Jika NA Jadi Mundur, Jadi Ancaman PAN – Berita Kota Kendari
Suksesi

Jika NA Jadi Mundur, Jadi Ancaman PAN

KENDARI, BKK – Terpilihnya Samsu Umar Samiun sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Sulawesi Tenggara (Sultra) belum meredam konflik internal partai.

Mundurnya Nur Alam dari kepengurusan partai berlambang matahari terbit, dinilai oleh pengamat menjadi ancaman tersendiri bagi perjalanan partai ini ke depan. Sebab, selama 15 tahun, Nur Alam telah membesarkan dan “membirukan” Sultra dari bendera Golkar.

“Saya lihat, masih ada problem di internal PAN. Masih ada faksi terjadi dan ini akan mengganggu perjalanan partai ini,” terang pengamat politik Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari Eka Suaib, Minggu (12/6).

Meski tidak menyebutkan alasannya mundur dari PAN, Nur Alam menolak seluruh tawaran posisi yang diberikan DPP PAN, termasuk sebagai Wakil Ketua DPP maupun Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) DPW PAN Sultra.

Menurut Eka, alasan Nur Alam ini cukup rasional. Namun, ia berharap untuk meminimalisir konflik internal, dibutuhkan kerja keras dari Umar Samiun untuk meyakinkan Nur Alam termasuk DPP.

“Apa pun keputusan DPP, itu sudah final,” kata Eka.

Jika Nur Alam resmi keluar dari PAN, lanjut Eka, maka akan menjadi ancaman serius bagi perjalanan partai tersebut. Sebab, sejauh ini Umar Samiun yang nakhodai partai, tidak akan mampu menyamai kesuksesan Nur Alam.

Sebab, selama ini PAN dibangun bukan pada faktor ideologinya tetapi karena program pemerintah yang diboncengi tokohnya seperti Nur Alam.

“Kalau ketua PAN tidak dipegang oleh tokoh selevel gubernur, pasti akan turun elektabilitasnya. Nur Alam yang membesarkan partai selama ini. Jadi, kalau Nur Alam keluar, maka kerugian buat PAN,” tuturnya.

Mundurnya Nur Alam dari PAN, belum diyakini oleh beberapa kader. Ketua DPRD Sultra Abdurrahman Saleh mengaku masih akan mengecek kembali pernyataan Nur Alam itu.

“Saya kroscek dulu pernyataannya karena masih simpang siur antara jawaban dan pertanyaan (wartawan, red) sebelumnya,” katanya.

Namun, Rahman menolak memberikan pernyataan bila keputusan Nur Alam itu sudah tepat atau tidak.

Senada dengan Rahman, Ketua DPRD Kota Kendari Abdul Rasak menilai belum ada yang pasti tentang keputusan Nur Alam ini.

“Pernyataan itu juga belum tahu secara pasti,” ungkapnya.

Menurut Rasak, PAN baru selesai menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) dan sudah ada keputusan DPP. Ia menilai, pascakeputusan DPP itu, suasana di PAN masih dalam situasi belum pasti atau masih transisi.

“Namun, pasti pak Nur Alam pikirkan secara matang. Beliau itu adalah pendiri PAN di Sultra,” jelasnya.

Dari segi kekaderan, Rasak tidak yakin Nur Alam mundur dari PAN.

“Tapi saya tidak tahu pertimbangan lain,” katanya.

Pascakeputusan DPP, Rasak mengaku pernah berkomunikasi dengan Nur Alam, tetapi dalam urusan pemerintahan. Namun, Rasak mengaku kaget dan menyayangkan mengetahui kabar mundurnya Nur Alam dari partai.

“Sangat disayangkan karena selama ini beliau pendiri yang bekerja keras dan bekerja kuat. Kita harap, tidak terjadi,” harapnya.

Bila PAN kehilangan Nur Alam, sebut Rasak, akan menjadi kerugian partai. Sebab, Gubernur Sultra itu kader yang handal. (pas/jie)

Click to comment
To Top