Headline

Napi Kendalikan Binis Narkoba dari Lapas Kendari

Lewat Telepon Genggam

KENDARI, BKK- Seorang kurir sabu-sabu yang ditangkap polisi pada Jumat (1/4) mengaku menjalankan bisnis ini dipandu lewat telepon seluler oleh pria yang sedang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kendari.

Diketahui, penyidik Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) menangkap tersangka kurir pengedar sabu-sabu, Jumat (1/4) sekitar pukul 19.00 Wita, pria berinisial RA (40).

Dari tangan warga Jalan Bunga Kolosua, Kemaraya, Kendari ini polisi mendapati 10 paket sabu-sabu siap edar seberat 7 gram.

Kepala Subdirektorat (Kasubdit) I Diteresnarkoba Polda Sultra Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Hadi Winarno SIK menerangkan, tersangka selanjutnya dibawa ke rumahnya yang tidak jauh dari lokasi penangkapan.

Di sana, polisi melakukan penggeledahan dan mendaptkan beberapa bukti pendukung lainnya, yakni unit hanphone (hp), uang tunai sebesar Rp 700 ribu, timbangan digital, korek api bentuk pistol lengkap dengan holster (sarung), buku rekap jualan sabu, borgol, empat buah pipet, alat pengisap sabu (bong), satu buah pireks, dua sendok plastik, 12 plastik pembungkus bekas pakai, 178 plastik pembungkus dan dua buah tas.

Selain itu, polisi juga mengamankan instri tersangka bernisial Sm (40) untuk dimintai keterangannya. Tersangka dijebloskan ke dalam sel Rumah Tahanan (Rutan) Polda Sultra, dijerat pasal 112 ayat (2), pasal 114 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman pidana diatal lima tahun penjara..

“Polisi melakukan proses penyidikan untuk pengembangan jaringan,” ujar Hadi.

Kepada polisi, tersangka didampingi sitrinya mengatakan, dirinya menjalankan bisnis sabu-sabu kurang lebih delapan bulan.

“Dia (An, red) dalam Lapas. Dia perintahkan saya untuk mendatangi seseorang untuk mengambil barang (sabu-sabu, red). Tempatnya berubah-ubah. Ada di mandonga, Puuwatu, dan Kemaraya. Saya hanya diarahkan oleh dia (An) melalui telepn,” jelas Ra.

Dari kerja sama tersebut ungka dia, dirinya mendapat upah dari bandar tidak sesuai dengan pekerjaannya. Di mana dari total hasil penjualan Rp 10 juta maka drinya hanya mendapat Rp 1 juta.

Itu pun, curhat dia, uang tersebut tidak sekali didapat, tapi harus harus menjual beberapa paket sabu kepada pemesan.

“Setelah saya dapatkan uang penjualan saya amanakan bagianku dan bagiannya An saya pergi kirim melalui ATM (anjungan tunai mandiri). Saya tidak tau siapa pemesan. Saya hanya dapat perintah dari AN katanya ada teman pesan. Semua tempat di Kendari di situ semua saya melempar (edar, red),” bebernya. (r2/c/iis)

To Top