Kejati Istimewakan Salama Wasika – Berita Kota Kendari
Kasuistika

Kejati Istimewakan Salama Wasika

Tersangka Kasus Korupsi UPTD Bandara HO 2013
KENDARI, BKK – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Tenggara (Sultra) belum menahan satu tersangka kasus dugaan korupsi retribusi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Bandara Halu Oleo (HO) Perhubungan Udara Dinas Perhubungan Sultra 2013.
Adalah mantan Kepala Seksi Operasional UPTD Bandara HO Salama Wasika. Tersangka yang juga pernah menjabat sebagai kordinator pemungut pajak retribusi ini masih menjalankan tugas sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Dishub Sultra.
Hal itu berbeda perlakuan jaksa dengan dua tersangka lain, yakni manta Kepala UPTD Bandara HO Samsir dan kepala seksi (kasi) operasional Ibrahim. Pasalnya, keduanya telah diinapkan di hotel prodeo sejak pertama kali menjalani pemeriksaan sebagai tersangka.
Menyusul hal itu, selaku penasehat hukum Ibrahim, Herdi Jaya Ibrahim angkat bicara. Ia merasa ada keberatan atas perlakuan khusus jaksa terhadap Salam tersebut.
“Sudah ditetapkan tiga orang tersangka, tetapi pihak kejati hanya melakukan penahanan kepada dua tersangka saja. Tersangka satunya kenapa tidak ditahan, ada apa ini, kan itu yang menjadi pertanyaan,” kata Herdi, saat dikonfirmasi melalui selulernya, Rabu (11/5).
Jika alasan jaksa tidak menahan Salama, karena koperatif. Herdi mengaku, kliennya juga selalu koperatif saat dilakukan pemeriksaan, sebelum akhirnya ditahan pada 14 Maret 2016.
“Masa dengan seenaknya tersangka satunya (Salama Wasika, red) masih asyik berkeliaran di luar, bahkan masih berkantor di Dishub Sultra. Jangan sampai ada apa-apa di kejati,” ujarnya dengan nada curiga.
Masih kata Erdi, sementara dalam kasus tersebut Salama Wasika merupakan tersangka yang paling berperan, karena sampai kini kliennya belum menerima surat keputusan (SK) kordinator pemungutan retribusi Bandara HO Kendari.
“Sampai hari ini SK yang diterimna oleh klien saya itu masih sebagai kasi operasional. Dengan tidak adanya SK tersebut (kordinator pemungutan retribusi, red), klien saya tidak mempunyai kewajiban hukum untuk bertanggung jawab melakukan pemungutan retribusi di bandara seperti yang disangkakan penyidik Kejati Sultra,” jelasnya
Di tempat terpisah, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sultra Sugeng Djoko Susilo SH MH, melalui anggota tim penyidik Tenri, membenarkan tidak ditahannya Salama Wasika. Hanya saja, ia tidak mau menjelaskan secara rinci mengenai alasan tidak ditahannya Salama.
Ia hanya menyebut Salama tidak ditahan karena dinilai kooperatif, meski sebenarnya Salama belum mengembalikan uang kerugian negara.
“Kalau alasan subyektifnya, ya, kooperatif. Jangan tanyakan itu (alasan tidak ditahannya Salama, red),” ujar Tenri, saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin.
Diketahui, hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) Perwakilan Sultra, kasus ini ditemukan kerugian negara sebesar Rp 900 juta. Itu bermula dari pungutan jasa retribusi penumpang sejak Januari hingga Desember 2013. Dimana, setiap penumpang dikenakan jasa masuk Rp 24 ribu.
Terkuat, ada sebagian uang yang tidak disetor ke kas daerah, sehingga diketahui tidak berimbangnya antara jumlah manifes penumpang dengan jumlah pembayaran retribusi Bandara HO Kendari.
Para tersangka dijerat Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999, sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, dengan ancaman pidana lima tahun penjara. (p5/c/kas)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top