Kasuistika

Kasus Korupsi Dana Pembangunan USB 2013, Terdakwa Sudutkan Ketua DPRD Buton

KENDARI, BKK– Sidang kasus korupsi dana pembangunan USB (Unit Sekolah Baru) SMK Kesehatan Lasalimu Selatan, Buton TA 2013

, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Kendari, Kamis (23/6), diwarnai ketegangan. Terdakwa, Muhammad Darmin Ali saling bantah dengan Ketua DPRD Buton, La Ode Rafiun yang dihadirkan sebagai saksi.
Rafiun yang juga Ketua DPD PAN Buton ini dihadirkan JPU Kejari Buton, I Made Lovu Pusnawan SH untuk memberikan keterangan sebagai saksi dengan terdakwa, Darmin yang tidak lain Kepala SMK Kesehatan Lasalimu Selatan.
La Ode Rafiun mengakui pernah meminjaman uang sebesar Rp 82 juta kepada Sarifah. Uang itu lalu dia serahkan kepada terdakwa. “Semua uang pinjaman yang saya ambil dari Sarifah itu saya serahkan langsung kepada Darmin. Karena sepengetahuan saya uang tersebut akan dibangunkan USB SMK kesehatan,” kata Rafiun.
Malah, sambung Rafiun, terdakwa terus menemaninya dalam proses peminjaman uang tersebut. “Saya tidak pernah ambil sekaligus tetapi berangsur-angsur. Saya selalu menandatangani kuitansi pengambilan uang kepada Sarifah dan ketika saya ambil uang dari Sarifah, saya selalu bersama-sama dengan Darmin,” sambungnya.
Ketua Majelis Hakim, Mustari SH kemudian menanyakan untuk apa uang pinjaman tersebut, Rafiun mengaku tidak tahu. Yang dia ketahui bahwa uang tersebut akan digunakan untuk proyek USB SMK Kesehatan Lasalimu Selatan.
“Saya tidak tahu uangnya dikemanakan. Kalau bangunan fisiknya itu memang ada dengan ukuran tanah kurang lebih 2 hektar,” jelasnya.
Hakim lalu mengkonfirmasi pernyataan Rafiun kepada Sarifah yang juga menjadi saksi dalam sidang itu. Sarifah pun membenarkannya.
Namun saat hakim mengkonfirmasi kepada terdakwa, di sinilah ketegangan dimulai. Darmin menegaskan uang tersebut tidak pernah diserahkan Rafiun kepada dirinya.
“Ada ini kuitansi pengambilan uang yang digunakan La Ode Rafiun, bahkan bahan material untuk pembangunan gedung sekolah berupa tehel sejumlah 30 dos, dia ambil di rumah saya,” ujarnya.
Keterangan Darmin tersebut langsung disanggah oleh Rafiun.
“Saya tidak pernah ambil tehel untuk pembangunan sekolah. Yang saya ambil itu tehel yang saya beli pake uang pribadi saya. Itupun jumlahnya bukan 30 dos, tetapi hanya 13 dos saja,” tangkisnya.
Usai sidang, Rafiun membantah semua tudingan yang dituduhkan kepada dirinya dan menuduh Darmin telah berbohong dalam sidang. “Saya sama sekali tidak pernah memakai uang itu. Tidak ada hubungannya dengan saya dana-dana itu. Yang ada benar, kalau saat mendirikan sekolah itu, saya memang pinjam uangnya yayasan. Tetapi itu saya serahkan sepenuhnya kepada Darmin,” tegasnya.
Saat jurnalis Berita Kota Kendari (BKK) mengkonfirmasi apakah betul dirinya pernah melarikan Darmin ke Makassar seperti keterangan terdakwa dalam persidangan sebelumnya, Rafiun lagi-lagi membantahnya.
“Yang betul itu, Darmin datang ke rumah saya sambil menangis mau pinjam uang untuk berangkat ke Makassar dengan alasan bahwa keluarganya itu sakit di Makassar. Tetapi saya tidak memberikan karena dia masih berstatus tersangka. Terkecuali dia harus minta izin dulu di Kejari Buton,” katanya.
Sebelumnya oleh JPU, terdakwa diduga melanggar Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). (p5/c/aha)

To Top