Puasa dan Transformasi Ruhani – Berita Kota Kendari
Hikmah

Puasa dan Transformasi Ruhani

Makmur Ibnu Hadjar

Makmur Ibnu Hadjar

Oleh: Makmur Ibnu Hadjar*

 Ibadah puasa ramadhan yang sedang kita tunaikan saat ini, adalah perintah langsung dari ALLAH SWT, dan hukumnya wajib. Sama dengan ibadah sakralnya lainnya, seperti sholat fardu, perintahnya langsung dari langit, melaui Qur’an suci atau sunnah Rasulullah SAW. Setiap perintah ibadah pasti ada tujuannya. Tujuan ibadah (baca puasa), adalah untuk kepentingan yang menjalankan puasa itu, dan sebaliknya tidak ada tujuan dan kepentingan dari yang memberi perintah ibadah puasa itu, dalam hal ini ALLAH SWT.

Landasan referensi dan sekaligus prespektif kita di dalam memahami tujuan perintah ibadah puasa untuk kita laksanakan adalah, firman ALLAH SWT dalam Qur’an suci; “ Hai sekalian orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang yang terdahulu sebelum kamu supaya kamu bertaqwa” (Q.S:2:183). Ayat tersebut jelas, serta terang benderang bahwa tujuan perintah ibadah puasa agar pelaku ibadah puasa itu, yaitu orang-orang yang beriman menjadi “BERTAQWA”.

Pertanyaan kita kemudian, adalah apakah pemahaman substatif dari taqwa itu, dan apa prespektifnya, dalam konteks kedirian dan kehadiran manusia, baik sebagai mahluk sosial (karena memiliki potensi jasmani dan psikologis), ataupun sebagai mahluk spiritual (karena memiliki potensi ruh). Mari kita coba uraikan dalam kolom yang pendek ini secara parsial, kemudian kita rangkai menjadi konsep taqwa dalam prespektif yang utuh dalam konteks “manusia sebagai mahluk sosial dan manusia sebagai mahluk spritual.

Istilah taqwa yang lazim kita pahami selama ini, yakni dari sisi semantik, yaitu “takut kepada Allah”. Tentu saja itu tidak salah, akan tetapi makna substantifnya serta pesan prespektifnya kepada manusia yang beriman, sangatlah tidak memadai – hanya dengan pengertian semantik seperti itu. Makna substansi dari pada taqwa itu, sesungguhnya terletak pada kata “rabbaniyah”, yakni suatu kesadaran spiritual atau kesadaran yang melampaui batas “ruang dan waktu”, yakni kesadaran akan kehadiran ALLAH SWT, dalam laku muamalah (laku sosial) dan laku spiritual kita. Pengamalan spiritual akan kehadiran ALLAH tersebut, sungguh memberikan implikasi yang dahsyat bagi orang yang telah mencapai derajat taqwa (seperti yang menjadi tujuan ibadah puasa), yakni ; “ apabila disebut nama ALLAH tergetar hatinya, dan bila ayat-ayat ALLAH dibacakan kepada mereka bertambah kuat keimanannya” (Q.S:8:2). Resonansi (getaran) hati orang yang bertaqwa karena mendengar nama ALLAH, adalah pancaran resonansi dari percikan cayaha ALLAH, yang masing-masing ada di qalbu kita. Prosesi ibadah puasa adalah untuk mentrasformasi qalbu kita agar percikan cahaya ALLAH tersebut senantiasa mendominasi laku spiritual kita dan laku sosial kita (muamalah atau amal saleh). Perintang utama dari proses mengtrasformasi cahaya Ilahi adalah nafsu (al nafs). Menurut Roger Frager.PhD (seorang ahli tasauf berkebangsaan Amerika), Ada dua ancangan untuk mengendalikan nafsu; Pertama; berusaha untuk mentarsformasikannya atau merubahnya, dan Kedua; berusaha untuk mengalahkannya atau menundukkannya. Mentarsformasikan dan munundukkan nafsu, bukanlah perkara mudah. Diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dan konsisten, disamping itu harus dengan pertolongan ALLAH, disini diperlukan doa dan zikir. Harus lahir kesadaran trasedental dari kita, bahwa jika kita konsisten melaksanakan sholat fardu, kita ihlas menunaikan berpuasa dan lain sebagainya, esensinya bahwa itu adalah semata-mata rakhmat dan pertolongan ALLAH. Kekuatan dan kemauan untuk sholat dan puasa, buka lahir dari kekuatan kita an sich. Itulah maknanya panggilan azan, “hayya alash shaalah dan hayya alal falaah, kita jawab dengan “laa haula walaquwwata illabilla” (saya tidak ada daya (untuk sholat) kecuali atas pertolonganMU.

Untuk keperluan itulah ALLAH menghadirkan puasa ramadhan, sebagai karunia, sekaligus sebagai media dan momentum, untuk melatih mentarsformasikan dan munundukkan nafsu. Setiap kita yang tidak berhasil mentrasformasikan dan mengendalikan nafsu, maka kita cendrung menjadi manusia yang serakah, narsisisme (membagakan diri), tidak ada perasaan bersalah dalam merampas hak orang lain. Dalam konteks muamalah, yakni ibadah yang bisa diamati, maka konteks taqwa (orang dapat mentarsformasikan dan munundukkan nafsu), adalah orang yang bisa mengendalikan amarah, orang yang mudah memberi maaf, orang yang tangannya ringan menggapai tangan dhuafa dan orang tidak mampu, orang yang ihlas membangun jaringan sosial (silaturrahim). Kesemuanya indikasi itu dapat kit abaca dalam pesan suci ALLAH SWT dalam Al Qur’an, khususnya ayat-ayat awal Surat Al-Baqarah. Wallahuallambisawab.

*).Makmur Ibnu Hadjar ; Alumni UGM Yogyakarta dan Curtin University Of Technology, Perth.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top