Wujudkan Sentra Produksi Perikanan Darat di Kapoyala – Berita Kota Kendari
Bisnis & Ekonomi

Wujudkan Sentra Produksi Perikanan Darat di Kapoyala

UNAAHA, BKK– Kecamatan Kapoyala selama ini sudah dikenal sebagai penghasil perikanan darat. Namun hasil yang melimpah belum didukung dengan infrastruktur yang memadai

Ketua DPRD Konawe, Gusli Topan Sabara menyatakan, masyarakat setempat sudah lama membudidayakan ikan, kepiting, udang, hingga produk pertanian yang pasarnya sudah jelas. Setiap panen, produk-produk Kopoyala langsung habis diborong oleh pembeli dari Kendari.

Hanya saja, masyarakat setempat masih mengeluhkan terbatasnya infrastrukur yang dapat mendukung pengembangan ekonomi mereka. ” Potensi yang dimilik Kapoyala sangat layak diperluaskan dan karena itu bagi saya, ini wajib diperjuangkan,” kata Gusli saat melakukan reses di Desa Lobota, Kecamatan Kapoyala, Senin (15/5).

Dalam dialog tersebut, Gusli baru mengetahui, masyarakat Kapoyala mampu mengatur panen padi dan panen perikanan darat pada lahan yang sama. Itu dilakukan dengan membagi penanaman padi pada enam bulan pertama dan budidaya perikanan darat pada enam bulan berikutnya.

Dikatakan, sejumlah desa seperti Kapoyala Baru, Ululambue dan Lobota merupakan basis ekonomi kerakyatan di Kabupaten Konawe yang bergerak di bidang tambak. Dari perputaran ekonomi tersebut, masyarakat sudah mampu ikut menyumbangkan Pendapatan Asli Daerah.

Menurutnya, mayoritas masyarakat menginginkan  pemerintah agar segera melakukan perbaikan jalan perkampungan. Masalahnya, jalan-jalan diperkampungan yang rusak membuat mobilisasi angkutan hasil buminya kurang maksimal.

“Jika aksesnya bagus, masyarakat di sini juga bisa mengantar sendiri hasil pertaniannya. Karena selama ini para pemborong langsung datang menjemput sendiri. Sehingga hasil pertaniannya dibeli murah. Jadi perlu kita prioritaskan supaya dapat meminimalisir kerugian masyarakat,” paparnya.

Selain itu, kata dia, masyarakat dalam reses tersebut meminta bantuan bibit serta perbaikan dan perluasan (normalisasi) jaringan irigasi dan pematang empang.
Hal itu untuk mendukung pola usaha masyarakat yang enam bulan bertani dan enam bulan bertambak.

“Saya baru tahu kalau setelah panen ikan. Mereka ganti usaha pertanian. Dengan menanam padi. Karena dilokasi ini ada waktu airnya tawar sehingga ini kerap mereka memanfaatkan menanam padi. Itu yang membuat potensi di sini sangat luar biasa,” ujarnya.

Jika permintaan masyarakat bisa dipenuhi, Gusli yakin tidak sampai setahun, ekonomi Kapoyala akan meledak. Terlebih jika dikaitkan dengan keberadaan kawasan industri Morosi.

“Saya rasa hanya sampai satu tahun saja hasil produksi ini keluar. Karena setelah mega industri di Morosi berjalan, petani-petani kita di Kapoyaala akan kewalahan melayani permintaan perusahaan. Sehingga sejak dari sekarang ini kita mulai kembangkan. Dan saya yakin hasil produksi tambak ini hanya bisa menjadi kebutuhan lokal. Karena besarnya nanti permintaan pasar di Konawe itu sendiri,” jelasnya.

Gusli pun menjamin dirinya yang akan memperjuangkan agar aspirasi masyarakat Kapoyala bisa terpenuhi.
“Kita akan perjuangkan aspirasi ini. Dan akan menjadi prioritas di tahun anggaran 2017 mendatang,” jelasnya.

Sementara Kepala Desa Lobota, Saifuddin menjelaskan masyarakatnya banyak yang mengusulkan normalisasi saluran empang, bibit budidaya udang vaname, pengikatan pematang empang, jalan usaha tani, fasilitas jalan dan air bersih, masjid dan pembangunan irigasi persawahan serta pengadaan mesin pompa untuk persawahan.

Hampir 70 persen masyarakat setempat ikan, udang dan kepiting. Sisanya merupakan petani dengan total areal persawahan seluas 70 hektar.

Selain Desa Lobota, enam desa binaan Kecamatan Kapoyala juga bergerak di sektor usaha ini, masing-masing:  Muara Sampara, Lalunggomuna, Lalimbue Jaya, Ulu Lalimbue, Tani Indah dan Kapayala Baru.

“Hasil-hasil produksi perikanan darat kita ini dibeli oleh pemborong dari Kendari. Dan dikirim ke Jakarta,”tuturnya. (K1/b/aha)

To Top