Ratusan Guru se-Kota Kendari Hadiri Seminar Sehari – Berita Kota Kendari
Beranda

Ratusan Guru se-Kota Kendari Hadiri Seminar Sehari

Direktur Harian Berita Kota Kendari (BKK), Mahdar Tayong (kanan), saat memaparkan materinya kepada peserta seminar.(Nirwan/BKK)

Direktur Harian Berita Kota Kendari (BKK), Mahdar Tayong (kanan), saat memaparkan materinya kepada peserta seminar.(Nirwan/BKK)

KENDARI, BKK – Ratusan guru se-Kota Kendari menghadiri seminar sehari bertajuk ‘Peran Pers Dalam Mendukung Pendidikan dan Etika Jurnalis Dalam Melaksanakan Fungsinya,’ yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayan Kota Kendari bekerja sama dnegan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Tenggara, Harian Rakyat Sultra, dan Harian Berita Kota Kendari (BKK), Senin (30/05).

Tampil sebagai pemateri dalam kegiatan yang berlangsung di Gedung Pariwisata Sapta Pesona tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayan (Dikbud) Kota Kendari Makmur, Ketua PWI Sultra Sarjono, Direktur Harian Rakyat Sultra, H Abdul Haliq, dan Direktur Harian Berita Kota Mahdar.
Dalam materinya, Direktur Berita Kota Kendari (BKK), Mahdar memaparkan, pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalis.
“Selain itu, pers menjadi pilar keempat setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif,” ungkap Mahdar.
Selama ini, papar Mahdar, dari berbagai organisasi pers yang ada, yang diakui oleh dewan pers hingga saat ini hanya tiga yakni Persatuan wartawan indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI).
Fungsi pers, jelas Mahdar, terdiri dari lima, yakni, sebagai media informasi, sebagai kontrol sosial, sebagai media pendidikan, sebagai sumber hiburan, serta pers juga berfungsi sebagai lembaga ekonomi dan bisnis.
“Jika ada suatu berita yang berkait dengan dugaan korupsi, maka wartawan wajib melakukan kroscek kepada narasumber yang diduga korupsi. Sebab, jika pemberitaan itu tidak disertai dengan kroscek terlebih dahulu kepada narasumber yang bersangkutan maka menurut saya berita tersebut tidak layak untuk dinaikkan,” jelasnya.
Selain itu, kata Mahdar, media massa juga harus bisa mandiri dalam menyalurkan gaji kepada wartawannya, agar wartawanya tidak bergantung kepada narasumber.
Sementara itu, Direktur Harian Rakyat Sultra, H Abdul Haliq, dalam materinya memberikan pemahaman kepada Kepala Sekolah (Kepsek) serta ratusan guru se-Kota Kendari untuk dapat membedakan wartawan profesional dengan wartawan abal-abal.
“Ciri wartawan abal-abal adalah tidak sopan, sedangkan wartawan yang profesional itu sangat disiplin waktu serta sebelum turun lapangan untuk memulai aktivitasnya sebagai wartawan sudah menyiapkan memang materi yang hendak diberitakannya,” jelasnya.
Masih kata dia, cara mengantisipasi wartawan abal-abal yaitu harus membuat waktu perjanjian, setiap wartawan maupun LSM yang datang harus diminta kartu tanda pengenalnya. Selain itu narasumber juga harus bisa memastikan maksud dan tujuan kedatangan wartawan.
Kadis Dikbud Kota Kendari, Makmur mengatakan, dirinya sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan seminar dengan tema peran pers dalam dunia pendidikan.
“Kami sangat berharap dengan adanya pemahaman yang baik antara kepsek, guru dengan teman-teman media, baik media cetak maupun media elektronik bisa terjalin simbiosis mutualisme yang saling membutuhkan. Artinya, mereka bisa mendapatkan informasi dari sumber berita yang terpercaya kemudian juga teman-teman kepsek maupun guru sebagai narasumber ataupun sumber berita bisa memberikan informasi berita yang betul-betul bukan karena terpaksa atau karena hal lain,” bebernya.
Menurut Makmur, selama bertugas di Dikbud Kota Kendari, dirinya merasa terbantu dengan adanya pers, untuk menginformasikan kepada publik, khususnya masyarakat Kota Kendari terkait dengan hasil-hasil pendidikan yang ada di Kota Kendari.
“Kedepan kami sangat berharap simbiosis mutualisme ini antara pelaku pendidikan dan pers dapat berjalan dengan sebaik-baiknya, sehingga nantinya sinergi antara dunia pendidikan dengan pers bisa menjadikan benteng atau pilar keberhasilan dunia pendidikan,” tandasnya.
Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 12 Kendari, Muh Saleh, mengatakan dirinya sangat merespons kegiatan seminar tersebut mengingat bahwa selama ini tentang kebebasan pers, serta bagaimana membina hubungan antara pers dengan kepsek itu menurutnya masih ada sedikit jurang pemisah.
“Memang saya pernah mengalami didatangi oleh LSM dan mengancam saya, serta memeriksa yang tidak seharusnya dia periksa,” akunya. (m3/b/jie)

To Top