Pekan Depan, Penyidik Periksa Kadishut Konut sebagai Tersangka – Berita Kota Kendari
Kasuistika

Pekan Depan, Penyidik Periksa Kadishut Konut sebagai Tersangka

KENDARI, BKK – Penyidik Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) merencanakan, dalam waktu dekat akan memeriksa Kepala Dinas Kehutanan (Kadishut) Konawe Utara (Konut) Amiruddin Supu sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan fiktif bibit 2015.
“Dalam waktu dekat, mungkin pekan depan penyidik merencanakan akan memeriksa dia (Amiruddin Supu, red) sebagai tersangka,” ujar Kepala Subbidang (Kasubbid) Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PID) Humas Polda Sultra Komisaris Polisi (Kompol) Dolfi Kumaseh, Senin (2/5).
Dolfi mengurai, Dalam kasus ini penyidik telah menetapkan dua tersangka, yakni Kadishut Konut Amiruddin Supu selaku kuasa pengguna anggaran (KPA) dan pejabat pembuat komitmen (PPK) Muhamadu.
Keduanya telah menjalani pemeriksaan pada Kamis (28/4), namun masih berstatus srbagai saksi. Dimana, Amiruddin diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Muhamadu, sadang Muhamadu diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Amiruddin.
Diketahui, dalam kasus dugaan korupsi pengadaan fiktif bibit jati, eboni, dan bayam pada 2015, dengan total anggaran lebih dari Rp 1,1 miliar. Dan, meski belum secara resmi dilakukan audit, namun dari hasil ekspos bersama Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) telah menemukan indikasi kerugian negara sebesar Rp 700 juta.
Khusus pengadaan bibit dan penanaman jati, terjadi perbedaan besaran anggaran dalam kontrak dan daftar pagu anggaran (DPA). Dimana, dalam kontrak tertera anggaran sebesar Rp 879 juta, sementara dalam DPA berjumlah Rp 1,176 miliar.
Berarti sisa dari itu selisi anggaran dalam kontrak dan DPA diselewengkan. Lalu ada ketidak jelasan mekanisme pencairan dana. Dimana, dananya telah telah dicairkan 100 persen tetapi pengadaannya fiktif.
Khsusu untuk pengadaan Eboni dan Bayam jelas sudah diduga kuat fiktif. Pasalnya, harusnya yang diadakan Eboni dan Bayam masing-masing sebanyak 2.750 bibit. Namun, kenyataannya hanya diadakan bibit Eboni sebanyak 2.750. Bibit Bayam tidak lagi diadakan, sehingga sebanyak 2.750 bibit Eboni dianggap fiktif.
Sementara bibit jati yang seharusnya diserahkan dan dinikmati masyarakat, malah ditanam pada tiga lahan milik pejabat Konut. (kas)

Click to comment
To Top