Nasional

Jokowi Banggakan Prestasi Musa La Ode Abu Hanafi

ok ft musa lagiHafidz Cilik Ini Diundang Langsung Presiden Mesir

JAKARTA, BKK– Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan rasa bangganya terhadap prestasi hafidz cilik Musa La Ode Abu Hanafi di ajang Musabaqah Hifzil Quran Internasional di Mesir.
Presiden Jokowi dalam akun twitter resminya mentwitkan pernyataan kebanggaan tersebut ketika dipantau di Jakarta, Minggu.
“Kita bangga dengan prestasi Musa La Ode Abu Hanafi, hafidz 7 tahun di Musabaqah Hifzil Quran Internasional di Mesir – Jkw,” tulis Presiden.
Dalam postingannya itu, Presiden Jokowi menyertakan foto Musa La Ode Abu Hanafi yang sedang berpose dengan para peserta Musabaqah Hifzil Quran Internasional dari negara-negara lain.
Seperti dikutip dari situs Kantor Berita Antara, Musa La Ode Abu Hanafi telah hapal ayat-ayat suci Al-Quran dalam usianya yang baru menginjak tujuh tahun. Ia mengharumkan nama Indonesia di Sharm El Sheikh, Mesir, dengan menyabet juara 3 lomba hafiz anak tingkat dunia sekaligus menjadi peserta termuda dalam ajang tersebut.
Musabaqah Hifzil Quran (MHQ) International di Sharm El-Sheikh, Mesir, diselenggarakan pada 10-14 April 2016.
Jumlah peserta MHQ Internasional Sharm El-Sheikh untuk semua cabang sebanyak 80 orang yang terdiri dari 60 negara di antaranya Mesir, Sudan, Arab Saudi, Kuwait, Maroko, Chad, Aljazair, Mauritania, Yaman, Bahrain, Nigeria, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Australia, Ukraina, dan Indonesia.
Prestasi mengagumkan yang didapatkan Musa juga mendapat sanjungan dari aktivis media sosial Yana Nurliana. Dari statusnya di media sosial, Yana menggambarkan bagaimana mengharukannya proses ujian yang di hadapi Musa.
“Saat tiba giliran menjawab pertanyaan dan ujicoba dari juri yang juga tentu saja penguji-penguji kelas dunia, soal-soal dijawabnya dengan tenang. Selesai Lomba, yang berlomba kemudian adalah penonton. Mereka berlomba berfoto dan mencium kepala Musa, kagum!” katanya.
Yana juga mengeritik figur-figur lainnya yang terkesan merepotkan negara saat ingin berkompetisi. “Itulah dia Musa. Seorang putra bangsa Indonesia. Ia tak butuh trilyunan rupiah jika sekedar untuk mengharumkan nama bangsa. Ia juga tak perlu mengemis sponsor milyaran untuk sekedar mengharumkan nama bangsa,” katanya.
“Ia juga tak perlu merepotkan negara ratusan milyar. Bahkan tanpa perlu menodong kementerian agar pegawainya potong gaji, untuk sekedar mengharumkan nama bangsa,” tambahnya.
Bukan hanya itu, Yana dikenal sejak surat terbukanya kepada Anggun C Sasmi mengenai hukuman mati bandar narkoba itu juga menyinggung media-media mainstream yang lebih mengutamakan berita politik daripada memberitakan prestasi Musa.
“Jangan coba ketik namanya di search engine. Paling keren kita hanya mendapat berita kemenangan nasionalnya di salah satu stasiun TV tahun 2014. Jika media mainstream tak memberitakanmu nak, kami saja yang mengabarkan tentangmu pada Indonesia, di tengah sesaknya berita politik yang menyampah,” tulisnya. (int/aha)

To Top