DBD Renggut Nyawa Tiga Anak Poasia – Berita Kota Kendari
Headline

DBD Renggut Nyawa Tiga Anak Poasia

Ruang perawatan bayi RSUD Bahteramas Sultra

Ruang perawatan bayi RSUD Bahteramas Sultra

KENDARI, BKK– Sepanjang Januari hingga 2 Maret 2016, tercatat lima warga di Sulawesi Tenggara (Sultra) yang meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bahteramas, setelah terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD). Tiga diantaranya anak-anak.
Kepala Sub Bagian Humas dan Hukum RSUD Bahteramas Masita SKM MKes menyebutkan, sejak tiga bulan terakhir, pihaknya sudah merawat sekitar 90-an pasien DBD. Lima diantaranya, meninggal dunia.
“Datanya terakhir 2 Maret. Mungkin, pada hari ini jumlah pasien bertambah bisa mencapai 100-an. Saya belum cek kembali jumlahnya,” terang Masita saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (8/3).
Masita menambahkan, lima warga yang meninggal itu terdiri dari dua orang dewasa dan tiga anak-anak. Satu warga yang meninggal berusia dewasa, merupakan pasien yang dirujuk dari Kota Raha Kabupaten Muna.
“Empatnya dari Kota Kendari. Anak-anak, kebanyakan dari Kecamatan Poasia,” bebernya.
Menurut dia, lima pasien yang meninggal ini positif terinfeksi virus DBD. Selain itu, nyawa mereka tidak bisa diselamatkan karena pada saat dirujuk ke RSUD Bahteramas, kondisinya sudah parah.
“Meninggal karena terlambat dibawa ke sini. Ada yang dibawa ke sini, tapi kondisinya sudah terjadi pendarahan,” katanya.
Mayoritas warga penderita DBD yang dirawat di RSUD Bahteramas, merupakan pasien rujukan dari beberapa kabupaten. Diantaranya, Kolaka, Bombana, Konawe Selatan (Konsel), Kolaka Timur (Koltim), Kabupaten Muna dan sisanya dari Kota Kendari.
“Kalau yang paling banyak, pasti dalam kota. Tapi, kita juga banyak dapat kiriman dari daerah,” paparnya.
Akibat banyaknya pasien rujukkan DBD dari daerah, pihak RSUD Bahtermas terpaksa menambah jumlah tempat tidur. Bahkan, kata dia, jumlah pasien rumah sakit tidak bisa menampung seluruh pasien yang masuk akibat membeludak secara tiba-tiba.
Untuk mengantisipasi membeludaknya pasien, pihak rumah sakit harus memanfaatkan lorong-lorong untuk melakukan perawatan. “Ruang Asoka itu hari pernah kita tambah 10 bad. Di Mawar juga, kita tambah 10 dan kita juga harus gunakan lorong-lorong karena banyaknya pasein,” ujarnya.
Selama Januari, sebut dia, jumlah penderita DBD yang dirawat di RSUD Bahtermas hanya sekitar 14-an orang. Namun, terjadi peningkatan pada Februari hingga Maret 2016.
“Saya kurang tahu jumlahnya sekarang. Pasti, terjadi penambahan hingga 100 orang lebih,” tuturnya. (r1/b/aha)

To Top