Aktualita

Umar Arsal Safari Ramadan Sambil Sosialisasi Empat Pilar

Umar 1

KENDARI, BKK – Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Umar Arsal, terus melakukan kegiatan rutinnya di setiap Bulan Suci Ramadan. Kali ini dibarengi dengan melakukan sosialisasi empat pilar kebangsaan kepada masyarakat.
Dalam setiap berdialog, Umar Arsal lebih menekankan tentang Empat pillar MPR dalam rangka membumikan Pancasila, Undang–Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika di Kendari.
Anggota DPR-RI Dapil Sultra itu rutin melakukan sosialisasi Empat Pillar di Dapilnya hampir setiap kunjungan kerja reses  bulanan sebagai manifestasi tanggung jawabnya selaku anggota MPR dan wakil rakyat dari Sultra, dengan harapan seluruh penyelenggara pemerintahan dan pembangunan di daerah dilaksanakan dengan mengedepankan nilai yang sejalan dengan Pancasila, Undang–Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan republik Indonesia ( NKRI ), dan Bhineka Tunggal Ika.
Kader partai besutan SBY itu, mengatakan, terdapat empat pendekatan untuk menjaga empat pillar kebangsaan yang terdiri dari Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keempat pendekatan tersebut diperkuat dengan pendekatan kultural, edukatif, hukum, dan struktural, sangat dibutuhkan karena saat ini pemahaman generasi muda terhadap empat pilar telah menipis.
Pendekatan kultural adalah dengan memperkenalkan lebih mendalam tentang budaya dan kearifan lokal kepada generasi muda. Hal itu dibutuhkan dalam upaya pembangunan oleh generasi muda di masa yang akan datang tetap mengedepankan nilai dan norma dalam budaya bangsa yang luhur.  Tepatnya pembangunan adalah harus memperhatikan potensi dan kekayaan budaya di daerah tanpa menafikkan adat istiadat yang berlaku.
“Generasi muda kekinian adalah harapan bangsa, calon pemimpin bangsa, harus paham norma dan budaya leluhurnya. Sehingga dengan demikian di masa yang akan datang tidak hanya membangun infrastruktur  modern, akan tetapi akan mampu mensejahterakan masyarakat,” katanya.
Lebih lanjut, petinggi Demokrat ini menjelaskan, pendekatan edukatif perlu karena saat ini sangat marak aksi kriminal, marak paham yang menyimpang dari ideologi bangsa ada tawuran, pencurian, bahkan pembunuhan. Kebanyakan aksi tersebut terjadi saat remaja berada di luar sekolah maupun di luar rumah.
Oleh karenanya, kata dia, perlunya pendidikan diantara kedua lembaga ini. Dirumah kelakuannya baik di sekolah juga baik namun disayangkan, para orang tua harus mencarikan wadah yang tepat bagi generasinya yang tepat untuk memaknai, mengamalkan nilai empat pilar etika berbangsa dan bernegara, misalnya melalui pesantren kilat, pramuka, KNPI, dan lainnya.
Sedangkan pendekatan hukum, lanjut dia, dengan segala tindakan kekerasan dalam bentuk apapun harus ditindak dengan tegas tanpa pandang bulu, seperti tawuran remaja, yang banyak terjadi akhir–akhir ini. Norma hukum, kata dia, harus ditegakkan agar berfungsi efektif sehingga menimbulkan efek jera bagi pelaku kriminal sekaligus menjadi pelajaran referensi bagi yang lainnya.
Kemudian, lanjut dia, pendekatan struktural. Empat pilar itu perlu terus diingatkan oleh pejabat diseluruh tingkatan mulai dari tingkat Ketua Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), Kepala Desa, Camat, Bupati, dan Gubernur hingga pejabat negara.
Solusi menjawab krisis moral saat ini melalui pendidikan kewarganegaraan atau mengembalikan pelajaran Pendidikan Moral Pancasila disetiap sekolah sebagai bentuk dan tanggung jawab semua pihak.
Usai memberikan ceramah empat pilar, Umar Arsal, selanjutnya memberikan hadiah dan bingkisan kepada seluruh peserta buka puasa bersama indahnya berbagi bersama Umar Arsal, Bingkisan itu berupa buku emppat pilar, buku yasin dan tahlil, sarung, mukenah, gula, susu, dan jenis sembako lainnya.
Tidak lupa, Umar Arsal mengajak kepada segenap kader Demokrat di Sulawesi Tenggara khususnya Anggota DPRD kabupaten dan kota untuk melakukan safari dan memberikan sebagian hartanya di momen teraik untuk bersedekah, bukan di momen politik pilleg, atau pilkada, dalam rangka mencari perhatian Allah SWT dan bukan perhatian publik untuk sanjungan dan simpatik politik. (rls)

To Top