Imam Ali bin Abi Thalib Pintu Ilmu Nabi Muhammad Saw – Berita Kota Kendari
Hikmah

Imam Ali bin Abi Thalib Pintu Ilmu Nabi Muhammad Saw

MAKAM IMAM ALI. Umat muslim berkumpul di pelataran masjid yang juga menjadi makam suci Imam Ali bin Abi Thalib, di Najaf, Iraq, saat bulan suci Ramadan.

Nabi Muhammad Saw pernah bersabda tentang keutamaan Imam Ali Karramallaahu wajhah. Oleh Nabi Saw, Imam Ali diibaratkan seperti Nabi Harun As di sisi Musa As. “Hanya saja, tidak ada lagi nabi setelahku,”
kata Nabi Saw.

Tak diragukan lagi bahwa diantara semua tokoh di generasi Islam, Imam Ali merupakan tokoh yang paling banyak mewarisi ilmu Nabi Muhammad Saw. Nabi pun pernah bersabda, “Aku adalah Kota Ilmu dan Ali adalah pintunya. Barang siapa yang ingin mendatangi sebuah kota, hendaklah dia melewati pintunya.”
Imam Ali dikenal memiliki ketinggian makam spiritual, kecerdasan dan kesatriaan. Dari empat Khulaaur Rasyidin, hanya Ali yang menyandang status Imam di depan namanya. Dari seluruh sahabat, Imam Ali satu-satunya yang mendapat gelar Karramallahu wajhahu.
Bagi generasi setelahnya yang mengembangkan mazhab dan pemikiran, Imam Ali pun selalu menjadi tokoh sentralnya, baik Sunni, Syiah dan Tasawuf, semua dipertemukan oleh Imam Ali menuju cahaya Nabi Muhammad Saw. Kebanyakan silsilah disiplin ilmu kaum Muslimin di antaranya teologi, fikih, tafsir, sastra, tarekat berujung padanya.
Dalam bidang kelimuan, Imam Ali diketahui sudah sering menjadi rujukan khalifah sebelumnya dalam berbagai persoalan, mulai persoalan agama, sosial, bahkan urusan matematika. Tak heran, Klaifah Umar bin Khattab yang dikenal karena ketegasannya selalu berkata, “Kalau tak ada Ali, celakalah Umar.”
Suatu hari, Umar bertanya kepada Ali bin Abi Thalib. “Aku heran kepadamu wahai Ali! Karena setiap kesulitan yang aku tanyakan kepadamu, engkau tidak pernah mengatakan ‘tidak tahu’, dan malah menjawabnya langsung bahkan tanpa berpikir sejenak pun.”
Lalu Ali bin Abi Thalib as menunjukan lima jarinya ke hadapan Umar bin Khatab seraya berkata, “Wahai Umar, berapakah ini?” Seketika itu juga Umar bin Khatab menjawab, “Lima!” Imam Ali bin Abi Thalib berkata, “Ketahuilah wahai umar! Sesungguhnya bagiku, semua ilmu pengetahuan dan jawaban dari segala masalah adalah semudah engkau menjawab pertanyaanku tadi.”     Secara fisik, Imam Ali digambarkan memiliki tenaga yang sangat kuat. Sejauh yang disejarahkan, sampai menemui syahidnya, tak ada seorang pun yang mampu mengalahkannya dalam pertarungan
Ali adalah seorang dengan perawakan sedang namun badannya berisi. Matanya hitam dan lebar. Pandangan matanya memancarkan keteduhan. Alis matanya tebal dan menyatu. Wajahnya tampan dan auranya lebih sering memancarkan keceriaan dan kebahagiaan. Jarang rambut tumbuh di bagian depan wajahnya (yang menunjukkan kejeniusan dan keutamaan bagi orang-orang Arab).
Lehernya memancarkan cahaya berwarna putih bagai sebuah guci perak. Jenggotnya tebal, bahunya lebar, jari-jemarinya ramping dan tangannya kekar dan kokoh. Begitu kokohnya sehingga apabila ia memegang tangan seseorang, ia akan menang dan lawan yang dihadapinya akan kehilangan nafasnya.
Perutnya dan punggungnya kokoh. Dadanya bidang dan berbulu. Tulang-tulang sendinya yang bertautan antara yang satu dengan yang lainnya berukuran besar. Otot-ototnya nampak dan betisnya panjang. Otot lengan dan kakinya seimbang dan ketika berjalan agak condong ke depan.
Ibnu Qutaibah mencatat, “Tidak ada yang melawannya kecuali akan tersungkur ke bumi.” Ibn al-Hadid berkata, “Kemampuan fisik Imam Ali As telah menjadi perlambang ksatria. Dia lah yang menaklukkan benteng Khaibar, saat sekelompok orang lain ingin mengangkat gerbangnya gagal. Ia juga yang menurunkan berhala hubal, berhala yang berukuran raksasa dari atas Ka’bah dan menghempaskannya ke tanah.
Ia yang memindahkan batu raksasa dari tempat duduknya dengan tangannya pada hari kekhlalifahannya kemudian dari bawah batu itu mengalir air yang mendidih, sementara semua pasukan yang ada tidak mampu untuk melakukan hal itu.

