Penderita DBD Dekati Seribu Orang – Berita Kota Kendari
Headline

Penderita DBD Dekati Seribu Orang

KENDARI, BKK – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) memperkirakan, jumlah warga yang terjangkit penyakit demam berdarah dengue (DBD) antara Januari hingga Maret 2016 bisa menembus angka seribu orang.
Kepala Dinkes Provinsi Sultra Asrum Tombili mengatakan, fenomena DBD hampir merata di seluruh kabupaten dan kota di Sultra. Peningkatan jumlah penderita terjadi karena kondisi cuaca yang tidak menentu alias berubah-ubah.
Berdasarkan data Dinkes Sultra, Februari 2016 jumlah penderita DBD sekitar 500 orang. Namun, Asrum menilai, angka itu sudah pasti bertambah dan bisa menembus angka seribu. “Data naik sekarang. Bisa saja mendekati seribu,” kata Asrum saat ditanyai perkembangan jumlah penderita DBD se-Sultra, Senin (14/3) di Kantor Gubernur Sultra.
Meski begitu, Dinkes Sultra menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Menurut Asrum, KLB diberlakukan bila kasus DBD terjadi hanya di satu lokus tertentu.
“Ini kan hampir merata di seluruh Indonesia. Hampir semua daerah di Sultra terjadi hal yang sama,” kata Asrum.
Selain terjadi merata, DBD di Sultra belum bisa dijadikan KLB karena musim yang tidak menunjang. Menurutnya, kondisi cuaca di Sultra selalu berubah-ubah sehingga memudahkan nyamuk Aedes Aegypti ini berkembang biak.
“Hujan sudah tiga hari tetapi berhenti lagi. Sekarang hujan lagi. Musimnya kita di sini tidak menunjang,” ujarnya.
Asrum mengaku, tidak bisa berbuat banyak terhadap membengkaknya angka penderita DBD ini. Upaya foging yang dilakukan Dinkes selama ini, diakuinya bukan menjadi solusi utama dalam mengurangi penyebaran DBD.
“Yang paling utama adalah mengubah prilaku masyarakat. Warga harus bisa memutus mata rantai kehidupan nyamuk. Paling tidak, yang perlu dilakukan adalah berusaha tidak digigit nyamuk, pakai kelambu atau oles dengan obat nyamuk,” tuturnya.
Sepanjang Januari hingga 2 Maret 2016, sudah lima warga di Sultra yang kehilangan nyawa di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bahteramas akibat terserang DBD. Kepala Sub Bagian Humas dan Hukum RSUD Bahteramas Masita SKM MKes menyebutkan, sejak tiga bulan terakhir, pihaknya sudah merawat sekitar 90-an pasien DBD. Lima diantaranya, meninggal dunia.
“Datanya terakhir 2 Maret. Mungkin, pada hari ini jumlah pasien bertambah bisa mencapai 100-an. Saya belum cek kembali jumlahnya,” terang Masita saat ditemui di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu.
Masita menambahkan, lima warga yang meninggal itu terdiri dari dua orang dewasa dan tiga anak-anak. Satu warga yang meninggal berusia dewasa, merupakan pasien yang dirujuk dari Kota Raha Kabupaten Muna.
“Empatnya, dari Kota Kendari. Anak-anak, kebanyakan dari Kecamatan Poasia,” bebernya.
Menurut dia, lima pasien yang meninggal ini positif terinfeksi virus DBD. Selain itu, nyawa mereka tidak bisa diselamatkan karena pada saat dirujuk ke RSUD Bahteramas, kondisinya sudah parah.
“Meninggal karena terlambat dibawa ke sini. Ada yang dibawa ke sini, tapi kondisinya sudah terjadi pendarahan,” katanya.
Mayoritas warga penderita DBD yang dirawat di RSUD Bahteramas, merupakan pasien rujukan dari beberapa kabupaten. Diantaranya, Kolaka, Bombana, Konawe Selatan (Konsel), Kolaka Timur (Koltim), Kabupaten Muna dan sisanya dari Kota Kendari.
“Kalau yang paling banyak, pasti dalam kota. Tapi, kita juga banyak dapat kiriman dari daerah,” paparnya.
Akibat banyaknya pasien rujukkan DBD dari daerah, pihak RSUD Bahtermas terpaksa menambah jumlah tempat tidur pasein. Bahkan, rumah sakit harus menggunakan koridor atau lorong karena ruang perawatan sudah penuh.
Untuk mengantisipasi membeludaknya pasien, pihak rumah sakit harus memanfaatkan lorong-lorong untuk melakukan perawatan. “Ruang Asoka itu hari pernah kita tambah 10 bad. Di Mawar juga, kita tambah 10 dan kita juga harus gunakan lorong-lorong karena banyaknya pasein,” ujarnya.
Selama Januari, sebut dia, jumlah penderita DBD yang dirawat di RSUD Bahtermas hanya sekitar 14-an orang. Namun, terjadi peningkatan pada Februari hingga Maret 2016. (r1/c/aha)

To Top