Kasus Korupsi Pencetakan Sawah di Muna 2013, Jaksa Periksa Dua Saksi – Berita Kota Kendari
Kasuistika

Kasus Korupsi Pencetakan Sawah di Muna 2013, Jaksa Periksa Dua Saksi

KENDARI, BKK – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Tenggara (Sultra) memeriksa dua orang dalam kasus dugaan korupsi pencetakan sawah di Kabupaten Muna, yakni anggota kelompok tani La Dame dan La Samidi.
Keduanya menjalani pemeriksaan sebagai saksi untuk tersangka Acil. Penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejati Sultra mendudukan keduanya secara bersamaan selama dua jam, yaitu mulai pukul 13.00 Wita sampai 15.00 Wita.
Demikian diungkapkan, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sultra Sugeng Djoko Susilo SH MH, melalui kepala seksi penerangan hukum dan hubungan masyarakat (Kasipenkumhumas) Janes Mamangkey SH, Selasa (10/5).
“Dua orang saksi hari ini kami periksa untuk tersangka Acil. Kami memberi pertanyaan seputar keanggotaannya saat menjadi anggota kelompok tani. Di antaranya mengenai, perluasan lahan, dimulainya dan selesai pekerjaan. Kalau belum kapan kita pertanyakan kapan selesai,” terang Janes.
Dijelaskan, sebelumnya kedua saksi tidak termaksuk dalam anggota kelompok tani. Namun, lahan pribadi mereka digunakan sebagai proyek pekerjaan percetakan sawah seluas satu hektare, sehingga keduanya diangkat menjadi sebagai anggota kelompok tani.
“Sejauh ini kami telag periksa sebanyak sebanyak 11 saksi. Kalau dari hasil pemeriksaan belum bisa disimpulkan apakah memberatkan tersangka Acil atau tidak, yang pasti keterangan saksi adalah bantuan dari pemeriksaan penyidik untuk ditindak lanjuti,” jelas Janes.
Ditambakan, pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap tersangka Acil, namun tidak dilakukan penahanan. Kendati Acil dua kali mangkir dari panggilan penyidik kejati.
“Memang saat kami melakukan pemanggilan, Acil dua kali tidak hadir, alasannya karena Acil tidak mengetahui kalau kami melakukan panggilan. Karena surat panggilan tersebut istrinya yang terima dan tidak diberikan kepada Acil,” tanda Janes meyakinkan.
Dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Acil enggan mau berkomentar seputar kasus yang menjeratnya. Pasalnya, dirinya masih berada di Raha dan tidak mau melayani wawancara melalui telepon.
“Maaf ya, saya ini lagi di Raha. Kalau bisa nanti bicara secara langsung saja,” singkatnya.
Diketahui, dari hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) Perwakilan Sultra, kerugian negara mencapai Rp 400 juta.
Tersangka Acil dijerat Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun1999, sebagai mana telah diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.
Kejati Sultra telah menetapkan lima orang tersangka yang diduga turut terlibat dalam perkara ini, yakni La Ode Sastrawan ST, La Fedumu, La Ode Hafuna, La Rikesi dan Acil.
La Ode Sastrawan ST, La Fedumu, dan La Ode Hafuna telah mendekam di balik jeruji besi Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas II A Kendari. (p5/c/kas)

To Top