The Economist: Peringkat Ketahanan Pangan Indonesia di Era Jokowi Meningkat – Berita Kota Kendari
Bisnis & Ekonomi

The Economist: Peringkat Ketahanan Pangan Indonesia di Era Jokowi Meningkat

Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Aster KSAD Mayjen TNI Komaruddin Simanjuntak, Wakabareskrim Brigjen Pol Antam Novambar dan Ketua KPPU M. Syarkawi mengecek bawang merah yang dijual murah saat peluncuran Toko Tani Indonesia Centre di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu 15 Juni 2016. (Antara Foto/Sigid Kurniawan)

Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Aster KSAD Mayjen TNI Komaruddin Simanjuntak, Wakabareskrim Brigjen Pol Antam Novambar dan Ketua KPPU M. Syarkawi mengecek bawang merah yang dijual murah saat peluncuran Toko Tani Indonesia Centre di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu 15 Juni 2016. (Antara Foto/Sigid Kurniawan)

JAKARTA, BKK – Sudah dua tahun terakhir, kualitas ketahanan pangan Indonesia menurun. Data Global Food Security Index (GFSI) yang dirilis The Economist Intelligence Unit menunjukkan peringkat ketahanan pangan Indonesia pada tahun 2014 dan 2015 merosot ke posisi 76 dari 113 negara.

Namun, perbaikan mulai nampak di tahun 2016. Data GSFI terbaru yang diumumkan pada 9 Juni 2016 lalu menunjukkan ketahanan pangan Indonesia kini berada di peringkat ke-71 dari 113 negara yang diobservasi. Indonesia memang masih berada di kategori rendah, namun meningkat secara signifikan dibandingkan posisi tahun 2015.

Ketahanan pangan Indonesia secara umum diganjar nilai 50,6, naik dari tahun sebelumnya yang 47,9. Peningkatan nilai ini terjadi didukung tiga aspek, yakni: keterjangkauan, ketersediaan, serta kualitas dan keamanan. Pada poin keterjangkauan, Indonesia di tahun 2016 mendapat nilai 50,3, naik dari sebelumnya 46,8. Ketersediaan juga meningkat menjadi 54,1 dari sebelumnya 51,2. Sementara kualitas dan keamanan naik tipis ke 42 dari sebelumnya 41,9.

Poin keterjangkauan mengalami kenaikan paling signifikan dibanding dua poin lainnya. Hal ini didorong beberapa program pemerintah, salah satunya adalah Toko Tani indonesia (TTI) yang mulai diluncurkan pada Agustus 2015 lalu.

TTI adalah program pembentukan semacam 1.000 koperasi yang menampung langsung panen petani, sehingga diharapkan dapat memperpendek rantai perdagangan pangan. Tujuan program ini adalah agar petani sebagai produsen pangan dapat memperoleh marjin keuntungan yang lebih besar dan konsumen dapat membeli kebutuhan pangan dengan harga terjangkau.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, hingga saat ini telah beroperasi sebanyak 733 TTI Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) yang tersebar di 33 provinsi. Selain itu, ada juga kurang lebih 80 TTI khusus yang dibangun oleh pemerintah, antara lain seperti TTI Sentra Pasar Minggu yang diresmikan pada 15 Juni kemarin.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, saat peresmian TTI Sentra Pasar Minggu, menjelaskan bahwa persoalan pangan sudah ada sejak 70 tahun lalu dan TTI merupakan solusi jangka pendek untuk menekan harga pangan. TTI menjual daging segar dan beku, kemudian bawang putih dan merah, ayam, gula pasir, dan minyak goreng dengan harga di bawah harga pasar. Contohnya harga bawang yang dijual Rp23.000 per kilogram (Kg), lebih rendah 37 persen dibanding harga rata-rata bawang di pasar Jakarta Rp36.558 per Kg. Sementara cabai dijual di harga Rp18.000 per Kg, lebih rendah 30 persen dari harga pasar yang berkisar Rp25.720 per Kg.

Walaupun demikian, Amran tidak memungkiri bahwa program toko tani ini masih perlu terus disempurnakan. Harga pangan di pasaran (di luar TTI) belum turun ke level yang diharapkan. Ambil contoh, harga minyak goreng di pasar wilayah Jakarta masih bergerak naik ke level Rp12.000 per kilogram di bulan Juni, padahal pada Januari harganya masih di bawah Rp11.000. Sementara itu, harga daging di pasar juga masih berada di atas Rp100.000 per kilogram, terpaut jauh di atas target harga pemerintah yang Rp80.000 per kilogram. (kd/lex)

To Top