Kalau Tumbang, Pertanda Ada Bencana Besar – Berita Kota Kendari
Feature

Kalau Tumbang, Pertanda Ada Bencana Besar

Kayu tiang bendera Kesultanan Buton sudah lebih tiga abad, tetapi masih berdiri kokoh.

Kayu tiang bendera Kesultanan Buton sudah lebih tiga abad, tetapi masih berdiri kokoh.

Kesultanan Buton memang penuh dengan hikayat yang beraroma supranatural. Salah satunya adalah tiang bendera yang berada di Istana Sultan Buton, yang masih diselimuti misteri.

La Ode Adnan Irham
Baubau

Masyarakat Buton sendiri sudah tidak asing lagi dengan keberadaan tiang bendera kesultanan ini. Maklum,  tiang bendera ini sudah ada di sana sejak tiga abad lalu. Meski usianya sudah lebih 300 tahun, namun tiang bendera berbahan kayu ini tetap berdiri kokoh. Pergantian cuaca dan perubahan iklim selama 300 tahun itu seakan-akan tidak memengaruhi ketahanan fisiknya.
Tinggi tiang bendera ini dari alasnya 21 meter. Bentuknya seperti tiang layar kapal, berdiri kokoh diatas puncak, dan ditopang lima buah kayu penyangga tanpa sebiji pun paku menancap. Sampai saat ini, masyarakat setempat percaya kayu tiang bendera ini tidak pernah dimakan rayap, seperti kayu-kayu lainnya. Yang paling unik, tak pernah sekalipun burung hinggap di tiang bendera yang dalam bahasa setempat disebut Kasulana Tombi itu.
Berdasarkan catatan sejarah, tiang bendera tersebut didirikan pada akhir abad ke-17 atau tepatnya tahun 1712. Saat itu, Kesultanan Buton dipimpin oleh Sultan Buton ke-19, Langkariri atau Sultan Sakiuddin Darul Alam dengan gelar Oputa Sangia atau Sangia Manuru. Beliau memerintah antara tahun 1712 hingga 1750.
Namun sejarah Kesultanan Buton juga menyebutkan tiang bendera itu sudah ada pada tahun 1538, bersamaan dengan dibangunnya Istana Sultan Buton yang saat itu dijabat Sultan Murhum. Kerajaan Buton saat itu resmi menjadi Kesultanan Buton setelah Sultan Murhum memeluk Agama Islam.    Dahulu, setiap hari Jumat, dipasang bendera kerajaan yang berwarna kuning, merah, putih, dan hitam. Jika dihitung sampai saat ini umur tiang bendera itu sudah 304 tahun.
Hingga kini pun, masih banyak versi tentang asal usul kayu itu. Ada yang menyebut didatangkan dari luar Pulau Buton. Ada juga yang menyebut asli dari Buton. Konon menurut cerita, para tokoh adat dulu harus berzikir untuk mendatangkan kayu tersebut.
“Memang aspek spiritual tidak bisa dipisahkan dari pembuatan tiang bendera itu. Belum ada hasil riset yang menyatakan jenis kayunya, jati atau bukan,” kata Budayawan Buton, La Ode Abdul Munafi.

Nah, pada masa Sultan Sakiuddin Darul Alam naik tahta, Istana Sultan direlokasi ke tempatnya sekarang. Istana Sultan Buton sebelumnya berada 100 meter arah selatan. Dengan direlokasinya Istana, tiang bendera pun ikut pindah.
Masyarakat masih percaya kemistikan tiang bendera tersebut. Bahkan disebut-sebut bila tiang itu rubuh, pertanda bencana besar akan datang.
Abdul Munafi menjelaskan, tiang bendera dan Mesjid Agung Keraton Buton adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Mesjid melambangkan agama, sedangkan tiang bendera melambangkan kedaulatan negara. Jika dikaitkan dengan kepercayaan masyarakat soal tiang itu, bencana yang dimaksud adalah kekacauan akibat tumbangnya kedaulatan negeri.
Tiang bendera itu juga pernah diusulkan untuk dipindahkan dan dimuseumkan agar tidak rusak. Nantinya diganti dengan tiang duplikat. Pernah juga diusulkan untuk ditutup dengan kaca. Namun beberapa tokoh adat dan budayawan menolak, dengan alasan agar keaslian tetap terjaga.
Tiang bendera tersebut pernah diperbaiki karena rusak akibat disambar petir pada tahun 1870. Itulah perbaikan terakhir tiang bendera itu, dan hingga kini masih berdiri kokoh menemani dengan setia Mesjid Agung Keraton Buton.
Konon jika mendekatkan alat navigasi ke tiang itu, alat navigasi akan menuliskan angka 0 derajat. (c/aha)

Click to comment
To Top