Suksesi

Soal Perebutan Pintu Partai, Begini Kata Pengamat Politik

KENDARI,BKK– Pengamat Politik Sulawesi Tenggara (Sultra) M. Najib Husain, mengatakan mekanisme yang harus dilakukan oleh Partai Politik (Parpol) untuk menghadapi pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota adalah mekanisme yang terbuka.

“Awalnya saya melihat ada sebuah hal yang baru di Kota Kendari karena beberapa partai politik membuka ruang yang seluas luasnya kepada setiap orang yang mendaftar. Tapi kemudian endingnya berakhir dengan sebuah proses yang tertutup yang kemudian masyarakat tidak lagi diberi ruang untuk berpartisipasi untuk memberikan dukungan kepada calon yang ada” terang Najib di Plaza Inn Hotel Rabu (27/7)

Menurutnya, pada pertarungan Wali Kota dan Wakil Wali Kota 2017 mendatang akan terjadi pertarungan head to head antara Adriatma Dwi Putra (ADP) dan Abdul Razak. Namun, dia juga menyampaikan harapannya akan ada satu pasangan calon lagi yang akan menghiasi pertarungan pilwali 2017 mendatang.

“Arah terakhir yang saya lihat akan terjadi heat to heat. Tapi kita masih berharap bahwa ada satu pasangan calon lagi yang akan tampil dan lebih menghiasi pertarungan di Kota Kendari” ungkapnya

Najib Husain meragukan dengan salah satu kandidat calon yang akan tampil lewat jalur independen.“Saya agak ragu dengan adanya calon independen di Kota Kendari. Karena waktunya sudah semakin singkat dan ada beberapa persyaratan yang harus terpenuhi dan itu membutuhkan sebuah perencanaan yang matang. Dan undang undang revisi tentang pemilu, persyaratan untuk independen itu semakin dipersulit” terang Najib.

Sememnatara itu Pengamat Politik lainnya Dr Bahtiar mengatakan bahwa, keempat balon (bakal calon) yakni Adriatma Dwi Putra, Abdul Razak, Zayat Kaimoeddin dan Ishak Ismail, dalam pilwali 2017 nanti bisa dipastikan akan tampil di pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota.

“Kalau partai terdistribusi secara baik atau mendekati merata maka keempat figure tadi bisa masuk menjadi calon kosong satu. Terkecuali ada upaya upaya tertentu yang dilakukan oleh salah satu figur untuk menutup pintu dengan cara memborong partai ini bisa jadi berkurang. Bahkan bisa sampai akan berkurang samapai dua calon. Dan akan terjadi head to head yang akan saling berhadapan” ungkap Bahtiar dimeja kerjanya Kamis (28/7)

Bahtiar menyampaikan tanggapannya soal tampilya calon yang akan tampil lewat jalur independen “Syarat independen sekarang berdasarkan undang undang pilkada yang baru itu agak sulit untuk dijangkau. Sejarah pilkada di Indonesia lewat jalur independen itu hampir bisa dipastikan nasipnya berada pada posisi terakhir. Apalagi Sulawesi Tenggara hampir selalu berada pada posisi diurutan terakhir” tutup Bahtiar.(p8)

 

To Top