Propam Periksa Sedikitnya 12 Saksi – Berita Kota Kendari
Kasuistika

Propam Periksa Sedikitnya 12 Saksi

KENDARI, BKK – Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) telah memeriksa sedikitnya 12 orang saksi dalam kasus meninggalnya Abdul Jalil (26).

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabidhumas) Polda Sultra Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Sunarto, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/6), mengatakan, saksi itu terdiri dari lima oknum anggota polisi yang melakukan penangkapan terhadap korban dan tujuh saksi lain yang merupakan keluarga korban. Itu merupakan respons kepolisian dari laporan keluarga korban ke Bidang Propam Polda Sultra.
Ditanya mengenai jumlah anggota yang melakukan penangkapan, polisi yang akrab disapa Narto ini mengaku belum mengetahuinya secara pasti. “Nanti saya coba konfirmasi lagi mengenai jumlah anggota yang menangkap,” kata perwira polisi dengan dua melati di pundak ini.
Narto mengatakan, dari informasi mereka terima, korban meninggal karena banyak mengeluarkan darah akibat ditembak pada betis kiri.
Sementara, mengenai tidak adanya surat perintah penangkapan yang dibawa petugas saat menangkap korban, menurut dia, surat penangkapan itu tidak harus selalu disiapkan karena tergantung situasi dan kondisi.
“Surat perintah penangkapan tidak harus disiapkan, tergantung situasi dan kondisinya. Kalau memang kondisinya siap atau sempat membuat surat perintah penangkapan, ya, dibuat. Tapi kalau kondisinya buru-buru jangan sampai pelaku melarikan diri, tidak harus (ada surat penangkapan, red),” jelas Narto.
Diungkapkan, Almarhum Abdul Jalil ditangkap karena diduga terlibat beberapa kasus pencurian dengan kekerasan (curas). Laporan polisi (LP)-nya ada di Kepolisian Sektor (Polsek) Mandonga dan Polsek Abeli.
Pada Kamis (9/6) kelurga korban yang didampingi Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kendari Anselmus AR Masiku mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Sultra untuk melaporkan pidana umumnya.
Ditemui disela-sela mendampingi kelurga korban, Anselmus mengatakan, kini keluarga korban telah membuat dua laporan. Yakni, laporan ke Propam untuk tindakan disiplin dan kode etik dan laporan untuk di hadapkan pada pidana umum.
“Yang harus diproses itu adalah penyebab meninggalnya korban. Karena sebesar apapun kesalahan korban tidak harus disiksa sampai mati,” tandasnya.
Menanggapi laporan itu, Narto menuturkan, semua laporan tetap akan ditindak lanjuti.
“Laporan tetap kita tindak lanjuti,” singkatnya. (kas/jie)

Click to comment
To Top