Dosen FPIK UHO Kembangkan Biji Kapuk untuk Makanan Udang – Berita Kota Kendari
Pendidikan

Dosen FPIK UHO Kembangkan Biji Kapuk untuk Makanan Udang

Dr Wellem dan Hasil Penelitiannya (RAHMAT R./ BKK)

Dr Wellem dan Hasil Penelitiannya (RAHMAT R./ BKK)

KENDARI, BKK – Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Halu Oleo (UHO) sedang meneliti biji kapuk (ceiba pentandra) untuk dijadikan sebagai pengganti atau subtitusi tepung kedelai untuk makanan udang.

Dosen yang berani melakukan penelitian ini adlaah Wakil Dekan II FPIK UHO Dr Ir Wellem H Muskira MSi. Dalam pemanfaatan biji kapuk, sebut dia, dilakukan dengan cara pengembangan kandungan proteinnya dan dimanfaatkan pada makanan undang atau pun ikan yang dicampur dengan biji kedelai.

Penelitian ini, kata dia, sudah dilakuknnya sebelum penyelesaian studi doktornya.

“Penelitian mengenai pemanfaatan biji kapuk ini sudah dilakukan selama dalam proses penyelasaian studi S-3 saya. Memang berhasil dengan temuan masih minim yakni 5 persen. Tetapi, untuk saat ini kami masih dalam proses pengembangan dan hasil yang kami temukan sementara adalah 10 persen mengurangi biji kedelai yang dicampur dalam pakan udang (makanan udang),” ungkapnya, Kamis (28/7).

Salah satu alasan kenapa makan udang atau ikan harus dikembangkan, harga kedelai saat ini di Indonesia berkisar Rp 7.000 sampai Rp 10.000. Menurut Wellem, jika biji kapuk ini dikembangkan dan bisa memenuhi 10 persen dari 1 ton tepung kedelai dalam pakan, maka bisa mengurangi biaya pengeluaran pembelian kedelai sekitar Rp 700.000 ribu sampai Rp 1 juta.

“Harga biji kapuk di pasaran hanya pada kisaran Rp 1.500 dan ini menurut saya sangat menguntungkan jika dibandingkan dengan harga tepung kedelai,” paparnya.

Biji kapuk ini, kata Wellem, bila dipadukan dengan tepung kedelai dalam makanan ikan atau udang, bisa membuat pertumbuhan udang cepat sekaligus bisa mengurangi biaya masyarakat untuk mengembangkan peternakan udang dan ikan.

“Awalnya, yang kami temukan pada bukil biji kapuk ini hanya 5 persen dari pada campuran bubuk kedelai tersebut. Tetapi, setelah kami kembangkan, kini sudah pada 10 persen dan sementara ini kami sedang mengembangkan lagi untuk penelitian berikutnya agar bisa membantu sampai 15 persen,” tutupnya. (p7/c/pas)

 

Click to comment
To Top