habitatnya.
Adapun spesies burung yang sudah diteliti dijauh ini adalah burung-burung berukuran mini. “Burung-burung kecil pemakan nekter, serangga dan buah. Salah satunya adalah burung madu kelapa,” terang pemuda yang tengah menyelesaikan program doktoralnya itu.
Di empat daerah yang sudah dikunjunginya itu, O’Connell menemukan hubungan yang sangat kuat antara burung madu kelapa dengan kebun kelapa.
Jenis lain yang ditemukannya adalah burung cabai panggul kelabu dan burung kacamata. Dua jenis ini juga erat kaitannya dengan tumbuhan lantana, yakni tumbuhan kecil yang seperti semak atau merica.
O’Donnel juga sangat antusias melakukan penelitian di Sultra. Provinsi ini dianggapnya memiliki beragam jenis fauna yang beragam, khususnya burung.
Dia menjelaskan, beberapa hewan yang terdapat di Sulawesi merupakan pertemuan hewan yang bermigrasi dari wilayah Asia Tenggara sebelah barat dan Australia. Perkawinan dua spesies namun beda negara itulah yang menghasilkan hewan endemik.
“Hewan endemik adalah hewan yang khas dan tidak dimiliki oleh negara manapun,” tambahnya
.
Dia berharap, hasil penelitiannya kelak akan sangat bermanfaat bagi banyak pihak. Baik bagi dirinya, mahasiswa UHO maupun masyarakat Sultra sendiri.
“Tentunya bagi universitas ini, kita akan saling bertukar informasi,” katanya.
Khusus untuk mahasiswa UHO, penelitian bersama itu akan membantu mereka dalam menyelesaikan studi di bidang yang sama. Dan bahkan bisa dilanjutkan hingga ke luar negeri.
“Saya yakin penelitian ini, akan ada teknik-teknik baru. Nanti bisa terlibat penelitian keluar negeri, bisa menjaga keutuhan kerja sama antara UHO dan TCD (Trinity College Dublin),” harapnya.
Wakil Dekan FMIPA UHO, Dr Analuddin S Si M Si M Sc mengungkapkan, penelitian itu akan semakin memperkaya khazanah pengetahuan khususnya di bidang Biologi. “Penelitian yang dilakukan oleh Mahasiswa S-3 TDC Irlandia tersebut akan sangat bermanfaat karena ada transfer knowledege antara pihk UHO dan Darrean O’Connell,” jelasnya.
Kehadiran O’Connell untuk meneliti burung endemik Sultra pun membuat FMIPA antusias. Karenanya, FMIPA mengirim mahasiswa sebanyak 12 orang untuk ikut dalam ekspedisi penelitian tersebut.
“Saya berharap ini bisa menjadi acuan bagi mahasiswa FMIPA UHO terkhusus jurusan Biologi, untuk memperdalam Ornithologist-nya,” katanya.
Antusiasme juga ditunjukkan Adi Karya yang ikut terlibat dalam ekspedisi bersama O’Connel itu. “Saya banyak mendapat pengalaman baru bersama Mister Darren, karena kami sama-sama memiliki kajian Ornithologist. Tetapi saya dalam negeri yaitu di UGM. Jadi momentum ini tidak bisa kita sia-siakan karena kita bisa saling tukar informasi. Jadi kita bisa memahami sudah jauh mana perkembangan Ornithologist di luar sana,” paparnya.
Adi Karya menambahkan, salah satu hal yang menggembirakan adalah timnya masih sempat menjumpai burung Rangkong, yang spesiesnya kini dalam perlindungan negara. Rangkong juga merupakan spesies endemik Sulawesi.
Manager Operation Wallacea, Adrian Dalope mengungkapkan, pada dasarnya penelitian ini menguntungkan kedua belah pihak. Bagi O’Connell, penelitiannya itu akan membantunya meraih doktor di Trinity College Dublin (TCD) Irlandia. Sementara bagi UHO, khususnya FMIPA, penelitian ini juga akan semakin menambah wawasan mahasiswa maupun dosennya.
“Sangat menarik karena di sini telah terjadi transfer ilmu antara mereka. Operasi Wallacea di Indonesia juga bisa berkembang,” terangnya. (*/aha)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top