Beranda

Gerakan Mahasiswa Tak Lagi Didasari Nilai Ideal

Suasana kegiatan Dialog Kelembagaan yang diselenggarakan Sultra Demo bekerja sama dengan Jaringan Indonesia, Jumat (17/06).

Suasana kegiatan Dialog Kelembagaan yang diselenggarakan Sultra Demo bekerja sama dengan Jaringan Indonesia, Jumat (17/06).

Sultra Demo Gelar Dialog Soal Kekerasan Saat Unjuk Rasa

KENDARI, BKK – Pola pergerakan mahasiswa saat cenderung berubah mengikuti perkembangan zaman, yakni tidak lagi didasarkan pada nilai-nilai yang ideal tetapi lebih didasarkan pada mencari popularitas dan cenderung terpolarisasi pada kepentingan politik sesaat.
Pendapat ini mengemuka dalam diskusi bertajuk “Pola pergerakan  mahasiswa dalam mencegah prilaku kekerasan saat penyampaian tuntutan dalam unjuk rasa”,  berlangsung di Warkop eSWe Kemaraya Kendari, Jumat (17/6) sore.
Kegiatan dialog tersebut diselenggarakan Organisasi Nonpemerintah (Ornop) Sulawesi Tenggara Monitoring Demokrasi (Sultra Demo) bekerjasama dengan Jaringan Indonesia (JARI) dipandu moderator jurnalis senior Harian Berita Kota Kendari Jumwal Shaleh.
Dialog menghadirkan  tiga nara sumber yakni Drs Hamdani Piabang dari Badan Kesbangpollinmas  Provinsi Sultra, M Djufri Rachim MSi (Dekan Fisipol Universitas Nahdatul Ulama Sultra), dan La Ode Umar Bonte Ssi mantan Ketua Umum Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Unhalu  yang kini menjadi anggota DPRD Kota Kendari.
Hamdani Piabang mengatakan, dari pandangan Kesbangpol, gerakan mahasiswa bukanlah gerakan yang dikategorikan yang membahayakan bangsa dan negara, hanya saja gerakan mahasiswa bisa saja ditunggangi kepentingan tertentu yang bisa menimbulkan instabilitas khususnya di daerah.
“Bagi kami gerakan-gerakan mahasiswa hingga saat ini belum dikategorikan perlu diwaspadai, kecuali ormas-ormas yang memang membawa idelogi yang bertentangan dengan pancasila norma-norma agama, seperti Gafatar,” kata Hamdani menjabat sebagai Kepala Bidang di Kesbangpol Sultra.
Namun demkian Hamdani menghimbau agar kalangan mahasiswa dalam melakukan aksi-aksinya untuk menghindari aksi-aksi anarkis, karena aksi seperti itu dapat menganggu ketertiban umum.
Sementara itu Dekan Fisipol Unusra M Djufri Rachim MSi menyatakan, dalam perkembangannya pergerakan mahasiswa selalu memiliki  dampak yang besar dalam kehidupan kebangsaan di Indonesia. Sebab dalam perjalanan sejarah Indonesia, gerakan mahasiswa berperan aktif dalam pergantian rezim pemerintahan mulai dari tahun 1966 hingga 1998.
“Harus diakui bahwa gerakan mahasiswa adalah salah satu kekuatan dalam mendobrak perubahan. Mahasiswa memiliki peran seperti direct change, agent of chage, iron stock, moral force dan kontrol sosial,” kata Djufri Rachim.
Djufri juga mengakui bahwa akhir-akhir gerakan mahasiswa terjadi pergeseran nilai akibat kebebasan yang berlebihan, akibatnya dalam gerakan mereka bukan lagi berdasarkan isu-isu kepentingan umum di masyarakat. Sehingga, katanya, masyarakat justru tidak care lagi dengan gerakan-gerakan mahasiswa.
Untuk mengatasi masalah ini, menurut Djufri maka gerakan mahasiswa perlu dibingkai dalam koridor tri dharma perguruan tinggi, yakni diarahkan pada kegiatan-kegiatan positif berbentuk pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
Sedangkan Umar Bonte menjelaskan hasil pandangannya,  pergerakan mahasiswa saat ini berubah orientasi yakni hanya sekedar mengejar popularitas dan pada akhirnya terjebak pada aksi yang pragmatis.
“Sangat jarang saat ini aksi-aksi mahasiswa dilahirkan dari isu-isu dari tengah masyarakat seperti keadilan atau ketertindasan. Tetapi menggelar aksi hanya untuk mengejar popularitas. Ironisnya, aksi-aksi mereka menjadi terbelah-belah, karena masing-masing individu bersaing untuk menjadi sebagai,” katanya.
Soal aksi anarkisme menurut Umar sebenarnya itu hanya dilakukan sebagian kecil kelompok mahasiswa. Namun demikian hal ini tidak boleh sepenuhnya disalahkan kepada mahasiswanya, tetapi juga para pemangku kepentingan terkadang abai dengan tuntutan mahasiswa.
“Sebenarnya kelompok-kelompok yang cenderung anarkis di bangsa ini saat ini adalah kelompok yang berusaha memaksakan kehendeknya atau ideloginya. Kelompo ini lahir pasca reformasi yang cenderung bebas,” katanya.
Umar yang saat ini duduk sebagai anggota DPRD Kota Kendari menawarkan solusi perlunya penanaman nilai-nilai bukan hanya demokrasi dan sosilogis dalam gerakan mahasiswa, tetapi yang terpenting juga adalah nilai-nilai religius.
Dalam acara dialog itu juga muncul beberapa tanggapan dari aktif pemuda dan mahasiswa yang menjadi peserta kegiatan yang jumlahnya sekitar 100 orang.
Kegiatan dialog yang dibuka Koordinator JARI Zainal Abidin itu ditutup dengan acara buka uasa bersama. (jie)

To Top