Tenunan Khas Sultra Sudah Go Internasional – Berita Kota Kendari
Beranda

Tenunan Khas Sultra Sudah Go Internasional

Ketua Dekranasda Sultra  Hj Tinas Nur Alam mendampingi Istri Wapres Hj Mufidah Jusuf Kalla saat menyaksikan tenunan khas Sultra di Dekranasda Sultra dalam kunjungannya di Sultra 2015 lalu

KENDARI, BKK – Masyarakat Sulawesi Tenggara khususnya para pengrajin kain tenun patut berbangga, karena kain tenun khas Sultra sudah go internasional.

“Tenun-tenun dari Sultra ini kan bukan saja di Indonesia, tapi sudah ke mancanegara. Beberapa desainer terkenal Indonesia sudah pernah membawa kain tenunan kita ke manacanegara seperti Paris dan Mumbai,” kata Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sultra, Hj Tina Nur Alam kepada jurnalis Berita Kota Kendari (BKK), Minggu (26/6).

Kain tenun khas Sultra bisa go internasional atas upaya Tina Nur Alam membangun kemitraan dengan Cita Tenun Indonesia (CTI yang diketuai Okke Hatta Rajasa. Melalui CTI yang menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk para designer yang konsen pada busana bernuansa etnik, menjadikan kain tenun khas Sultra sebagai salah produk utama.

Menurut Tina, melenggangnya tenun Sultra ke Mancanegara berdampak positif terhadap permintaan pasar, yakni sejumlah bayer mengajukan permintaan stok dalam jumlah besar. “Waktu ada permintaan dari bayer itu, pengrajin kita kewalahan. Mereka minta satu kali banyak,” kata Tina.

Makanya, menutur dia, pemerintah dan bersama berbagai pihak perlu membuat program agar membantu para pengrajin sehingga bisa memproduksi secara massal.
Dalam upaya ini, kata Tina, ternyata masalahnya ada di tingkat pengrajin. “Kita kekurangan pengrajin dan rata-rata usianya sudah tua, sudah ina-ina. Makanya kita perlu regenerasi, karena mereka ini dari segi kemampuan terbatas. Dan jika diantara mereka ada yang meninggal terus siapa yang melanjutkan, sehingga bisa-bisa anak cucu kita tidak tahu lagi motif tenun kita,” katanya.

Padahal menurut Ketua Tim Penggerak PKK Sultra ini, di darah ini kaya dengan motif tentun, yakni setiap kabupaten atau kota mempunyai motif tenun sendiri sebagai ciri khasnya.

“Makanya banyak diminati. Tenunan kita selain beragam, coraknya yang cantik, juga harganya lebih murah, dibanding Songket Palembang yang harganya jutaan. Bukan murah karena kualitas tidak bagus. Dia berkualitas tapi murah dan inilah yang diinginkan pasar,” ujar ibu yang pernah duduk di Komisi VI DPR ini.

Tina menceritakan, sejak terpilih sebagai Ketua Dekranasda dia bersama kerjasama dengan Citra Tenun Indonesia memberikan pembinaan kepada penegarajin tenun melalui pelatihan. Pelatihan yang diberikan seperti pewarnaan alam dan cara menenun yang baik agar hasilnya lebih baik.

“Makanya sekarang lebih halus dan tidak ada sisa benang lagi. Selain itu kita juga memperkaya motifya, yaitu membuat motif-motif baru tetapi tetap didasarkan pada motif tradisional khasnya,” katanya.
Menurutnya, dengan menggunakan pewarnaan alam maka kain tenun khas Sultra sangat diminati, sebab warna alami ini semakin dicuci maka akan semakin keluar warna alaminya.  “Para turis mancanegara itu lebih suka kain tenun dari pewarna alami. Di sekitar kita kan banyak sumber pewarna alami seperti buah alfukat dan manggis,” katanya.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan Dekranasda, akhirnya saat ini kain tenun khas Sultra semakin familir di tengah masyarakat. “Kalau dulu kita lihat tenun kita banyak benang-benangnya, kalo sekarang kualitasnya lebih bagus, lebih halus. Kalau dulu orang pake tentun merasa canggung, tapi kalau sekarang tidak pake tenun merasa minder. Karena bahannya sudah nyaman, motif dan warnanya sudah pantas bahkan bisa go internanional,” ujarnya.

Sebagai anggota DPR, Tina tak pernah bosan mempromosikan kain tenun khas Sultra. Hampir setiap saat masuk kantor, Tina Nur Alam selalu mengenakan pakaian berbahan kain tenun khas Sultra. Banyak anggota DPR yang tertarik dengan kain tenun khas Sultra, sehingga Tina memberikannya sebagai souvenir.

Salah satu anggota DPR, rekan kerja Tina di Komisi III yang sering memakai baju tenunan khas Sultra adalah anggota DPR dari Partai Demokrat Ruhut Sitompoel. Pengrajin kain tenun binaan Dekranasda paling banyak terdapat di Kabupaten Buton, Kota Baubau dan Muna, serta sebagian kecil ada di Konawe. “Peralatan mereka masih manual, masih godokan, tapi sebagian juga sudah pake alat yang lebih modern,” pungkasnya. (lex)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top