Lagi, Berkas Direktur PT Daka Group Dikirim ke JPU – Berita Kota Kendari
Kasuistika

Lagi, Berkas Direktur PT Daka Group Dikirim ke JPU

KENDARI, BKK – Penyidik Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) kembali mengirim berkas perkara tahap satu Direktur PT Daka Group, Very Sukmanto.

Pelimpahan berkas tersebut dilakukan, Senin (6/6). Dan, dalam waktu 14 hari polisi menunggu hasil penelitian Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sultra.
Demikian diungkapakan, Kepala Subdirektorat (Kasubdit) IV Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sultra Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Hartono SIK, saat ditemui di ruang ketjanya, kemarin.

Rupanya direktur utama (Dirut) PT Daka Grup bernama Very masih mendekam di sel tahanana Rutan Polda Sultra. Tersangka kasus perambah kawasan hutan lindung ini belum diserahkan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sultra untuk proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Konawe.

Dijelaskan, pengiriman berkas tersbut dilakukan karena sebelumnya JPU masih menganggap berkasnya belum lengkap atau P-19, sehingga dikembalikan ke polisi disertai dengan petunjuk.

“Petunjuk JPU itu, meminta penyidik agar melampirkan bukti lelang ore nikel PT Daka Group. Dan itu kita sudah penuhi, sehingga kita kirim lagi hari ini (kemarin, red),” terang Hartono.

Perwira polisi dengan dua melati di pundak ini menyebut, bukti lampiran hasil lelang ore nikel yang telah diserahkan ke kas negara tersebut nantinya akan dijadikan sebagai alat bukti dipersidangan.

Hartono berharap, mudah-mudahan berkas Very sudah langsung dinyatakan lengkap atau P-21 oleh JPU, agar secepatnya diserahkan tersangka dan barang bukti atau tahap dua.

“Semoga langsung P-21, agar bisa cepat tahap dua. Sebenarnya prosesnya lama karena hasil lelang belum ada, dan itu harus dilampirkan ke berkas tahap satunya, makanya lama,” katanya.

Diketahui, perusahaan yang terletak di Desa Boedingie Kecamatan Lasolo Kabupaten Konawe Utara (Konut) terseret hukum, lantaran diduga melakukan penambangan di kawasan hutan produksi tanpa izin dari Menteri Kehutanan (Menhut). Penutupan tersebut dilakukan berdasarkan laporan polisi (LP) Nomor 608 tanggal 8 Desember 2015.

Sehingga, sehari setelah adanya LP, tepatnya 9 Desember 2015, polisi langsung turun melakukan penutupan sementara. Dalam kasus ini polisi menetaokan dua tersangka, yakni Very Sukmanto dan Kepala Teknik Tambang (KTT) Elius. (kas)

To Top