Banyak Petani yang Gagal Panen – Berita Kota Kendari
Bisnis & Ekonomi

Banyak Petani yang Gagal Panen

UNAAHA, BKK– Musim tanam kedua tahun ini menjadi mimpi buruk bagi banyak petani di Konawe. Hasil panen anjlok bahkan ada yang gagal panen karena serangan hama maupun pertumbuhan padi yang tidak normal.

Gagal panen terjadi di Kecamatan Wawotobi, Anggaberi dan Wonggeduku. Mayoritas petani mengeluhkan serangan hama yang membuat sebagian besar padi tak berbulir. Mereka pun terpaksa memilih padi yang berisi untuk dipanen.
“Kalau kita kumpulkan, hasilnya hanya bisa untuk makan,” kata Erwin (40), petani di Kelurahan Lawulo, Kecamatan Anggaberi, Rabu (22/6).
Menurutnya, pada musim tanam kedua, pertumbuhan padi terlihat tidak normal sejak usia dua bulan. Dari luar terlihat sehat, tetapi isinya tidak ada. Bahkan ada yang benar-benar mengering dan mati.
Meski petani dan penyuluh sudah masih berusaha maksimal dengan melakukan penyemprotan, namun usaha tersebut sia-sia. “Kita sudah lihat memang ini sudah mengarah gagal panen. Tapi kita terus mencoba pakai pestisida, tetapi tidak berhasil,” tuturnya.
Saat dipanen, kebanyakan petani hanya bisa pasrah. Mereka hanya bisa memilah-milah padi yang masih bisa diselamatkan dan memusnahkan batang padi yang rusak yang jumlahnya jauh lebih besar. Saat ini, petani di Lawulo mencoba masuk ke penanaman musim ketiga.
Keadaan yang sama juga terjadi di Kecamatan Wonggeduku. Ketua Kelompok Tani Desa Wukusao, Ladawa (47) mengakui panen padi di musim ini jauh dari prediksi para petani. Biasanya, jika hujan turun beberapa minggu sebelum panen, maka kualitas padi biasanya semakin bagus.
“Tapi ini malah terjadi serangan hama berupa ulat kecil yang memakan batang padi mulai umur 60 hari,” kata Ladawa.
Ladawa dan para petani sudah berusaha mengatasi serangan hama dengan mencoba berbagai jenis antihama. Sayangnya, tak satu pun merek yang ampuh memusnahkan hama tersebut.
Saat panen, Ladawa hanya bisa mengumpulkan beberapa karung gabah. Itupun setelah dipabrik, berasnya terlihat menghitam. Hal ini membuat harga berasnya anjlok.
“Biasanya para tengkulak membeli dengan harga standar Rp 4200 per kilogram gabah keringnya. Namun sekarang turun Rp 3200 karena tengkulak mengetahui persis kualitas gabah tersebut. Sehingga enggan membeli dari harga biasanya. Kita juga tidak bisa apa-apa jadi dijual saja,” katanya.
Sementara itu, Kepala BP4K Muhammad Akbar membenarkan sebagian sawah di Konawe terkena serangan hama. Namun tetap ada sawah yang panennya normal.
“Serangan hama ini membuat produktifitas padi di Konawe sedikit mengalami penurunan. Pada panen sebelumnya, petani mampu menghasilkan sekitar 60 karung gabah, tapi sekarang tinggal 40-50 karung saja,” jelasnya .
Serangan hama yang terjadi kala ini bukan karena kualitas bibit, tetapi lebih dikarenakan cuaca yang tidak menentu. Anomali cuaca seperti itu bisa memicu meningkatnya serangan hama.
Dia juga menyayangkan para petani yang hanya mengandalkan perekonomiannya tanaman padi. Untuk tiga musim, seharusnya musim kedua dimanfaatkan untuk menanam sayur-sayuran maupun jagung atau tanaman lainnya.
“Kondisi ini kita sudah koordinasikan pada pengawas Hawa Penyakit (PHP), dan berdasarkan laporan mereka, sebagian sawah petani sudah berhasil dikendalikan, karena sudah ada sebagian yang berhasil panen. Tapi kami juga berharap kondisi ini segera teratasi, agar produktifitas kita tidak mengalami penurunan,” tutupnya. (cr4/b/aha)

Click to comment
To Top