Bisnis & Ekonomi

Omzet Bisnis Odongodong Capai Rp 500.000 per Hari

Peluang bisnis di Kota Kendari masih terbuka lebar. Tinggal dibutuhkan kreativitas, keberanian dan tentu saja perhitungan matang untuk memulai. Dan juga modal.
Salah satu anak muda dari Kolaka ini mungkin bisa menjadi inspirasi. Namanya adalah Samrizal. Akrab disapa Ical. Jika Anda termasuk yang sering atau pernah bermain odong-odong yang kerlap-kerlip di Tugu MTQ Kota Kendari itu, Ical adalah pemilik bisnis tersebut.
Dari permainan mobil-mobilan yang menyerupai VolksWagen Beetle itu, pemuda berusia 26 tahun ini bisa meraup omzet hingga Rp 500.000 per hari. Padahal bisnisnya baru saja dia mulai Januari lalu.
Dengan kreativitasnya sendiri, Ical mampu menyulap permainan ini digemari oleh seluruh kalangan dalam waktu yang relatif singkat. “Saya baru beberapa bulan membuka usaha ini. Syukur masyarakat menerimanya dengan gembira,” kata Ical saat berbincang dengan Berita Kota Kendari, Kamis malam (28/7).
Awalnya, Ical hanya memiliki tiga odong-odong. Peminatnya ternyata sangat banyak. Bahkan sampai mengantre.
“Karena pendapatannya bagus, saya buat lagi empat unit. Jadi ada tujuh semua,” katanya.
Baiknya, odongodong digemari oleh seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari anak-anak, remaja sampai orangtua. Bahkan saat BKK ada di sana, lima anak muda tampak bersuka ria mengendarai odong-odong tersebut.
“Saya juga lengkapi dengan pemutar MP3. Jadi mereka bisa setel sendiri musik yang disukai,” tambahnya.
Ical mulai membawa odongodongnya ke tugu MTQ Kendari pada sore hari lalu lepas Magrib dioperasikan. Layanan odong-odong ditutup pada pukul 00.00 atau jam 12 malam.
Untuk tarif per unitnya, dikenakan Rp 40.000 per 30 menit, dengan rute memutari tugu MTQ. Sekali jalan, satu odongodong bisa memuat sampai lima orang. Dia mengakui malam minggu atau malam liburan adalah saat panen omzet.
“Kalau malam minggu kan di sini ramai sekali. Omzet bisa sampai Rp 500.000 per malam. Yang jelas lumayan lah hasil pendapatan dari usaha odongodong ini. Tidak kalah dengan kerja kantoran,” lanjutnya.
Lantas, dari mana Ical mendapatkan ide bisnis odongodong itu? Ternyata, sangat sederhana. Itu bermula saat Ical tengah liburan di Yogyakarta. Di sebuah alun-alun kota yang mirip Tugu MTQ Kendari, dia melihat orang-orang bergembira ria menaiki odong-odong tersebut.
“Langsung terlintas di benak saya, kayaknya ini bisnis bisa juga kembangkan di Kendari,” katanya.
Setelah berhasil menemukan pembuat odong-odong tersebut, Ical pun memesan tiga unit. Tak lama kemudian, odong-odong pesanannya dikirim ke Kendari via Kolaka.
Terus bagaimana dengan aksesori lampu dan musiknya? “Oh, itu ada aki mobil yang terpasang di samping pintu untuk menyuplai listrik agar lampunya bisa menyala. Di dalam juga saya sediakan spiker buat pengguna jasa untuk memutar musik sesuai dengan keinginan mereka,” paparnya.
Salah seorang pengguna, Putri, mengaku sangat senang mengendarai odong-odong tersebut. “Saya berlima naik. Seru dan kocak. Kita banyak tertawa di dalam,” katanya usai turun dari odong-odong berbentuk VW kodok itu.
Menurutnya, odong-odong tersebut salah satu permainan alternatif yang cukup menyita perhatian masyarakat. “Kalau dilihat dari luar, pasti ada keinginan kita untuk memainkannya. Pas naik. Ternyata seru. Apalagi kalau ramai-ramai,” katanya. (p8/b/aha)

To Top