Feature

Rumah Tak Bisa Dibangun dengan Janji

PUING-PUING dari rumah Basrin, Senin (9/5), masih terlihat berserakan setelah diporak-poranda angin Puting beliung, sekitar lima bulan lalu. Sampai saat ini, Basrin belum mendapatkan bantuan sepeser pun dari pemerintah

PUING-PUING dari rumah Basrin, Senin (9/5), masih terlihat berserakan setelah diporak-poranda angin Puting beliung, sekitar lima bulan lalu. Sampai saat ini, Basrin belum mendapatkan bantuan sepeser pun dari pemerintah

Nestapa Korban Bencana Alam di Konawe Utara

Bencana alam seringkali membuat kehidupan satu keluarga berubah drastis. Apalagi jika memang keluarga tidak mampu. Hidup sudah susah, ditimpa bencana, tambah susah.

Laporan : Vely
Wanggudu, Konawe Utara

Kondisi terpuruk dirasakan oleh dua keluarga di Desa Pekaroa, Kecamatan Sawa, Kabupaten Konawe Utara, yakni Basrin dan Toto. Rumah yang mereka tempati bernaung selama bertahun-tahun, hancur dalam sekejap setelah diterjang angin puting beliung pada Desember 2015 lalu.
Yang paling mengenaskan kondisinya adalah Basrin. Setelah kehilangan rumah, beberapa waktu kemudian, Basrin harus kehilangan istri dan bayinya sekaligus setelah sang istri meninggal akibat keracunan kehamilan.
Basrin yang sehari-hari menghonor di Dinas Satpol PP kini menghuni kios kecil yang dibangun di depan rumahnya. “Sudah lima bulan saya menanti bantuan agar bisa bangun rumah. Tapi sampai sekarang tidak pernah datang,” katanya saat ditemui di kiosnya, Senin (9/5).
Menurut Basrin, untuk membangun rumahnya kembali, dia membutuhkan anggaran tidak kurang Rp 20 juta. Namun dengan pendapatan sebagai honorer dan perputaran uang di kiosnya yang tidak seberapa, Basrin memang hanya bisa pasrah. Hanya bantuan dari pemerintah yang bisa diharapkan.
Dia menuturkan, bencana tersebut datang pada 12 Desember 2015, sekitar pukul 20.00. Itu tiga hari setelah pemilihan Bupati Konawe Utara. Dahsyatnya embusan angin membuat rumahnya rubuh dan hanya menyisakan pondasi. Beruntung saat itu, Basrin dan keluarganya bisa menyelamatkan diri.
Keesokan paginya, dia didatangi oleh aparat dari sejumlah instansi, mulai dari TNI, polisi hingga pemerintah setempat. Mereka berjanji akan segera membantu para korban. Janji itulah yang dipegang Basrin.
Sayangnya, lima bulan berlalu sejak janji itu diucapkan, tak sepeserpun bantuan datang. Janji tentu saja tak bisa digunakan untuk membangun rumah.
Kondisi yang mirip pun menimpa Tato. Rumahnya juga ambruk dan tinggal pondasi yang utuh. Tato juga hanya makan janji.
Kepala Dinas Sosial Konut, As’ad mengaku hingga kini
belum ada laporan yang diterimanya terkait bencana yang menimpa kedua warga tersebut. Pengakuan ini berbeda dengan pernyataan Kepala BPBD
Konut, Bakring Haruna yang mengaku langsung melaporkan peristiwa
tersebut ketika usai kejadian.
As’ad menjelaskan, pemberian bantuan sosial sudah berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sebab saat ini, ada kebijakan Pemerintah Provinsi yang menghapus bantuan yang sifatnya diberikan langsung ke masyarakat dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Kecuali yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK).
“Dulu memang ada bantuan rumah di Dinas Sosial. Di bawah 30 unit
menjadi tanggung jawab kabupaten. Di atas 30 unit masuk tanggung jawab
provinsi. Hanya saja kemarin kita kondisikan. Hasil konsultasi di
provinsi, Tidak dibenarkan lagi ada APBD yang bersumber dari DAU dan
PAD yang diperuntukkan untuk bantuan yang diserahkan langsung ke
masyarakat. Termasuk perumahan. Ini kebijakan provinsi,” jelas As’ad. (*/c/aha)

To Top