Kasuistika

Honorer BNNP Sultra Meninggal Dalam Sel

Polisi Tembak warga

Diduga Dianiaya Oknum Polisi Saat Penangkapan

KENDARI, BKK – Salah seorang pegawai honorer Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulawesi Tenggara (Sultra) Abdul Jalil (26) meninggal dalam sel tahanan Kepolisian Resor (Polres) Kendari.
Warga Kelurahan Tobimeita, Kecamatan Abeli, tersebut meregang nyawa setelah beberapa jam tim buru sergap (Buser) Polres Kendari melakukan penangkapan yang disertai penembakan pada betis korban.
Korban ditangkap di rumahnya pada Selasa (7/6) sekitar pukul 00.00 Wita. Kabarnya, Jalil disebut terlibat dalam kejahatan jambret. Itu berdasarkan pengakuan dari tersangka Ambang yang tidak lain juga tetangga korban.
Pantauan jurnalis koran ini di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Kendari pada Selasa (9/6) pagi, keluarga korban tak kuasa menahan tangis dan emosi saat menyaksikan Jalil terbaring kaku tak bernyawa di kamar jenazah RS Bhayangkara Kendari.
Bukan hanya itu, kerabat atau teman-teman satu kantor Jalil juga turut meneteskaan air mata melihat teman mereka yang dikenal pendiam meregang nyawa setelah ditangkap polisi.
Adik korban, Zahra, dengan reaksi kesedihan tanpa takut menyebut, bahwa kakaknya itu meninggal akibat dianiaya polisi setelah penangkapan. Karena menurut dia, jika hanya ditembak pada betis tidak mungkin meninggal.
Itu terbukti, pada wajah bagian dua mata korban bengkak disertai dengan tanda biru, yang memungkinkan akibat mengalami penyiksaan dari oknum polisi yang menangkapnya kala itu.
Zahra yang tidak kuat menahan rasa kekesalannya terhadap polisi yang menangkap kakaknya sempat menendang pintu kamar jenazah RS Bhayangkara sambil mengeluarkan kata-kata kasar yang ditujukan pada polisi.
“Komorang bunuh kakaku, dibunuh, ditembak. Mereka (polisi, red) tidak mau tangkap bae-bae, polisi bukan mengayongi tapi membunuh. Coba kasih muncul itu mukanya polisi yang tangkap tadi malam (Selasa, red), kakakku langsung diikat, sudah diikat dibunuh lagi,” teriak Zahra, sambil menangis di RS Bhayangkara.
“Biru-biru matanya, bengkak dua-duanya. Kalau hanya tembak kaki tidak mungkin mati,” tambahnya, dengan nada kesal bercampur emosi dan kesedihan.
Sementara itu, ibu korban, Rahmatia mengungkapkan, saat penangkapan anaknya, polisi tidak memiliki surat perintah penangkapan yang diperlihatkan ke pihak keluarga.
Anehnya lagi, kata dia, anaknya ditangkap di rumahnya pukul 00.00 Wita, tapi tiba di Mapolres Kendari nanti sekitar pukul 05.00 Wita. Selang dari waktu itu, sebut Rahmatia, anaknya dibawa dimana.
Rahmatia menambahkan, kematian anaknya tidak wajar. Ia memastikan anaknya dibunuh dengan cara disiksa, karena di sekujur tubuhnya ditemukan luka dan lebam.
“Ditangkap tidak ada surat penangkapan. Ditangkap jam 00.00 Wita, tapi nanti jam 05.00 Wita baru tiba di polres, selang waktu itu dimana dibawa anakku. Pasti anakku dibunuh, hancur badannya anakku, hancur disiksa polisi,” katanya.
Di tempat terpisah, Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kendari Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Sigid Haryadi SIK mengatakan, korban ditangkap karena terlibat kasus kejahatan.
Sayang, saat ditanya jenis kejahatan yang dilakukan korban, Sigid, enggan membeberkannya. Alasannya, karena keluarga korban masih sementara berduka dan jangan sampai menyakiti hati keluarga korban.
“Dia (Jalil, red) meninggal dalam sel. Intinya ditangkap karena terlibat kasus kejahatan,” ujar perwira polisi dengan dua melati ini, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (8/6).
Masih kata Sigid, kini pihaknya telah membentuk dua tim untuk penyelidikan kasus tersebut. Tim pertama yang dipimpin Wakil Kepala Kepolisian Resor (Wakapolres) Komisaris Polisi (Kompol) Lerry Tutu SIK, akan melakukan penyelidikan mengenai meninggalnya korban.
Sementara, tim kedua yang dipimpin Kepala Bagian Operasi (Kabagops) Polres Kendari Kompol Febri, akan melakukan penyelidikan mengenai kasus keterlibatan korban. (kas/jie)

To Top