Polisi Paling Banyak Lakukan Kekerasan – Berita Kota Kendari
Beranda

Polisi Paling Banyak Lakukan Kekerasan

KENDARI, BKK – Dalam kurun waktu satu tahun, sejak Juni 2015 hingga Juni 2016, kasus kekerasan yang dilakukan kepolisian mencapai 135 kasus. Empat kasus diantaranya terjadi di wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra). Jumlah ini sudah paling banyak diantara lembaga lain yang bertugas memberikan pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat.

Hal itu diungkap Ketua Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Penganiayaan Tindak Kekerasan (Kontras) Jakarta, Satrio Wirataru, saat ditemui di Kendari, Rabu (22/06).
Satrio menyebutkan, empat kasus yang terjadi di Sultra, salah satunya adalah kasus kematian pegawai honorer Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sultra atas nama Abdul Jalil, warga Kelurahan Tobimeita, Kecamatan Abeli, Kota Kendari. Jalil sendiri diduga dianiaya aparat Kepolisian Resor (Polres) Kendari hingga tewas.
“Untuk se Indonesia, sepanjang Juni 2015 sampai Juni 2016 kekerasan yang dilakukan aparat kepolsian berjumlah 135 kasus . Untuk di Sultra ada empat kasus,” jelasnya saat ditemui, Rabu (22/6).
Menurut Satrio, kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian itu merupakan pembunuhan karakter dan sangat melanggar kode etik kepolisian. Seharusnya, lanjut dia, kekerasan tersebut tidak boleh dilakukan karena telah diketahui bahwa moto dari kepolisian itu melindungi, mengayomi dan melayani.
“Ini merupakan pembunuhan karakter yang dilakukan aparat kepolisian. Bahkan setiap kekerasan yang dilakukan aparat kepolsian sampai berujung kematian,” sambungnya.
Dalam setiap tindak kekerasan yang melibatkan aparat, kata dia, pihak kepolisian selalu melakukan pembenaran untuk menutup-nutupi setiap kekerasan yang dilakukannya.
“Ada kejanggalan-kejanggalan yang dilakukan aparat kepolisian ketika telah melakukan tindakan kekerasan dan penganiayaan hingga berunjung kematian, semuanya itu untuk menutup-nutupi kesalahan aparat kepolisian seolah-olah mereka (polisi red) kebal akan hukum,” lanjutnya.
Satrio mengharapkan, setiap aparat kepolisian yang melakukan tindakan penganiayan hingga mengakibatkan kematian seseorang langsung dilakukan pemecatan.
“Polisi yang melakukan penganiayaan hingga menghilangkan nyawa seseorang itu merupakan pembunuhan. Polisi itu digaji oleh negara. Jadi sama halnya negara itu membayar seorang pembunuh,” pungkasnya. (p5/c/jie)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top