Headline

Sejak Usia 2 Tahun Tak Pernah Lagi Makan Nasi

Derita Satrio Bocah Penderita Gizi Buruk,

BUTUH ULURAN DERMAWAN. Satrio (5), terbaring tak berdaya di ruangan Anggrek di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Baubau, sejak didiagnosa menderita gizi buruk dan infeksi paruparu. Bocah malang yang berasal dari keluarga miskin ini membutuhkan bantuan dari para dermawan.

BUTUH ULURAN DERMAWAN. Satrio (5), terbaring tak berdaya di ruangan Anggrek di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Baubau, sejak didiagnosa menderita gizi buruk dan infeksi paruparu. Bocah malang yang berasal dari keluarga miskin ini membutuhkan bantuan dari para dermawan.

Tulang pipinya tampak jelas terlihat, kedua matanya cekung kedalam, kepalanya tampak lebih besar dari badannya.

Namun yang lebih miris dilihat adalah kondisi badannya, tulang-tulang rusuknya sangat jelas, bahu-bahunya juga layu,
apalagi tangannya, ia sangat kurus, jauh berbeda dengan anak normal seusianya. Seperti itulah kondisi fisik Satrio yang terbaring lemah di ranjang salah satu bangsal di ruangan Anggrek di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Baubau yang kini beralih status menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Di ruangan itu Satrio yang berusia lima tahun diapit terus kedua orang tuanya, Ismail dan Nursia yang setia menemani
putra bungsu mereka itu yang saat ini hanya berbobot 5,2 kilogram. Dua kakak Satrio berada di Binongko. Sengaja keduanya tak diajak karena selain akan menggangu sekolah, juga akan menambah biaya tinggal di Baubau. Satrio tak sedikitpun beranjak dari ranjangnya, kalaupun ia ingin buang air, ia akan buang air di tempat karena Satrio terpaksa dipakaikan Popok.

Saat ada orang lain yang datang, mata Satrio bergerak pelan mencari orang dimaksud, seolah ia ingin berkata, “siapa
yang datang dan mau apa?”. Maklum, sejak Satrio dirawat di BLUD Baubau tepatnya hari Selasa 1 Maret 2016, dan
mulai diberitakan sejumlah media, banyak yang datang membesuk Satrio. Ada yang hanya sekedar menjenguk, dan tak sedikit dermawan yang datang membantu penderitaan Satrio.

Di mulut Satrio terpasang selang kecil seukuran pensil berwarna bening, dari situlah Satrio mendapatkan makanan dan asupan gizi. Ia belum dapat makan seperti orang normal. Terkadang ibunya harus mengangkat tinggi-tinggi susu dan
makanan berbentuk cairan yang kemudian dialirkan melalui selang tadi, ujung selang itu langsung mengarah ke tenggorokan Satrio. Ya, Satrio belum dapat menelan apapun yang masuk ke dalam tenggorokannya.

Satrio sempat dirawat di puskesmas Binongko, Kabupaten Wakatobi selama sembilan hari. Tak ada perubahan, puskesmas kemudian merujuk Satrio ke BLUD Baubau untuk mendapatkan perawatan intensif. Satrio berangkat menggunakan kapal laut yang menjadi satu-satunya transportasi menuju Kota Baubau.

“Dia masuk hari selasa, langsung kita bawa ke ruangan perawatan anak, langsung ditangani juga sama dokter ahli anak, dr Yuniarti,” kata Humas BLUD Baubau, M Al Arsan Jaya.

Berdasarkan hasil Rontgen (ronsen-red), Satrio saat itu didiagnosa inveksi di paru-parunya. BLUD Baubau memang
menyatakan Satrio mengalami gizi buruk, namun mereka belum berani menyebutkan Satrio menderita gizi buruk akibat inveksi paru-paru atau sebaliknya.

Satrio pada Mei 2016 mendatang tepat berumur 6 tahun, umur 1 hingga 4 tahun Satrio layaknya anak normal. Namun yang janggal, sejak ia berusia dua tahun, tak pernah lagi mau makan nasi. Ia hanya mengkonsumsi susu tiga kali dalam sehari.

Satrio berbeda dengan dua kakaknya, kakak tertua Satrio saat ini berumur 15 tahun bernama Lusiana, sedangkan kakak keduanya Santi berumur 10 tahun. Tidak ada perbedaan dalam mengasuh ketiga anaknya, hanya Satriolah yang sama sekali tidak pernah mau mengkonsumsi nasi. Kalaupun dipaksa, biasanya ia muntahkan kembali.

Sejak Satrio menderita gizi buruk, tak ada sedikitpun perhatian dari pemerintah. Ayah Satrio juga pernah mendatangi kelurahan, ia hanya dijanjikan akan dibantu, namun hingga Satrio dirawat di RS bantuan itu tak pernah kunjung datang.
Kini, kedua orang tua Satrio dapat bernafas lega, banyak para dermawan datang memberikan bantuan kepada Satrio.

“Saya sama keluarga nda tau mau balas bagaimana mereka (dermawan), saya cuma bisa doakan semoga dibalas yang lebih dari ini,” tutur Nursia Ibunda Satrio.

Berkat bantuan dari para dermawan, uang yang sudah terkumpul sebanyak Rp 20 juta lebih. Uang itu kata dia akan dipergunakan untuk biaya perawatan Satrio jika sudah diperbolehkan pulang dari RS. Sedangkan untuk biaya RS, pihak BLUD Baubau sudah memproses penerbitan kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan untuk Satrio.

Bantuan itu akan sangat berguna bagi Satrio, mengingat Ismail tak punya pekerjaan tetap. Ia kadang dipanggil ikut mengumpulkan batu-batu kecil. Tak jarang ia diminta tetangga menggalikan lubang untuk pembuatan toilet atau MCK. Sedangkan Nursia hanya mengurus rumah tangga.

“Terima kasih, terima kasih, cuma Allah yang bisa balas,” ucap Nursia lagi.

To Top