Ridwan Bae : Jangan Buat Masyarakat Muna Berkelahi – Berita Kota Kendari
Aktualita

Ridwan Bae : Jangan Buat Masyarakat Muna Berkelahi

KENDARI, BKK– Politisi dan tokoh masyarakat Muna, Ridwan Bae menyindir dengan keras para elit politik di Kabupaten Muna yang dinilainya telah mengorbankan kenyamanan warga demi meraih kekuasaan.

Anggota DPR RI ini mengaku sangat sedih dan bahkan sering menangis setiap kali mendapatkan informasi tentang perselisihan masyarakat Muna dalam masa Pilkada ini. Dia menuding perselisihan tersebut akibat pertikaian elit politik, khususnya dua pasangan calon, LM Rusman Emba-Malik Ditu (Rumah Kita) dan LM Baharuddin-La Pili (Dokter Pilihanku).
“Saya sampaikan ini dari hati saya yang paling dalam. Rusman dan Baharuddin, kalian itu mengejar jabatan di Muna, tapi bukan untuk berkelahikan masyarakat,” terang Ridwan ditemui di Kendari, akhir pekan lalu.
Ridwan yakin, jika saja kedua kubu ini mau sama-sama turun ke masyarakat, maka perselisihan pun bisa selesai dan masyarakat kembali melanjutkan kehidupannya dengan nyaman.
Sebagai mantan Bupati Muna dua periode, Ridwan merasakan kondisi di Muna saat ini sama ketika dia menjabat pada 2000 silam. Saat itu, kata dia, masyarakat Muna berkelompok. “Saat itu ada yang sering tawuran. Saat itu, sering genting-gentingan kaya sekarang ini,” katanya.
Enam bulan di awal jabatannya, Ridwan menemui seluruh kelompok yang bertikai. Dia menyimpulkan, perbedaan itu terjadi karena sulitnya apa yang dia sebut sebagai ruang kehidupan. Untuk mengurai konflik yang terjadi, Ridwan melapangkan kembali ruang kehidupan warga yang bertikai.
“Alhamdulillah, selama 10 tahun, saya pimpin Muna tidak ada keributan. Kecuali, orang habis minum dan kecelakaan,” paparnya.
Setelah meninggalkan Muna 2010, situasi sepuluh tahun lalu kembali terjadi. Konflik kembali muncul karena ruang kehidupan yang banyak bersentuhan dengan kepentingan ekonomi, tidak dijadikan prioritas oleh pemerintah.
“Padahal, peran bupati sangat dibutuhkan. Di Muna, lapangan kerja begitu sukar. Hal itu semua terabaikan sehingga lahirlah kondisi di Muna saat ini,” jelasnya.
Ia melanjutkan, polarisasi masyarakat ini terbawa hingga persoalan politik. Bila calon nomor urut satu menang, maka kelompok lain menganggap dirinya terancam kehilangan sumber kehidupannya.
“Begitupula menang nomor tiga maka nomor satu rasakan hal sama. Munculah konflik ini,” urainya.
Ia berharap, dua calon ini melupakan perbedaan mereka untuk meredam konflik yang terjadi. Jangan mengandalkan tokoh masyarakat karena masih bisa dipolitisir. Baiknya, kata Ridwan, dua paslon ini turun langsung meyakinkan masyarakat, bahwa siapa pun yang menang, yang kalah tidak akan terancam.
“Dua paslon ini menyampaikan kepada masyarakat, bahwa yang naik di antara kami, kalian akan menjadi perhatian kami. Bahasakan itu. Hentikan semua perbedaan yang ada,” sarannya dengan tegas.
Kepada masyarakat, Ridwan berpesan agar perbedaan pilihan jangan pernah diperdebatkan. Karena perdebatan seringkali memicu konflik. Di Muna, sebut dia, tidak ada orang lain.
“Dari kampung ujung satu bahasa kita sama. Di sana, semua keluarga. Saya berharap, masyarakat kita juga dapat menyadari dan menahan diri untuk tidak berbuat anarkis. Siapa pun yang jadi itu pemimpin di Muna,” tuturnya.
Khusus Penjabat (Pj) Bupati Muna Muhamad Zayat Kaimoeddin atau Derik, Ridwan berpesan agar jangan hanya diam. Dia berharap Derik bisa memfasilitasi perdamaian di antara dua elit yang berpolemik ini.
“Jangan hanya terima jabatan tapi tanggung jawab tidak dilakukan. Kalau bisa, Derik yang fasilitasi dua calon ini untuk bertemu,” tekannya.
“Selama ini, saya ke Muna diam-diam. Satu hari di rumah saya, langsung pulang lagi (ke Jakarta). Saya sedih saya lihat Muna. Saya hampir menangis,” tutupnya. (pas/aha)

Click to comment
To Top