Oknum Polair Polda Sultra Diduga Terlibat – Berita Kota Kendari
Beranda

Oknum Polair Polda Sultra Diduga Terlibat

Ilustrasi

Ilustrasi

#Mabespolri Tangkap Kayu Ilegal di Perairan Buton

KENDARI, BKK – Oknum anggota Direktorat Kepolisian Perairan (Ditpolair) Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggra (Sultra) bernama Darwis, yang kini bertugas sebagai Komandan Pos Polair Buton Utara (Butur) disebut terlibat dalam kasus illegal logging yang ditangkap Polair Baharkam Markas Besar Kepolisian Republik Indonesi (Mabespolri).

Dalam penangkapan KLM Titipan Ilahi GT 85 nomor 224/00X yang memuat 130 kubik di wilayah hukum Polda Sultra, petugas Polair Mabes telah menetapkan tujuh tersangka. Yaitu Jamaludin (44) yang diketahui sebagai kapten kapal serta enam anak buah kapal (ABK), Efrin (22), Atalib (34), Febri (21), M Sidik (20), Luis (20) dan Faisal (42).

Semua tersangka itu adalah warga Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), relah bertandang di Sultra hanya untuk memenuhi undangan bisnis kayu ilegal yang ditawakan Darwis.

Dugaan keterlibatan Darwis tersebut terungkap dari pengakuan sang kapten kapal pemuat kayu, Jamaludin.

Diterangkannya, kayu yang dimuatnya tersebut berasal dari Buton Utara (Butur), yakni perairan Langkumbe dan Pelabuhan Ngapaeya, dengan nama pemilik La Mudi.

Rencananya kayu tersebut akan dibawa ke Lombok dengan imbalan yang dijanjikan dari Darwis sebesar Rp 370 ribu per kubik.

Total seluruhnya dari 130 kubik sebesar lebih dari Rp 48 juta, namun bayaran yang baru didapat Jamaludin baru setengah, setengahnya lagi akan dibayarkan setelah kayunya selamat sampai di Lombok.

“Pak Darwis yang panggil kita ini. Ini juga Pak Darwis tidak bialang kalau kayunya ilegal,” ujarnya dengan nada menyesal.

Masih kata Jamaludin, dirinya hanya pencari nafkah dengan bekerja sebagai pelayar untuk membiayai anak dan istrinya. Sedikitpun, jelas dia, tidak ada niatan menjadi menjadi pelaku illegal logging.

“Nah, dengar kabar dari Pak Darwis ini bahwa ada yang mau dimuat maka sejak tanggal 29 Januari lalu kita suda ada di Butur,” bebernya.

Dari Butur Menuju NTB

Sementara itu, kapten kapal yang ditumpangi petugas Polair Baharkam Mabes Polri KP Beo-5014, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Daniel Agung mengatakan, kasus tersebut masih akan berlanjut dan masih dilakukan pemeriksaan terhadap para tersangka.

Ia memastikan pemilik kayu bisa menjadi tersangka. Bukan hanya itu, penahan tersangka masih terbuka lebar, karena pihaknya masih memburu keterlibatan pihak lain, termasuk oknum polisi. Hanya saja oknum polisi bernama Darwis itu masih harus dibuktikan.

“Kalau oknum polisi itu kita akan buktikan nanti dipemeriksaan. Kita tidak bisa berandai-andai. Kalau disebut penyedia kapal nanti kita tindak lanjuti,” terang Daniel.

Untuk membuktikan semua itu, penyidik Subdit Gakum Direktorat Polair Baharkam Mabes Polri akan datang langsung di Sultra.

Daniel mengurai, pihaknya melakukan penangkapan terhadap KLM Titipan Ilahi GT 85 nomor 224/00X, Selasa (16/2) malam lalu, memuat 130 kubik kayu ilegal tanpa dokumen.

Dalam penangkapan itu, dirinya bersama anggota lain menggunakan kapal KP Beo-5014. KLM Titipan Ilahi, tertangkap di perairan Kulisusu saat sementara melakukan pelayaran menuju Lombok NTB.

Daniel juga menjelaskan, tidak ada unsur melemahkan kepolisian di daerah dalam proses penangkapan itu.

Menurutnya semua terjadi secara tiba-tiba saat dilakukan penangkapan. Bahkan adanya keterlibatan anggotanya juga masih ia dalami dan masih akan dilakukan penyelidikan.

“Tidak gitu. Jadi, ini karena patroli saja. Saat anggota patroli menggunakan kapal kecil menemukan kapal ini sementara pengapalan, nah, kita hentikan dan kita periksa. Ternyata terbukti tanpa kepemilikan dokumen,” terangnya.

Lebih lanjut Daniel mengatakan, para tersangka dijerat pasal 88 ayat (1) huruf b dan c serta pasal 14 huruf b dan c Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Kerusakan Hutan. Pasal ini mengandung ancaman pidana lima tahun penjara. (r2/iis)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top