Headline

DUGAAN KORUPSI KANTOR BUPATI KONUT 2011

PENGEMBALIAN KERUGIAN NEGARA. Sejumlah karyawan BRI membawa uang tunai sebesar Rp 2,3 miliar yang disebut-sebut sebagai pengembalian kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Kantor Bupati Konawe Utara, di Kantor Kejaksaan Tinggi Sultra, Selasa sore.

PENGEMBALIAN KERUGIAN NEGARA. Sejumlah karyawan BRI membawa uang tunai sebesar Rp 2,3 miliar yang disebut-sebut sebagai pengembalian kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Kantor Bupati Konawe Utara, di Kantor Kejaksaan Tinggi Sultra, Selasa sore.

Tersangka Kembalikan Uang Kerugian Negara Rp 2,3 Miliar
#Kejati Tak Beri Penjelasan, Wartawan Kesal Lalu Bubar

KENDARI, BKK– Uang tunai sebesar Rp 2,3 miliar yang disebut-sebut sebagai pengembalian kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Kantor Bupati Konawe Utara, tiba di Kantor Kejaksaan Tinggi Sultra, Selasa sore kemarin.

Sayangnya, pihak Kejati mengulur waktu hingga berjam-jam untuk menjelaskan perihal miliaran uang tunai untuk pengembalian kerugian negara tersebut. Para wartawan pun dibuat kesal dan akhirnya meninggalkan Kantor Kejati Sultra.

Awalnya, sekitar pukul 15.30, pihak media mendapatkan informasi yang menyebutkan adanya uang tunai miliaran rupiah yang akan tiba di Kejati pada sore hari. Uang itu disebut-sebut sebagai upaya pengembalian kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi pembangunan proyek Kantor Bupati Konawe Utara tahun 2011.

Dan memang benar, uang tunai itu tiba diantarkan oleh pihak BRI. Uang miliaran rupiah yang dikemas dalam tas ransel dan satu kantong plastik ukuran besar itu langsung dibawa ke ruang Kepala Kejaksaan Tinggi Sultra yang terletak di lantai dua. Namun, wartawan dilarang masuk.

Beberapa saat kemudian, ransel dan kantong plastik yang sama dibawa lagi ke ruang konferensi pers yang juga masih berada di lantai dua. Mulanya, para awak media mengira pihak Kejati akan segera memberikan penjelasan. Namun sampai satu jam, belum ada pihak Kejati yang muncul untuk memberikan pernyataan.

Yang membuat keadaan semakin ganjil, tas dan kantong plastik ukuran besar yang berisi uang miliaran itu dibiarkan teronggok di atas meja tanpa pengawalan. Beberapa wartawan yang berusaha meminta kejelasan waktu konferensi pers dari pihak Kejati tak dilayani.

Kekesalan awak media pun akhirnya memuncak saat salah satu ajudan Kajati Sultra, Sugeng Djoko Susilo memanggil wartawan Metro TV masuk ke ruangannya. Sementara belasan wartawan lainnya yang sudah menunggu selama empat jam, tak dihiraukan.

“Ada apa ini? Kami dari tadi menunggu sudah lebih empat jam, tetapi dia (salah seorang wartawan) baru datang tiba-tiba langsung dipanggil ke dalam ruang Kajati. Padahal kami sama-sama wartawan,” kata Wartawan Tempo, Rosmawati Fikri, dengan nada kesal.

Melihat kejadian tersebut, salah seorang wartawan meminta agar semua rekan-rekannya ikut masuk. Namun ditahan oleh ajudan. Mereka pun kesal dan memilih untuk meninggalkan Kejati, sekitar pukul 21.00.

Informasi yang dihimpun Berita Kota Kendari menyebutkan, uang tersebut bersumber dari salah satu tersangka, Sionidar, yang merupakan kontraktor proyek tersebut. Namun penasehat hukum Siodinar, Risal Akman yang dikonfirmasi membantahnya.

“Itu bukan uang dari klien saya, mungkin uang dari tersangka lainnya,” ujarnya.
Keberadaan uang pengembalian kerugian negara itu hanya berselang satu hari dengan jadwal pemeriksaan Bupati Konawe Utara, Aswad Sulaiman. Aswad rencananya diperiksa pada hari ini, Rabu (24/2) sebagai tersangka dalam kasus yang ditaksir merugikan negara sebesar Rp 2,3 miliar. (p5/aha)

To Top