Prospek Maksimal, Pemerintah Jadikan Komoditas Unggulan – Berita Kota Kendari
Feature

Prospek Maksimal, Pemerintah Jadikan Komoditas Unggulan

 

Para petani nilam di Desa Puwehuko mengeringkan tanaman nilam yang sudah dipanen, Jumat (29/5). Selanjutnya, nilam yang kering akan dimasukkan di ketel untuk penyulingan minyak atsirin.

Para petani nilam di Desa Puwehuko mengeringkan tanaman nilam yang sudah dipanen, Jumat (29/5). Selanjutnya, nilam yang kering akan dimasukkan di ketel untuk penyulingan minyak atsirin.

Budidaya Nilam di Desa Puwehuko, Konawe Selatan (2 – Selesai)
Ratusan kepala keluarga di Desa Puwehuko, Kecamatan Benua, sudah berhasil mengangkat ekonominya melalui nilam. Sayangnya, tak semua petani di Konawe Selatan bisa menikmati hal yang sama dengan mereka. Namun pemerintah setempat bertekad akan menjadikan nilam sebagai komoditas unggulan.

Laporan : Marwan Toasa
Benua

Masih lanjutan kisah petani nilam sukses dari Puwehuko (edisi Senin (30/5).
Musrin mengatakan, perawatan nilam tidak terlalu sukar. Apalagi jika sudah punya pengalaman setahun lebih.

Baik musim kemarau ataupun hujan, nilam memang rentan kena penyakit. Pada musim kemarau, teriknya matahari merupakan musuh bagi nilam. Sebab tanaman yang menjadi bahan baku parfum ini hanya cocok dengan suasana teduh, hangat, dan lembab. Mudah layu jika terkena sinar matahari langsung atau kekurangan air.
Sedangkan penghujan, nilam bisa terkena virus yang membuat daunnya keriting dan perlahan-lahan mati. Tetapi para petani di Puwehuko sudah punya metode untuk melindungi tanaman nilamnya.
“Bisa diatasi dengan memberikan aqua gelas ketika musim panas, dan melakukan penyemprotan hama saat musim hujan,” kata Misran.
Dengan demikian, bertani nilam menurutnya sangatlah mudah. Satu-satunya yang membutuhkan modal adalah pengadaan lahan. Selain itu, pemerintah sudah harus menyediakan bibit karena para petani nilam sekarang sudah sulit membagi bibit kepada petani yang lain. Itu karena bibit nilam diambil dari pucuk, sedangkan pucuk dibutuhkan pemiliknya untuk memaksimalkan produksi minyak Atsirin saat proses pemasakan.
Karena itu, dia berharap pemerintah bisa menyediakan bibit, pupuk, hingga ketel. Apalagi, harga nilam sangat tinggi jika sudah berupa minyak astiri, bisa mencapai Rp 500.000 per kg. Bandingkan dengan jika dijual mentah (masih berupa tanaman) yang hanya Rp 5000 per kg.
“Itulah alasan petani di sini sudah tidak memperhatikan kakao dan merica. Karena nilam prospeknya lebih menjanjikan,” tuturnya.
Terpisah, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Konsel, Yamin Renggala, didampingi Kabid Hortikultura, Heri, dan Kabid Produksi Perkebunan, Marten Luter M, mengakui nilam bukan termasuk komoditas unggulan perkebunan Konsel. Komoditas unggulan Konsel adalah kakao dan kelapa.
“Sebenarnya nilam ini tidak masuk program unggulan, sehingga kami sebagai pemerintah sedapat mungkin memberikan perhatian kepada masyarakat, mulai dari pengadaan bibit, pemberian pendampingan dan penyuluhan melalui BP4K, hingga pemberian bantuan alat penyulingan (ketel),” kata Yamin Renggala.
Namun karena terbatasnya anggaran, perluasan budidaya nilam masih sulit diwujudkan di Konsel. Hanya desa yang mengusulkan saja yang diberikan bantuan.
“Tetapi bantuan-bantuan seperti ini tidak menutup kemungkinan akan kita lakukan untuk desa-desa lainnya. Tentunya dilakukan secara bertahap,” terangnya.
Dia menjelaskan, sejak 2013 lalu, pihaknya sudah melakukan pengadaan bibit di sejumlah desa, termasuk Kecamatan Benua. Pada tahun ini, pihaknya akan mengadakan bantuan alat penyulingan yang terbilang lebih modern dengan menggunakan bahan stainless senilai Rp 150 juta kepada kelompok petani di Kecamatan Andolo Barat, Desa Watumokala.
Adapun kakao dan kelapa dalam yang sempat menjadi unggulan, anggarannya masih akan dipertahankan melalui APBN. Sementara nilam, pemerintah akan lebih serius dalam penganggarannya di APBD Konsel.
“Kedepan, kita akan membentuk kelembagaan hingga mengakomodir mekanisme pasarnya, sehingga usaha para petani kita ini lebih terarah dan benar-benar saling menguatkan, mulai dari proses pembibitan, tanam, panen, hingga penjualannya,” tambahnya.
Tentang Nilam

