Dokfor Unhas Autopsi Jenazah Jalil, Polda Rahasiakan Dua Oknum Anggota yang Ditahan – Berita Kota Kendari
Kasuistika

Dokfor Unhas Autopsi Jenazah Jalil, Polda Rahasiakan Dua Oknum Anggota yang Ditahan

Proses pembongkaran makam dan autopsi jenazah Jalil di TPU Tobimeita Kendari, Sabtu (18/6). (FOTO: RUDY/BKK)

Proses pembongkaran makam dan autopsi jenazah Jalil di TPU Tobimeita Kendari, Sabtu (18/6). (FOTO: RUDY/BKK)

KENDARI, BKK – Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) telah menahan dua oknum anggota Buru Sergap (Buser) Kepolisian Resor (Polres) Kendari, yang terlibat dalam penangkapan Abdul Jalil Arkam (26).
Sayang, pihak polda masih merahasiakan dua nama oknum tersebut, dengan alasannya demi keamanan anggota yang bersangkutan dan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.
“Setelah kami melakukan periksaan 13 orang saksi, dua orang kami tahan. Kita tangani secara objektif dan professional, dan saat ini masih pengembangan pidananya, masih kita gali,” terang Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Sultra Komisaris Besar Polisi (Kombespol) Agus Sadono, saat ditemui usai menyaksikan proses autopsi jenazah Jalil di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kelurahan Tobimeita Kecamatan Abeli, Sabtu (18/6).
Agus menyebut, satu dari dua oknum anggota tersebut bakal dikenakan sanksi disiplin. Dan, lanjut dia, kini pihaknya masih akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah tindakan yang dilakukan dua oknum tersebut sudah sesuai standar operasional prosedur (SOP) atau tidak, dan akan dikaitkan dengan hasil autopsi.
Di tempat yang sama, Kepala Bidang Profesi dan Pengamanan (Kabidpropam) Polda Sultra Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Agoeng Adi Koerniawan mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan apakah kedua oknum tersebut bakal dipecat atau tidak. Karena, alas dia, aturan proses disiplin dan kode etik akan dilakukan setelah ada putusan pengadilan.
“Sidang kode etik itu setelah ada bunyi putusan, itu aturannya. Terkait pemecatan dari disiplin dan kode etik kita masih pilah-pilah, kita tidak mau salah dalam memutuskan, masih diperiksa mereka, nanti sajalah, kami akan beritahu kok,” ujarnya.
Berkait nama dua oknum anggota yang diamankan tersebut, Agung, enggan memberitahu kepada awak media, meskipun hanya inisial saja.
Hngga kini, proses penyelidikan terhadap meninggalnya Jalil masih terus berjalan, pada Sabtu (18/6) jenazah Jalil harus digali dari kuburan untuk dilakukan autopsi. Itu dimkasudkan untuk mengetahui secara pasti penyebab meninggalnya pegawai honorer Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sultra tersebut.
Sebanyak lima orang dokter forensik (dokfor) dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar bersama dengan beberapa dokter dari Bidang Kedokteran Kesehatan (Biddokes) Polda Sultra dilibatkan dalam proses autopsi, karena pihak keluarga menduga kematian Jalil meninggal dalam kondisi tidak wajar.
Penasihat hukum Jalil, Anselmus AR Masiku, yang ikut menyaksikan pembongkaran makam Jalil untuk dilakukan autopsi mengungkapkan, atopsi memang sangat diperlukan, untuk mengungkap penyebab pasti kematian Jalil.
“Hari ini dilakukan autopsi untuk mengetahui penyebab pasti kematian Jalil. Kalau memang ditemukan tindak pidana maka akan diproses secara hukum, agar tidak ada lagi spekulasi yang dilakukan aparat kepolisian,” kata pria yang akrab disapa Ansel ini.
“Banyak luka lebam yang ada di tubuh Jalil. Pokoknya hampir seluruh tubuhnya ada (luka lebam, red), dari kepala sampai ke kaki,” ungkapnya.
Sementara itu, Kabidpropam mengaku, pengambilan dokter forensik dari luar Sultra itu dilakukan, agar proses autopsi berjalan netral dan tanpa spekulasi.
“Kami menyarankan untuk mengambil tim dokter dari luar Polda Sultra biar netral dan untuk menghindari spekulasi,” kata Agoeng.
Kematian Jalil ini juga mengundang perhatian dari Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Sultra. Pasalnya, Jalil adalah alumni jurusan keperawatan angkatan 2012.
Ketua DPW PPNI Sultra Harianto SKM mengatakan, pihaknya sangat mendukung kematian Jalil diproses secara hukum. Dan, pihaknya akan mengawal serta ikut mengadvokasi penanganan kasus tersebut.
“Kami sudah menurunkan tim guna melakukan investigasi. Kami punya bidang hukum, bertugas untuk mengadvokasi setiap anggota organisasi PPNI yang tengah ditimpa masalah, kami sebagai pengurus DPW PPNI Sultra akan membantu mengawal kasus ini hingga sejauh mana perkembangannya,” uja­r Harianto, Jumat (17/6) malam.
Masih kata dia, pengurus DPW PPNI Sultra akan berkoordinasi dengan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPNI di Jakarta, untuk mem-back up kasus ini. Selanjutnya akan melakukan pertemuan dengan Kapolda Sultra secara langsung. (p4-p5/a/kas)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top