Anak Ini sudah Delapan Tahun Buang Hajat Lewat Dada, Butuh Perhatian Kita – Berita Kota Kendari –
Aktualita

Anak Ini sudah Delapan Tahun Buang Hajat Lewat Dada, Butuh Perhatian Kita

Didampingi ibunya, Hayati, Tri Urif Lestari (10) memperlihatkan lubang di antara dada dan perutnya yang berfungsi sebagai tempat pembuangan kotoran.

Didampingi ibunya, Hayati, Tri Urif Lestari (10) memperlihatkan lubang di antara dada dan perutnya yang berfungsi sebagai tempat pembuangan kotoran.

KOLAKA, BKK– Kemiskinan membuat keluarga ini hanya bisa pasrah dengan nasib putrinya. Selama delapan tahun terakhir, Tri Urif Lestari (10 tahun), menjalani hidup dengan anus yang tidak normal. Untuk keperluan buang hajat, harus melalui lubang rekayasa medis yang dibuat di antara dada dan perutnya.

Saat ditemui Berita Kota Kendari di kediamannya, sebuah kamar kos yang sempit di Jl Slamet Riyadi, Kelurahan Watuliandu, Kecamatan Kolaka, Kamis (16/6), Tri tampak berbaring di atas dipan papan beralas kasur tipis. Ditemani ibunya, Hayati, gadis kecil itu kemudian menyingkap bajunya dan memperlihatkan sebuah lubang bekas operasi di bawah dadanya.
Menurut Hayati, Tri memang terlahir dengan kondisi fisik yang kurang sempurna. Dia tidak memiliki anus.
Saat usianya dua tahun, Tri sempat mendapatkan bantuan dari H Buhari Matta saat menjadi Bupati Kolaka. Saat itu, Buhari membiayai operasi Tri di RSUP Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Tim dokter kemudian membuatkan saluran pembuangan di antara dada dan perutnya.
Seharusnya Tri kembali menjalani operasi kedua untuk menutup lubang di dadanya dan memfungsikan saluran anus. Namun karena tak ada biaya, kedua orang tuanya pun hanya bisa pasrah. Sejak saat itu, delapan tahun yang lalu, Tri akhirnya menjalani kehidupan yang tidak normal, lantaran hajatnya keluar bukan melalui tempatnya.
Hayati menuturkan, anak ketiganya ini pernah sekolah di SDN ?2 Indumo, tapi hanya sampai kelas dua. Tri berhenti karena malu akan keadaannya. Setelah berhenti sekolah, Tri lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bermain bersama adiknya.
Di usianya yang sudah genap 10 tahun, setiap beraktivitas, Tri selalu menggunakan kain gurita, kain pelapis yang biasa digunakan oleh bayi yang baru lahir. Kain tersebut diikatkan di dadanya untuk menampung kotoran yang keluar.
“Kalau dimandi dan dibuka guritanya, di situ kita baru lihat ada kotorannya,” kata Hayati kepada Berita Kota Kendari, Kamis (16/6)
Hayati sangat ingin melihat anaknya normal seperti kebanyakan anak seusianya. Namun kemiskinan membuatnya tak berdaya.
Keluarga yang berasal dari Jawa Barat ini memang hanya mengandalkan jerih payah sang ayah. Ayah Tri, Anton, hanya bekerja di penggilingan daging di Pasar Raya Mekongga Kolaka dengan penghasilan Rp 700 ribu per bulan.         Gambaran kemiskinan yang dialami Tri dan keluarganya nampak jelas dari huniannya. Tri dan keluarganya menghuni kos yang sempit berukuran 2 x 3 meter di Jl Slamet Riyadi, Kelurahan Watuliandu, Kecamatan Kolaka. Kamar sempit itu dihuni lima orang, yakni Tri, kedua orangtua dan dua saudaranya yang masih kecil.
“Dulu berenam
. Tapi yang sulung sudah menikah dan tinggal di luar,” kata Hayati.
Kondisi kamar kos tersebut jauh dari kata layak. Di kamar yang sempit tersebut, sudah merangkap sebagai tempat istirahat, memasak dan kamar mandi yang dipisahkan oleh tirai kain.
Kamar tersebut semakin sesak dengan adanya tiga dipan sebagai tempat beristirahat. Dua dipan tunggal dan satu lagi dipan bersusun. Salah satu dipan tunggal dipakai Tri, satu untuk dua orangtuanya dan ranjang bertingkat untuk kedua saudaranya.
“Kalau hujan, air biasa menetes masuk. Jadi anak-anak biasa sulit tidur kalau turun hujan,” kata Hayati.
Kamar itu disewa keluarga ini sebesar Rp 200.000 per bulan. Praktis sisa gaji Anton hanya Rp 500.000 digunakan secukupnya untuk menutupi kebutuhan lainnya, terutama makanan dan keperluan khusus bagi Tri. Jumlah itu jelas jauh dari memadai.
Tri Urif sendiri juga ingin hidup dengan normal. Namun dengan kondisinya saat ini, membuat gadis kecil tersebut malu untuk bersosialisasi dengan orang lain.
“Maluka om,” kata Tri dengan lugu.

Hayati hanya berharap, suatu saat nanti, ada dermawan yang mau menolong anaknya. Supaya Tri bisa menatap masa depannya, dan ikut membantu keluarganya keluar dari jerat kemiskinan.

Di tempat sama, Kepala Lingkungan II Watuliandu, Agus Mahamudu mengungkapkan, sebagai kepala lingkungan, dirinya hanya bisa membantu keluarga miskin ini dengan menguruskan Kartu BPJS Kesehatan. Namun diakuinya, BPJS saja tidak cukup untuk menangani operasi lanjutan di RS Wahidin Sudirohusodo.
Meski mungkin operasinya ditanggung BPJS Kesehatan, tetap saja keluarga ini butuh biaya transportasi ke Makassar. Dengan pendapatan Anton saat ini, hampir mustahil bagi keluarga ini membiayai transportasinya ke Makassar.     “Belum lagi kalau ada obat yang harus dibeli karena tidak masuk dalam BPJS. Serta makanannya selama di sana,” katanya.    Karena itu, Agus juga hanya bisa berharap keluarga tersebut bisa mendapatkan bantuan, baik dari pemerintah maupun masyarakat.
“Anak ini harus kita bantu bersama,” pesannya. (Armin Arsyad)

kayseri escort eskişehir escort porn
To Top