Nilam adalah suatu tumbuhan semak tropis penghasil salah satu  jenis minyak atsiri yang dinamakan minyak nilam. Dalam perdagangan internasional, minyak nilam dikenal sebagai minyak hijau atau minyak daun  karena minyaknya disuling dari daun.
Minyak nilam memiliki aroma yang sangat kuat dan telah berabad-abad digunakan sebagai bahan membuat wewangian (parfum), bahan dupa atau setanggi terutama pada tradisi orang timur. Harga jual minyak nilam termasuk yang tertinggi apabila dibandingkan dengan minyak atsiri lainnya.
Tumbuhan nilam tingginya bisa mencapai satu meter. Tumbuhan nilam menyukai suasana teduh, hangat, dan lembab. Mudah layu jika terkena sinar matahari langsung atau kekurangan air. Bunganya menyebarkan bau wangi yang kuat. Bijinya kecil.
Perbanyakan biasanya dilakukan secara vegetatif yaitu tidak membutuhkan adanya proses perkawinan/penyerbukan dan pembuahan yang memerlukan pertemuan antara sel kelamin jantan dan sel kelamin betina untuk menciptakan individu.
Minyak nilam merupakan komoditas unggulan nasional di Indonesia. Selain bahan membuat wewangian, minyak nilam sendiri punya banyak kegunaan, mulai dari pembunuh serangga, hingga bermanfaat pula sebagai obat-obatan.
Sebanyak 70% kebutuhan minyak nilam dunia, dipasok oleh Indonesia. Tapi sayang, Indonesia belum bisa mematok harga, dalam hal ini, Indonesia masih sebagai price taker saja. Tapi yang jelas, Amerika merupakan pengimpor minyak nilam terbesar di dunia.
Tanaman nilam merupakan salah satu jenis tanaman yang sangat mudah tumbuh . Nilam dapat dikembangkan di atas lahan tidur dan pekarangan. Tanaman nilam bisa ditumpangsarikan dengan tanaman lain seperti jagung, bahkan tanaman buah-buahan lainnya. Tanaman nilam ini mampu bertahan selama 2-3 tahun dengan masa panen setiap dua bulan sekali.
Nilam memiliki masa produktif tiga tahun sebelum kemudian dilakukan peremajaan lagi. Panen pertama enam bulan pascatanam, jarak waktu panen berikutnya lebih singkat yakni empat bulan sekali.

Minya Atsiri

Minyak atsiri nilam sebenarnya terkandung pada semua bagian tanaman, seperti akar, batang, daun dan bunga. Pasar nilam pun sudah sangat jelas.

Pada umumnya nilam dipanen pada usia 7-9 bulan, dan bisa dipanen sekali lagi pada 3-4 bulan selanjutnya. Panen dilakukan pada saat bagian bawahnya menguning. Setelah berusia 3 tahun, tanaman nilam harus diremajakan. Panen harus dilakukan pada pagi atau sore hari, karena kalau siang hari, kandungan minyaknya berkurang. Semua cabangnya digunting, terkecuali satu untuk merangsang penumbuhan cabang baru.
Nilam dipanen menggunakan sabit atau ani-ani. Kalau menggunakan sabit, harus benar-benar tajam. Kalau tumpul, bisa-bisa seluruh tumbuhan terangkat dan tidak baik dalam penumbuhan tunas yang baru. Menggunakan sabit, bisa menyebabkan batang dan daun tercampur sehingga kadar minyaknya berkurang. Walau memakan waktu lebih lama, kita mendapatkan daun dengan kandungan minyak lebih lama.
Setelah dipanen, hendaknya dikeringkan dulu. Kata Heyne dalam buku De nuttige-nya, diterangkan bahwa masyarakat petani Hindia-Belanda (sekarang Indonesia), bahwa daun nilam dijemur menggunakan bambu hingga betul-betul kering dan beratnya kurang dari setengah dari berat semula. Daun nilam dihamparkan dalam jemuran dan dibolak-balik, sampai 5-8 jam. Daun yang sudah layu, diangin-anginkan di atas rak bambu.
Lama pengeringan adalah 3-4 hari. Setelah kering, baru bisa disuling. Adapun daun yang sudah kering lebih banyak menghasilkan minyak atsiri ketimbang daun yang masih basah. (*/a/aha)

To Top