Rumah Kita : Klaim Kemenangan Dokter Pilihanku Tak Masuk Akal – Berita Kota Kendari
Headline

Rumah Kita : Klaim Kemenangan Dokter Pilihanku Tak Masuk Akal

Yayat Fariki bersama LM Rusman Emba

Yayat Fariki bersama LM Rusman Emba

KENDARI, BKK — Perseteruan antara kubu Dokter Pilihanku (LM Baharuddin – La Pilli) dan Rumah Kita (LM Rusman – Malik Ditu) terus berlanjut. Kubu Rumah Kita menganggap klaim kemenangan Dokter Pilihanku dalam Pemungutan Suara Ulang Pilkada Muna beberapa waktu lalu, sebagai klaim yang tidak masuk akal.
Ketua Tim Pemenangan Rumah Kita, Muhammad Yayat Fariki menilai, sangat tidak logis jika Pilkada Muna ditentukan oleh hasil perhitungan suara pada tiga TPS yang di-PSU-kan saja. Meski kubu Rumah Kita hanya kalah selisih satu suara dalam PSU tersebut, namun akumulasi perolehan suara pada 321 TPS di Pilkada Muna 9 Desember lalu, ditambah perolehan suara pada tiga TPS, menunjukkan Rumah Kita sebagai pemenang Pilkada.
“Kita harusnya menghitung perolehan suara pada seluruh TPS ditambah tiga suara TPS yang PSU. Itulah perhitungan yang masuk akal. Dan di situ jelas-jelas Rumah Kita yang menang. Masa hanya mau hitung yang tiga itu saja dan mengabaikan suara dari 318 TPS lainnya, itu gila namanya,” kata Yayat kepada Berita Kota Kendari, Minggu (10/4).
Sejauh ini, kata Yayat, kubu lawan hanya selalu mengklaim menang. Baik pada Pilkada 9 Desember 2015 lalu sampai PSU 22 Maret 2016. Dia mengingatkan, kemenangan dalam Pilkada selalu ditentukan dari jumlah suara terbanyak.
“Hasil Pilkada 9 Desember diduga terjadi pelanggaran di tiga TPS sehingga dilakukan PSU. Suara di tiga TPS itu, secara otomatis gugur. Nah, setelah PSU, maka dihitung kembali hasilnya dan diakumulasi dengan suara perolehan 9 Desember,” jelasnya.
Dia pun menyayangkan aksi konvoi yang dilakukan kubu lawannya hanya karena menang satu suara pada tiga TPS yang di-PSU-kan. Mereka seakan-akan lupa bahwa masih ada ribuan suara sah lainnya yang disalurkan pada Pilkada 9 Desember 2015 lalu.
“Kami anggap konvoi itu aneh. Teman-teman di sebelah itu banyak yang cerdas. Tetapi kalau sudah begini, saya anggap obsesinya sudah ketinggian,” ujarnya.
Bukan hanya itu, dia juga menyayangkan pernyataan-penyataan dari pengacara Dokter Pilihanku, Abdul Rahman yang cenderung menyesatkan dan mengarah pada pembohongan publik. Dia pun mengingatkan sekali lagi, suara sah pada Pilkada 9 Desember lalu jangan dinafikan.
“Saya mungkin buta hukum. Tapi ketika hukum mengamputasi hak rakyat, itu sudah kelewat batas. Pernyataannya menyesatkan sekali. Orang seperti ini harus ditangkap karena telah membuat resah publik,” tekannya.
Yayat menuturkan, meski kemenangan sudah di pihak mereka, kubu Rumah Kita dilarang melakukan aksi konvoi. Rumah Kita sudah meminta pendukung dan simpatisannya agar menunggu keputusan Pilkada Muna pada Mahkamah Konstitusi (MK).
“Sekarang belum ada jadwal sidang. Kemungkinan, sidang dalam pekan ini,” bebernya.
Sebelumnya, kubu Dokter Pilihanku melalui kuasa hukumnya Abdul Rahman menganggap, kemenangan Pilkada Muna milik kliennya. Sebab, kata dia, kemenangan satu suara di PSU kemarin merupakan bukti unggulnya Dokter Pilihanku.
“Hasil PSU dengan kemenangan satu suara, membuat kami yakin bahwa Dokter Pilihanku yang menang,” terang Rahman beberapa waktu lalu.
Mengenai jadwal sidang di MK, hingga hari ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum mendapatkan informasi. Anggota KPU Sultra La Ode Abdul Natsir Moethalib mengaku, surat pemberitahuan sidang belum ada.
“Kita masih menunggu jadwalnya dari MK,” ujarnya. (r1/b/aha)

To Top