Headline

Pendukung Nur Alam Mulai Panik

Asrun

Asrun

 

 

 

KENDARI, BKK– Para pendukung Nur Alam mulai menunjukkan kepanikannya. Mereka menebar ancaman akan hengkang dari PAN jika DPP PAN tidak memilih Nur Alam kembali sebagai Ketua DPW PAN Sultra.

Salah seorang pendukung setia Nur Alam, Umar Samiun menegaskan bahwa posisi ketua untuk Nur Alam sudah menjadi harga mati bagi mereka. Kendati musyawarah formatur tidak mencapai mufakat karena penolakan Asrun seorang diri, namun persetujuan dari empat dari lima formatur sudah menggambarkan bahwa mayoritas kader PAN masih menginginkan Nur Alam memimpin PAN di Sultra.

“Pokoknya kalau bukan Nur Alam yang dipilih dan DPP malah memilih Asrun, saya dan seluruh pengurus lebih baik bubar,” kata Ketua DPD PAN Buton Utara ini.

Menurutnya, akan sangat tidak adil jika DPP memilih Asrun yang di atas kertas hanya didukung oleh minoritas. Sementara suara mayoritas pengurus yang menginginkan Nur Alam kembali ke tampuk pimpinan, tidak diperhitungkan.

Umar dengan pernyataan emosionalnya juga menegaskan jika Asrun yang jadi nakhoda baru PAN Sultra, dia memastikan tidak akan menjadikan PAN sebagai kendaraan politiknya untuk pencalonan periode kedua Bupati Buton Utara.
Dia cukup percaya diri menggunakan partai politik lainnya.

“Biar saya pakai partai tai kucing, saya tetap terpilih,” kata Bupati Buton Utara ini sesumbar.
Dia menambahkan, partai ini sudah besar dan kuat di tangan Nur Alam. Belum ada satu pun kader yang dinilai mampu menyaingi kepiawaian Nur Alam.

Untuk itu, Umar menggalang seluruh kekuatan DPD lainnya untuk tetap mempertahankan Gubernur Sultra sebagai tampuk pimpinan di PAN. “Sekitar 15 DPD akan mundur bila PAN tidak dipimpin Nur Alam,” tekannya.

Senada dengan Umar, Ketua DPD PAN Kabupaten Konawe Kerry Syaiful Konggoasa mengaku, seluruh kader masih menginginkan Nur Alam untuk memimpin PAN Sultra. Dalam pandangan Kerry, tidak perlu lagi ada nama lain.

“Kalau bukan Nur Alam, kita bubar saja,” tutur Kerry.
Pengamat politik Universitas Halu Oleo (UHO) DR Nadjib Husain menilai, pernyataan para pendukung Nur Alam sebagai bentuk emosional belaka. Itu karena pendukung Nur Alam ini merasa derajatnya sama dengan Asrun.

“Selain Nur Alam, mereka merasa kualitas rata-rata hampir sama. Sama-sama bisa menjadi ketua. Sehingga, wajar keluar bahasa seperti itu,” paparnya.

Nadjib menilai konflik Muswil PAN Sultra ini merupakan imbas dari Kongres DPP PAN di Jakarta. Konflik itu pun terbawa sampai di Muswil PAN Sultra. Selain itu, juga terjadi perbedaan sikap DPW dengan DPD kabupaten dalam mengusung calon di pemilihan kepala daerah (pilkada) 2015.

Menurutnya, konflik antara Asrun dan Umar tidak bisa dihindari karena sama-sama merasa punya jasa yang sama terhadap partai tersebut. “Ini yang kita khawatirkan. Sudah pasti akan terjadi gejolak di bawah,” jelasnya.

Posisi PAN saat ini, sebut dia, masih menjadi daya tarik, khususnya para calon kandidat yang akan maju Pilkada. Namun sayangnya, jika konflik ini tidak diselesaikan, dikhawatirkan akan berujung pada perpecahan. (r1/aha)

To Top