Jalil Sempat Diikat Pakai Tali Sepatu Ayahnya – Berita Kota Kendari
Kasuistika

Jalil Sempat Diikat Pakai Tali Sepatu Ayahnya

Ibu kandung Abdul Jalil, Rahmatia (jilbab hitam) saat mendatangi Kantor LBH Kendari, Kamis (9/6). (Foto: Rudy/BKK)

Ibu kandung Abdul Jalil, Rahmatia (jilbab hitam) saat mendatangi Kantor LBH Kendari, Kamis (9/6). (Foto: Rudy/BKK)

KENDARI, BKK – Suasana duka masih menyelimuti keluarga Abdul Jalil (26), korban kebringasan aparat Kepolisian Resor (Polres) Kendari. Ibu kandung Jalil, Rahmatia, tidak menyangka anaknya mendapat perlakuan keji aparat kepolisian yang notabene pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.
Ia mengaku akan terus melakukan upaya untuk mencari keadilan atas tewasnya sang anak. Saat ini, Rahmatia sudah meminta bantuan hukum kepada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kendari.
“Yang pasti saya akan terus mencari keadilan hingga ke tingkat yang paling tinggi. Saya akan terus mencari keadilan hukum pada kasus pembunuhan anak saya yang dilakukan aparat Polres Kendari,” katanya saat ditemui usai meminta bantuan dari LBH, Kamis (9/6).
Didampingi LBH Kendari, Rahmatia langsung ke Polda Sultra untuk melaporkan atas tindakan anggota aparat kepolisian yang telah melakukan penganiayaan terhadap anaknya. Rahmatia benar-benar terpukul atas kejadian ini. Ia tidak habis pikir kajadian ini akan berakhir tragis.
Rahmatia bercerita, pada malam penangkapan, Senin (6/6), sekitar pukul 00.00 Wita, sejumlah anggota polisi yang mengaku dari Polres Kendari datang langsung menggrebek rumahnya dan menangkap anaknya tanpa ada surat penangkapan.
Tragisnya, polisi membawa Jalil tidak memakai borgol tetapi kedua tangannya diikat dengan menggunakan tali sepatu milik ayahnya.
“Tidak ada surat penangkapannya saat saya tanya. Seharusnya menggunakan surat penangkapan. Selain itu saat sebelum anak saya dibawah anggota Polres Kendari, terlebih dahulu anak saya diikat pakai sepatu milik suami saya,” jelasnya, Kamis (9/6). Saat dirinya menanyakan kepada anggota kepolisian yang akan membawa Jalil, anggota kepolisian tidak memberitahu mengapa Jalil ditangkap.

“Saya sempat tanya sama itu polisi, kenapa anak saya ditangkap, mereka hanya bilang kami dari Polres Kendari, anak ibu tidak apa-apa hanya ada kejadian kemarin dia (Jalil,red) terlibat kasus penikaman di MTQ seminggu yang lalu,” lanjutnya.

Keesokan harinya, Selasa (7/6) sekitar pukul 10.00 Wita, Rahmatia berencana membesuk dan membawakan pakaian untuk Jalil ternyata dirinya mendapat informasi kalau Jalil telah meninggal dunia.

“Besoknya saya datang di Polres Kendari membawakan pakaian untuk Jalil, karena pada saat anak saya ditangkap sama anggota polisi tidak memakai baju hanya pakai celana bokser saja. Ternyata pas saya tiba di Polres Kendari, Kapolres langsung memanggil saya masuk ke dalam ruangannya dan menanyakan kepada saya, ibu ada riwayat sesak napas dan ginjal, saya langsung bantah, tidak ada pak memangnya kenapa? Kapolres kembali bertanya lagi, kalau bapak ada riwayat penyakit sesak napas dan ginjalnya? saya kembali jawab tidak ada kalau kakek saya dulu memang ada riwayat sesak napasnya. Dengan santainya itu Kapolres itu (penyakit ginjal) yang bikin anak ibu sudah tidak ada. Mendengar begitu dengan refleks saya bicara, anak saya dianiaya pak, anak saya dibunuh sama polisi. Kapolres langsung diam,” jelasnya.
“Saya yakin tidak bersalah, kalau memang betul bersalah, seharusnya tidak boleh dianiaya, hingga dibunuh secara keji seperti itu. Tanpa dilakukan pemeriksaan,” keluhnya.
Rahmatia tidak terima dengan pernyataan Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kendari, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Sigid Haryadi SIK yang mengatakan Jalil merupakan pelaku pembegalan dan pemerkosaan. Menurut dia, apa yang disampaikan Kapolres, fitnah.
“Itu (pelaku begal) tuduhan yang tidak masuk akal. Jalil itu saya selalu pantau. Tidak mungkin dia berbuat seperti itu, apalagi dia dituduh pemerkosa. Kemudian pernyataan Kapolres Kendari yang mengatakan anak saya meninggal karena sesak napas dan riwayat ginjal itu juga bohong. Anak saya tidak menderita penyakit seperti yang dituduhkan itu. Saat Kapolres Kendari bertemu saya dan memberitahukan kepada saya kalau Jalil sudah tidak ada dengan spontan saya katakan Jalil itu dibunuh,” simpulnya.
Direktur LBH Kendari, Anselmus AR Masiku, mengatakan, pihaknya akan terus mendampingi dan akan mempresur kinerja kepolisian.
“Kami akan terus dampingi dan mempresur kinerja profesional anggota kepolisian, jika ada tindakan pidana di situ maka kami meminta kepada Polda Sultra untuk mengusut kasus ini sampai tuntas, tidak usah melindungi apalagi sampai menutup-nutupi kasus pembunuhan ini,” pungkasnya. (p5/c/jie)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top