Beranda

Legal, 319 Warga Tiongkok Kerja di Morosi

KENDARI, BKK – General Manager (GM) Virtue Dragon Nikel International (VDNI) Rudi Rusmadi menyebut jumlah tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok yang bekerja di perusahaannya sebanyak 319 orang.

Kepada sejumlah wartawan, Rudi mengaku, TKA asal Tiongkok ini bekerja di megaindustri Morosi untuk menangani pembangunan smelter.

“Mereka mengerjakan hal teknis. Mereka adalah kontraktor yang mengetahui langsung persoalan teknis pembangunan smelter. Setelah pengerjaan mereka selesai, maka langsung pulang. Setelah itu, datang lagi kontraktor lain,” ungkapnya, Selasa (26/7).

Rudi menambahkan, seluruh pekerja asing yang dipekerjakan tidak melanggar visa. Mereka, kata dia, kebanyakan menggunakan visa kunjungan yang dalam aturan Imigirasi dibolehkan bila hanya untuk mengerjakan hal-hal teknis.

“Semua dokumennya lengkap. Visanya tidak ada yang bermasalah. Aturan keimigrasian, visa kunjungan itu diperbolehkan untuk dia pemasangan mesin instalasi tapi semua tenaga kerja yang ada di sana semua dijamin punya visa dan tidak ada ilegal,” katanya.

Saat ini, ungkap dia, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi sedang melakukan investitgasi adanya dugaan pelanggaran visa para pekerja asing.

“Sekarang, kita akan berikan seluruh datanya lengkap di kami,” ungkapnya.

Selain pekerja asing, pihaknya ikut mempekerjakan tenaga kerja lokal sebanyak 241 orang yang bekerja di bidang administrasi kantor, tenaga kasar, sopir escavator dan driver. Selain itu, mereka ikut mempekerjakan masyarakat dengan kategori pekerja harian lepas (PHL) sebanyak 39 orang.

“Memang, kemarin sempat ada yang demo. Tapi, hanya sebagian saja. Jumlahnya sekitar 100-an. Sekarang, kita sudah berikan waktu kepada mereka untuk bekerja kembali. Bila dalam lima hari tidak masuk, maka kita anggap keluar,” tekannya.

Sejauh ini, kata dia, pembangunan smelter di Morosi sudah mencapai 50 persen. Namun, pembangunannya dianggap terlambat dari waktu yang ditargetkan. Awalnya, mereka menargetkan Mei kemarin, sudah tuntas pembangunan satu tungku.

Hanya saja, belakangan ada kasus dan riak dari masyarakat terkait pembangunan smelter ini.

“Sekarang sudah lanjut lagi pengerjaan. Kita tergetkan, pada Desember satu tungku sudah bisa beroperasi,” katanya.

Akibat dari tertundanya pembangunan, Rudi mengaku, perusahaannya mengalami kerugian yang cukup besar.

“Baru-baru ini kita melakukan PHK terhadap pekerja. Kita keluarkan pesangon sebesar Rp 1,5 miliar untuk ratusan pekerja,” tuturnya. (pas)

To Top