Kasuistika

Gugurkan Kehamilan Mahasiswi, Oknum Brigpol Dipolisikan

KENDARI, BKK – Seorang oknum anggota polisi yang bertugas di Sekolah Polisi Negara (SPN), Anggotoa Kabupaten Konawe, berinisial Brigadir MT (30), dilaporkan ke Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra).

Informasi yang dihimpun Berita Kota Kendari menyebutkan, Brigadir MT dilaporkan gara-gara menggugurkan kandungan pacarnya, As (19), seorang mahasiswi keperawatan secara paksa.
Kasus ini dilaporkan langsung orangtua As berinisial AM, di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Sultra pada 2 Mei 2016. Dalam laporan polisi bernomor LP/192/V/2016/SPKT Polda Sultra disebutkan bahwa Brigadir MT dan AS menjalin hubungan asmara sejak Mei 2014 lalu.
Kemesraan terus berlanjut hingga keduanya menjalin hubungan badan layaknya suami istri. As rela melakukan perbuatan terlarang itu karena Brigadir MT berjanji siap bertanggungjawab dan akan menikahinya.
Pada Desember 2014, As terlambat haid selama dua bulan. Brigadir MT lalu memberikan obat penggugur kandungan jenis gastrul kepada As.  Obat tersebut mampu mengeluarkan janin yang ada dalam rahim As.
Namun pengalaman tersebut tak membuat keduanya kapok. Mereka kembali menjalani hubungan badan pada April 2015. Dan hasilnya, As hamil lagi untuk kedua kalinya. Kehamilan itu diketahui melalui alat tes kehamilan atau test pack.
Lagi-lagi, Brigadir MT membeli obat gastrul dan memberikannya ke As pada Mei 2015. Kali ini, ada perempuan berisial Di yang membantu pemakaian obat gastrul itu. Sayangnya, janin tidak juga keluar.
Enggan menyerah, pada Agustus 2015, Brigadir MT kembali memberikan obat gastrul ke As. Kali ini tanpa bantuan siapapun, As menggunakan obat tersebut dengan cara memasukkannya ke dalam alat vitalnya sendiri.
Pada pagi harinya, As langsung keguguran. Janin yang berusia sekitar lima bulan itu disimpan dalam tas untuk dibuang. Brigadir MT kemudian menyuruh seorang bernama Markus untuk mengambil janin di rumah orangtua As yang beralamat di Kelurahan Wawonggole, Kecamatan Unaaha, Kabupaten Konawe.
Dua kali menggugurkan janin tak bikin Brigadir MT dan As jera. Pada Januari 2016, keduanya kembali melakukan hubungan badan, dan As hamil lagi untuk ketiga kalinya.
Dalam kondisi hamil di luar nikah, Brigadir MT kembali mengajak As melakukan hubungan intim dan As mau lagi. Anehnya, usai melakukan hubungan badan, Brigadir MT langsung memukul perut As dengan tujuan untuk menggugurkan janin dalam kandungan As.
Aksi kekerasan itu justru membuat As mengalami pendarahan hebat. Dari sinilah perbuatan keduanya terungkap hingga diketahui oleh keluarga As.Atas kejadian ini, orangtua As pun melapor di SPKT Polda Sultra.
Laporan tersebut dibenarkan Kepala Subbidang (Kasubbid) Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PID) Humas Polda Sultra, Komisaris Polisi (Kompol) Dolfi Kumaseh. Brigadir MT akan dijerat dengan Pasal 346 KUHP tentang aborsi dan pembunuhan kandungan, dengan ancaman pidana empat tahun penjara.
“Polisi masih akan melakukan penyelidikan mengenai laporan tersebut,” singkat perwira polisi dengan satu melati di pundak ini, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (9/5). (kas/b/aha)

To Top