Kasuistika

BRI Kolaka Diduga Tipu PNS, TNI, dan Polri

KOLAKA, BKK- Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Kolaka diduga menipu ratusan pegawai, tentara, dan polisi yang melakukan pinjaman. Pihak BRI Kolaka tidak mengembalikan kelebihan asuransi saat nasabah melakukan top up atau penambahan kredit.

Ceritanya, bila setiap nasabah melakukan tambah kredit (top up), seharusnya asuransi yang mereka bayar terus-terusan itu dipotong dan diberikan pada nasabah.

Jadi ada kelebihan dana dari asuransi yang tiap tahun dibayar oleh nasabah sejak 2011, yang karena top up seharusnya sisanya dikembalikan pada nasabah. Kenyataanya, tidak.

Keadaan ini sudah terjadi sekian tahun. Dikalikan dengan jumlah nasabah dari kalangan pegawai, tentara, dan polisi di Kolaka, jumlahnya menjadi fantastis.

Salah seorang guru sekolah dasar (SD) di Kolaka, Surianto, ditemui pada Senin (14/3) lalu mengungkapkan, inilah yang kemudian dipermasalahkan, dan nasbah protes, dan akhirnya pihak BRI mengembalikan asuransi ratusan PNS yang tidak dibayar kelebihan asuransinya.

“Saya sudah menerima Rp 631 ribu pengembalian asuransi tahun 2015 yang masuk lewat rekening. Belum lagi tahun 2014, 2012, dan 2011 karena diberikan mulai 2015 ke bawah,” ungkapnya.

Surianto juga mempersoalkan bunga yang dikenakan pihak BRI yang tidak pernah turun, pada hal di situ tertulis anuitas atau suku bunga menurun.

Karena itu, kata dia, apa yang dilakukan BRI bukannya menyelesaikan masalah tapi menambah masalah.

Adanya pengembalian dana nasabah oleh pihak BRI yang sebelumnya melakukan kredit dibenarkan Kepala Bagian Keuangan Sekretariat Kabupaten (Setkab) Kolaka Sukur Toty.

Menurutnya, pihak BRI telah menyatakan siap mengembalikan dana PNS yang telanjur dipungut.

Berkait masalah ini, Pimpinan BRI Cabang Kolaka yang hendak dikonfirmasi tidak dapat ditemui. Salah seorang karyawan BRI Kolaka melaporkan, pimpinan mereka sedang sibuk.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Kolaka sudah mulai mengumpulkan data dan keterangan dari berbagai pihak, berkait dugaan “permainan” tersebut.

Kepala Kejaksaan Negeri Kolaka Jefferdian dikonfirmasi soal ini menyatakan, belum bersedia memberikan keterangan lebih jauh.

“Memang ada penyampaian lisan masuk ke kita. Makanya kita baru akan telusuri. Kalau ada pegawai atau nasabah yang mau kasih keterangan, itu lebih baik. Jangan takut kita tidak akan jadikan dia saksi,” imbau Jefferdian. (cr3/c/iis)

To Top