Feature

Dari Miskin, Kaya, lalu Miskin Lagi

Inilah jalan utama Desa Wumbubangka, kecamatan Rarowatu Utara yang selama tujuh tahun terakhir dilewati oleh petinggi PT PLM, namun tidak mendapat perhatian.

Inilah jalan utama Desa Wumbubangka, kecamatan Rarowatu Utara yang selama tujuh tahun terakhir dilewati oleh petinggi PT PLM, namun tidak mendapat perhatian.

Wumbubangka, Sebuah Ironi Desa Penghasil Emas (1)

Kehadiran tambang emas di sebuah daerah seharusnya beriringan dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat setempat. Namun itu tidak dirasakan warga Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu Utara, Kabupaten Bombana.

Ahmad Ridha
Bombana

Agustus 2008. Bombana tiba-tiba menjadi buah bibir. Tak hanya di Sultra, namun seluruh Indonesia membicarakan butir-butir emas yang mendadak muncul di Bombana. Orang-orang berdatangan.
Bombana yang biasanya senyap sepi, seketika berubah riuh ramai. Cerita tentang mudahnya mendapat emas hanya bermodalkan wajan penggorengan, menggoda banyak orang. Tiba-tiba semua warga dilanda demam emas. Yang petani, nelayan, sopir hingga PNS, meninggalkan pekerjaannya untuk pergi menceburkan diri ke sungai mendulang emas.
Warga dari luar terus berdatangan seperti tanpa henti, terutama para pendulang emas tradisional dari berbagai daerah. Bombana kala itu bagaikan miniatur Indonesia. Semua suku ada di sana. Mereka menjejali aliran sungai, memadati bantarannya, di atas tanah maupun di bawah tanah.
Dan cerita itu benar adanya. Meski ada yang bilang untung-untungan, namun beberapa pendulang berhasil mendadak kaya karena berhasil menghimpun puluhan gram emas hanya dalam kurun beberapa hari. Ekonomi di Bombana melonjak drastis. Para pedagang riang. Jualannya laku semua. Bahkan dijual berapa pun, tetap ada pembelinya.
Namun ‘kisah indah’ itu hanya bertahan tiga bulan. Eksploitasi yang tak terkendali akibat persaingan lebih 200.000 penambang beserta alat-alatnya, mulai memperlihatkan dampak mengerikan. Sungai mengering. Tanah menjadi labil karena penggalian yang membabi-buta. Serta, banyak penambang yang dilaporkan tewas, baik karena kecelakaan kerja maupun kriminalitas.
Pemerintah kemudian memutuskan untuk mengosongkan kawasan tambang di Wumbubangka.
Menggunakan kekuatan militer dan kepolisian, ratusan ribu penambang tradisional segera mengucapkan selamat tinggal pada ladang emas tersebut.

Beberapa waktu kemudian, masuklah korporasi tambang emas. Yang paling terkenal adalah Panca Logam.
Namun setelah bertahun-tahun mengangkut emas di tanah Wumbubangka, masyarakat setempat mulai menyinggung soal kesejahteraannya. Mereka mulai membanding-bandingkan kondisi saat berkesempatan mendulang secara tradisional, dengan kondisi ketika lahan dikuasai industri tambang dengan peralatan moderennya.
Sebagai contoh, tengoklah akses jalan dari poros Kasipute-Kendari menuju desa tersebut. Hingga kini, jalan desa penghasil emas itu tak berubah, dalam artian, tidak mengalami peningkatan. Ketika musim hujan seperti saat ini, kubangan air memenuhi ruas jalan. Pada musim kemarau, giliran debu yang memenuhi udara.
Panjang jalan desa itu hanya sekitar 10 kilometer. Jika setiap kilometernya butuh anggaran Rp 1 miliar untuk menyulapnya jadi aspal, itu berarti butuh anggaran Rp 10 miliar. Masyarakat memang berharap banyak pada perusahaan tambang untuk membiayai pembangunannya. Toh, mereka juga yang tiap hari menggunakan jalan tersebut.
Selain jalan, kondisi jembatan penghubung di sepanjang jalan masuk desa tersebut sama memprihatinkannya. Hampir seluruh jembatan yang ada di wilayah itu dibangun oleh Pemkab Bombana, yang kemudian digunakan tiap hari oleh para karyawan maupun petinggi Panca Logam.
Tetapi jalan dan jembatan itu pun begitu-begitu saja kondisinya. Entah akan diperbaiki atau tidak.
Nah, dari sisi ekonomi masyarakat, keberadaan Panca Logam dinilai belum memberikan kontribusi. Memang, beberapa warga diangkat menjadi karyawan. Namun belum lama ini, sebagian dari mereka dirumahkan. Alasannya, perusahaan-perusahaan tambang di sana mulai kesulitan menambang emas. Bahkan kabarnya sudah mulai merugi. Karena tak mampu lagi menggaji semua karyawannya, maka keputusan merumahkan mereka pun jadi pilihan.
“Bagaimana masyarakat Wumbubangka mau sejahtera, jadi karyawan saja dipecat dengan alasan perampingan. Bahkan kami diusir secara tidak manusiawi. Jadi susah memang mau sejahtera masyarakat disini,” ungkap, Hasra (30) warga setempat.
Hasra masih mengenang, sebelum investor tambang emas masuk ke desanya, dia bisa mendapatkan puluhan gram emas dalam tiga hari. Dia pun masih menyimpan harapan suatu saat nanti, warga asli Wumbubangka bisa menikmati sendiri sumber daya alam desanya.
Kegundahan yang sama juga disampaikan Juki. Juki juga ikut dirumahkan oleh Panca Logam beserta dua sepupunya. Dia pun bingung harus mencari uang di mana lagi. Sangat ironi baginya, karena emas itu mengendap di desanya. Tapi tak kuasa dia menggapainya.
Rekson S Limba, tokoh masyarakat Rumbia bercerita, penemuan emas di Wumbubangka di Sungai Lulua sempat memberi harapan masyarakat untuk menikmati hidup berkecukupan. “Bayangkan saja kalau ada yang bisa dapat 40 gram sampai 50 gram emas selama sepekan. Waktu itu emas dijual paling murah Rp 200.000 per gram. Jadi 10 juta itu gampang sekali didapat waktu itu,” katanya.
Pemkab kemudian memerintahkan penambang untuk mengosongkan areal tambang. Penambang disuruh angkat kaki. Alat-alat tambang tradisional hingga semi modern disita aparat. Sampai sekarang, tak ada yang tahu di mana rimbanya alat-alat tersebut.
“Andai saja waktu itu, pemerintah tidak terburu-buru memerintahkan perusahaan untuk menggarap wilayah Wumbubangka, mungkin masyarakatnya tidak akan terlalu sulit cari nafkah. Banyak yang bisa keluar dari kemiskinan,” katanya.
Rekson mengatakan, masyarakat Wumbubangka kini hanya bisa menjadi penonton di tanahnya sendiri. Sementara korporasi tambang emas dari Jakarta dan Surabaya, mengeruk kekayaan di kampung halamannya. (*/b/aha)

To Top