Imam Ali lahir pada hari Jumat 13 Rajab pada tahun 30 tahun Gajah di Mekah di dalam Ka’bah. Di usianya yang keenam, perekonomian Abu Thalib, ayahnya, mengalami kemunduran karena musim paceklik. Nabi Saw kemudian mengambil dan merawatnya.
“Ketika aku masih kecil, (Nabi Muhammad Saw) meletakkanku di sampingnya dan mendekapku ke dadanya dan ia menidurkanku di pembaringannya, menempelkanku ke badannya. Kadang-kadang Nabi Muhammad Saw mengunyah makanan kemudian kunyahan itu diberikan kepadaku. Beliau tidak pernah mendengar bicara dusta dariku dan juga tidak pernah melihat kesalahan pada tingkah lakuku.”
Istri pertama Imam Ali As adalah Sayidah Fatimah binti Muhammad Saw. Keduanya dikaruniai lima anak yang semuanya dimuliakan karena ketinggian ilmunya. Mereka adalah Imam Hasan, Imam Husain, Sayyidah Zaenab, Sayyidah Ummi Kultsum dan Sayyid Muhsin. Namun Muhsin meninggal dalam kandungan. Setelah Fathimah wafat, Imam Ali diketahui menikah beberapa kali dan dikaruniai lebih 20 anak.
Di masa pemerintahannya, umat Islam sudah terpecah-pecah dikarenakan politik. Imam Ali harus menghadapi banyak perang saudara. Diantaranya Perang Jamal, Perang Shifin, Perang Nahrawan dan Perang Mariqin. Semua perang itu dimenangkan kubu Imam Ali. Namun para sejawaran mencatat bahwa sebelum perang, Imam Ali selalu menawarkan perdamaian, tetapi tidak diindahkan.
Saat mengimami Salat Subuh pada 19 Ramadhan 40 H, di saat posisi rukuk, seorang Khawarij bernama Abdur Rahman Ibnu Muljam yang ikut disafnya melompat dan seketika mengayungkan pedangnya ke kepala Imam Ali. Sahabat yang sudah dirawat Nabi sedari kecil itu pun rubuh. Ibnu Muljam langsung melarikan diri namun kemudian ditangkap dan diqisas (dihukum mati). Dua hari setelah itu, 21 Ramadhan, Imam Ali menemui kesyahidannya.
Putra-putra Imam Ali As: Imam Hasan AS, Imam Husain AS, dan Muhammad bin Hanafiyah dengan disertai oleh Abdullah bin Ja’far menguburkan Imam Ali As pada suatu malam di suatu daerah bernama Gharin (sekarang Najaf) dan menyembunyikan kuburannya. Saat itu, kelompok Khawarij dikhawatirkan akan menemukan makam beliau lalu menghinakannya.
Pada tahun 135 Hijriyah, cicit beliau, seorang ulama besar, Ja’far Sadik bin Musa bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib mengungkapkan keberadaan makamnya di Najaf, Irak. Hingga kini, pusara beliau selalu diziarahi jutaan orang tiap tahunnya. (*)

To Top