Nuansa Ramadhan

Ritual Malam Qunut, Tradisi Ratusan Tahun di Mesjid Keraton Buton

Perangkat adat Mesjid Agung Keraton Buton membacakan doa sebelum santap sahur usai menggelar ritual Malam Qunut, pada Selasa (21/6) dinihari.

Perangkat adat Mesjid Agung Keraton Buton membacakan doa sebelum santap sahur usai menggelar ritual Malam Qunut, pada Selasa (21/6) dinihari.

Ritual Qunut kembali digelar di Mesjid Agung Keraton Buton, Senin malam (20/06), hingga Selasa dini hari (21/06). Ritual yang tetap dilestarikan sejak ratusan tahun lalu itu rutin digelar setiap tahun di pertengahan bulan Ramadan atau tepatnya malam ke 16 bulan Ramadan.
Ritual Qunut yang dimulai pukul 00.00 itu digelar hingga menjelang sahur. Pelaksanaan Qunut kali ini dihadiri Walikota Baubau AS Tamrin, Wakil Walikota Maasra Manarfa, Wakil Ketua DPRD Baubau Yasin Mazadu dan sejumlah kepala SKPD Baubau serta seluruh “Sanana Hukumu” atau perangkat adat Mesjid Agung Keraton Buton.
Selain Pemerintah Kota Baubau dan perangkat adat Mesjid Agung Keraton Buton, juga hadir ribuan masyarakat yang diawali dengan pelaksanaan shalat Tarawih secara berjamaah, berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT di Mesjid Agung Keraton Buton.
Ritual qunut digelar dalam rangka menyambut malam Lailatul Qadar. Ritual itu sudah dibudayakan sejak Agama Islam masuk ke Pulau Buton pada abad 13 Masehi. Dalam sinopsis yang dibacakan, ritual qunut merupakan pandangan masyarakat Buton yang bersumber pada salah satu riwayat Rasulullah dalam menyampaikan tentang pentingnya puasa di bulan Ramadan.
Amatan di lapangan, usai pelaksanaan Shalat Tarawih, dilanjutkan dengan sahur bersama masyarakat pemerintah dan para perangkat Mesjid Agung Keraton Buton di Baruga Keraton Buton yang berada tepat di depan Mesjid Agung Keraton Buton. Sebelum santap sahur, perangkat mesjid membacakan doa yang kemudian mempesilahkan para tamu untuk santap sahur.
Walikota Baubau, AS Tamrin yang diwawancarai usai melaksanakan sholat Tarawih mengatakan, Pemerintah Kota Baubau terus berupaya melestarikan kegiatan budaya yang masih ada, termasuk ritual qunut tersebut. Kata dia penting dilestarikan karena merupakan warisan budaya peninggalan Nenek Moyang terdahulu.
“Bukan hanya ritualnya yang kita harapkan dilestarikan, tapi makna besar dibalik itu yang juga harus kita wujudkan dalam kehidupan di masyarakat,” katanya. (k2/c/aha)

To Top