Kasuistika

Polda Gelar Perkara Penentuan Tersangka Kasus Korupsi Pengadaan Bibit Fiktif di Konut

KENDARI, BKK – Penyidik Tindak Tidana Korupsi (Tipikor) Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra), hari ini akan melakukan gelar perkara untuk menentukan tersangka secara remi kasus dugaan korupsi pengadaan fiktif bibit di Dinas Kehutana (Dishut) Konawe Utara (Konut) 2015.
Sebelumnya penyidik telah menyebut dua calon tersangka, yakni Kadishut Konut berinisial AS dan pejabat pembuat komitmen (PPK) berinisial Mu.
“Rencana besok (hari ini, red) akan digelar unruk menetukan tersangka secara resmi, ‘ ujar Kepala Subbidang (Kasubbid) Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PID) Humas Polda Sultra Komisaris Polisi (Kompol) Dolfi Kumaseh, Kamis (16/6).
Sebelumnya, kata perwira polisi dengan satu melati di pundak ini, penyidik meningkatkan status kasus tersebut dari penyelidikan ke tahap penyidikan, setelah menemukan tiga alat bukti sah.
Namun, sebelum keduanya diperiksa sebagai tersangka, aturannya penyidik harus terlebih dulu melakukan gelar perkara. Dan, disitu juga akan langsung ditentukan waktu pemanggilan keduanya.
Diketahui, dalam kasus dugaan korupsi pengadaan fiktif bibit jati, eboni, dan bayam pada 2015, dengan total anggaran lebih dari Rp 1,1 miliar. Dan, meski belum secara resmi dilakukan audit, namun dari hasil ekspos bersama Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) telah menemukan indikasi kerugian negara sebesar Rp 700 juta.
Khusus pengadaan bibit dan penanaman jati, terjadi perbedaan besaran anggaran dalam kontrak dan daftar pagu anggaran (DPA). Dimana, dalam kontrak tertera anggaran sebesar Rp 879 juta, sementara dalam DPA berjumlah Rp 1,176 miliar.
Berarti sisa dari itu selisi anggaran dalam kontrak dan DPA diselewengkan. Lalu ada ketidak jelasan mekanisme pencairan dana. Dimana, dananya telah telah dicairkan 100 persen tetapi pengadaannya fiktif.
Khsusu untuk pengadaan Eboni dan Bayam jelas sudah diduga kuat fiktif. Pasalnya, harusnya yang diadakan Eboni dan Bayam masing-masing sebanyak 2.750 bibit. Namun, kenyataannya hanya diadakan bibit Eboni sebanyak 2.750. Bibit Bayam tidak lagi diadakan, sehingga sebanyak 2.750 bibit Eboni dianggap fiktif.
Sementara bibit jati yang seharusnya diserahkan dan dinikmati masyarakat, malah ditanan pada tiga lahan milik pejabat Konut. (kas)

To Top