WNA China Terancam Penjara Lima Tahun – Berita Kota Kendari
Headline

WNA China Terancam Penjara Lima Tahun

Pakai Visa Kunjungan, Ternyata Menambang di Bombana

KENDARI, BKK– Empat Warga Negara Asing (WNA) asal China menghadapi tuntutan lima tahun penjara dan denda masing-masing Rp 500 juta, karena pelanggaran imigrasi. Mereka sebelumnya ditangkap aparat Keimigrasian, saat sedang menambang di Desa Tembe, Bombana.

Keempat WNA tersebut, masing-masing Guefeng Ning, Gang Li, Yudong Hu dan Jingjung Cui dihadirkan dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Kendari dengan agenda pemeriksaan saksi dan keterangan ahli, Rabu (22/6).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Tenggara (Sultra), Rahmat SH menghadirkan dua orang saksi dari pihak Imigrasi Kendari yakni, Ridwan Manca serta saksi ahli dari pihak Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), Darori SH MH selaku Divisi Imigrasi.
Sidang ini dipimpin Hakim Ketua, Hanung didampingi hakim anggota Andri Wahyudi. Sementara empat WNA tersebut didampingi penerjemah yang dihadirkan pihak Imigrasi Kendari.
Ridwan dan Manca mengungkapkan, keberadaan mereka diketahui atas informasi yang didapatkan dari masyarakat. Informasi dari masyarakat menyebutkan keemppat WNA tersebut sudah seminggu lebih berada di lokasi pertambangan.
“Intinya kami menangkap keempat WNA tersebut karena mereka melakukan pekerjaan penambangan emas dan sudah seminggu mereka melakukan penambangan,” lanjutnya.
Saat diperiksa, empat WNA itu tidak bisa menunjukan dokumen kelengkapan pribadi mereka. Visa yang mereka gunakan hanya visa kunjungan wisata, bukan visa kerja. Dalam sidang itu, empat WNA tersebut melalui penerjemahnya mengakui tidak memiliki dokumen kelengkapan pribadi.
Saksi ahli, Darori menjelaskan, keempat terdakwa terbukti melakukan pelanggaran atas UU Keimigrasian. “Keempat WNA tersebut telah terbukti melanggara Pasal 122 huruf (a) UU Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian,” jelasnya.
Dia menjelaskan, WNA yang ingin masuk ke Indonesia harus memiliki dokumen sesuai dengan peraturan di Indonesia, diantaranya dokumen kelengkapan pribadi seperti paspor dan visa. Untuk visa, harus dipergunakan sebagaimana peruntukkannya.
“Jangan visa kunjungan wisata, tetapi malah melakukan pekerjaan di sini. Begitupula sebaliknya, jangan visa kerja dipakai hanya sebatas berwisata,” sambungnya.
Saat majelis hakim memperlihatkan visa WNA, saksi ahli membenarkan kalau visa WNA tersebut memang menggunakan visa kunjungan bukan visa kerja.
JPU, Rahmat saat ditemui usai sidang mengungkapkan, perkara ini merupakan perkara yang ditangani pihak Imigrasi Kendari. Jaksa hanya mempersiapkan tuntutan.
“Atas perbuatan keempat WNA tersebut dijerat dengan Pasal 122 huruf (a) UU Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian dengan ancaman pidana minimal lima tahun  penjara dan denda Rp 500 juta,” pungkasnya. (p5/b/aha)

Click to comment
To Top