KPU Muna Temukan 117 Pemilih Fiktif – Berita Kota Kendari
Suksesi

KPU Muna Temukan 117 Pemilih Fiktif

KENDARI, BKK– Temuan 17 pemilih fiktif pada PSU (Pemungutan Suara Ulang) Pilkada Muna yang kini dipolemikkan ternyata belum seberapa. Pasalnya, KPUD Muna menemukan lebih banyak lagi pemilih fiktif saat melakukan penyisiran data pemilih untuk persiapan PSU Jilid II.

KPUD Muna menyatakan telah menemukan sekitar 117 pemilih yang diduga fiktif, terdata dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap) PSU jilid II.

Divisi Logistik dan Umum KPU Muna Rakhmat Andang Jaya mengakui mulai melakukan penyisiran sejak munculnya nama-nama 17 pemilih fiktif di Mahkamah Konstitusi (MK).
“Kita masih temukan sekitar ratusan warga yang tidak berhak memilih. Untuk itu, kami tegaskan tidak hanya mengecek 17 nama itu. Tapi, kita juga akan menyisir kembali nama-nama yang masuk dalam DPT Pilkada 9 Desember kemarin khusus di dua TPS ini,” terang Andang kepada Berita Kota Kendari, Senin (23/5).
Menurut Andang, laporan 17 pemilih fiktif di MK kemarin bisa saja seperti fenomena gunung es, terlihat kecil di permukaan padahal sangat besar di bawah permukaan. Dari data sementara yang disisir KPU, ada beberapa warga yang tinggal dan sudah bekerja di Kendari masih datang memilih di TPS tersebut.
“Kemarin ada beberapa nama yang sudah menetap di Kendari dan Konawe Selatan (Konsel) tapi masih terdaftar di Muna,” sebutnya.
Untuk itu, agar data dipastikan klir, KPU harus kembali membuka DPT untuk dicocokkan dengan data kependudukan. “Kita khawatirkan jangan sampai ada lagi nama ganda di kecamatan dan ganda antarkabupaten atau provinsi. Hal ini, untuk mencegah terjadinya kekisruhan lagi,” ujarnya.
Koordinator Kecamatan Katobu, Lasalepa dan Napabalano ini menguraikan, teknis pemutakhiran pemilih nanti akan dilakukan oleh petugas penyelenggara di bawah dan dikawal oleh aparat kepolisian, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), KPU dan pasangan calon (paslon).
“Untuk paslon diwakili masing-masing dua orang,” paparnya.
Selain itu, dalam pemutakhiran akan disandingkan antara DPT dan data kependudukan pemerintah setempat. Ini untuk mencegah pengakuan sepihak warga namun tidak memiliki KTP.

“Siapa yang tahu kalau ada warga yang sudah berdomisili di luar TPS itu tapi datang memilih. Jangan sampai ada orang dari Kendari dan bekerja di Kendari atau di Konsel datang memilih di sini,” paparnya.
Setelah penyisiran selesai, diharapkan nama pemilih benar-benar warga pada dua TPS tersebut. Kemudian, KPU sisa memplenokannya.
“Kita akan ketuk palu setiap warga yang berhak begitu pula yang tidak berhak memilih,” tuturnya.
Menurut Andang, langkah penyisiran data pemilih tersebut sudah sesuai dengan Surat Edaran (SE) KPU RI 251 Tahun 2016 tentang pemutakhiran data pemilih PSU jilid dua. Selain itu, memastikan legalitas kependudukan warga pemilih sesuai dengan PKPU Nomor 4 Tahun 2014.
PKPU ini, sebut Andang, berisikan tentang syarat bagi warga yang menyalurkan hak pilihnya. Minimal, kata dia, warga yang bisa mencoblos sudah berdomisili minimal enam bulan di daerah itu.
“Kalau belum mencukupi atau sudah terdaftar di daerah lain, maka tidak boleh memilih,” tegasnya.

Di sisi lain, Polsek Katobu telah memanggil Kepala Dinas Catatan Sipil Dan Kependudukan Kabupaten Muna Abdul Munir sekaitan dengan penyelidikan atas surat dua lurah di MK. Dalam surat tersebut, Lurah Wamponiki, Jakfaruddin Tambori dan Lurah Raha 1 Muhammad Alamsyahrir menyatakan bahwa ada 17 nama pemilih yang bukan warganya.
Jakfaruddin dan Alamsyahrir membuat pernyataan tersebut setelah melakukan klarifikasi kepada Abdul Munir. Namun Kapolsek Karobu, AKP Ogen Sairi mengatakan, pemeriksaan terhadap Abdul Munir belum bisa dilakukan karena yang bersangkutan meminta waktu untuk berkoordinasi dengan pimpinannya.
“Abdul Munir sudang datang ke Polsek. Tapi belum kita ambil keterangannya karena masih harus koordinasi dengan pimpinannya,” kata AKP Ogen.
Selain itu, polisi juga akan memeriksa Sekretaris Tim Pemenangan Dokpil, Samuri dan ketua timnya, dr Abdul Radjab Biku. Samuri dan Abdul Rajab Biku, sesuai pengakuan dua lurah itu, yang memasukkan nama 17 pemilih yang ternyata bukan warga di dua TPS tersebut. (pas-cr1/b/aha)

Click to comment
To Top