DBD Bunuh Tiga Warga Sultra – Berita Kota Kendari
Headline

DBD Bunuh Tiga Warga Sultra

#Sepanjang 2016, Ada 530 Kasus

KENDARI, BKK – Sepanjang Januari hingga Februari 2016, penyakit demam berdarah dengue (DBD) telah merenggut tiga nyawa warga Sulawesi Tenggara (Sultra).

Data Dinkes Sultra, sepanjang Januari hingga Februari tahun ini, 11 kabupaten atau melaporkan kasus DBD dengan total 530 kasus. Tiga di antaranya, meninggal dunia. Yakni, di Buton (1 kasus), Konawe Selatan (1 kasus) dan Muna (1 kasus).

Dalam penyebaran penyakit menular ini, Kota Kendari berada di urutan pertama dengan 159 kasus. Posisi kedua ditempati Kabupaten Kolaka dengan 125 kasus. Ketiga, Kabupaten Konsel dengan 115 kasus.

Sementara delapan kabupaten lainnya, kasusnya berkisar dari 50-an sampai satu kasus.

“Sejauh ini, sudah tiga warga kita yang meninggal akibat penyakit menular yang disebabkan oleg virus dengue ini,” terang Kepala Dinkes Provinsi Sultra Asrum Tombili saat ditemui di kantornya, Selasa (16/2).

Ia menyebut, kasus DBD pada tahun ini naik enam kali lipat dibandingkan dengan tahun 2015. Bahkan, Kabupaten Konsel yang sebelumnya sedikit ditemukan kasus DBD, sekarang naik di posisi tiga dengan 115 kasus.

“Ada pergeseran tahun ini. Konsel sudah mulai juga,” katanya.

Meski mengalami peningkatan secara drastis, Dinkes Provinsi Sultra belum bisa menetapkan wabah DBD kali ini masuk kejadian luar biasa (KLB).

“Belum bisa diberlakukan darurat DBD. Masih terkendali untuk saat ini,” ujarnya.

Ia menguraikan, peningkatan DBD pada tahun ini merupakan siklus tiga tahunan. Ia memprediksi, pada 2019 nanti, kejadian seperti saat ini akan terulang lagi.

“Kasus seperti ini, berlaku hampir di seluruh Indonesia,” paparnya.

Masifnya kasus DBD, Pemprov Sultra melakukan beberapa langkah, berupa penyuluhan tentang penyakit yang ditimbulkan gigitan nyamu aedes aegypti ini, pemberantasan sarang nyamuk dan perawatan pasien yang terkonfirmasi DBD.

“Kalau Kendari dan Konsel, kita membantu pengasapan atau fogging. Untuk daerah yang jauh, kita hanya bantu logistik seperti abate dan fogging. Sekarang, stok kita aman dan alat-alat serta tenaga siap diturunkan,” ujarnya.

Menurutnya, peningkatan DBD kali ini akibat curah hujan yang tidak menentu.

“Bila satu hari hujan dan besoknya tidak, maka akan gampang muncul jentik nyamuk. Lebih baik, sekaligus hujan. Supaya tidak ada penampungan nyamuk untuk hidup,” tuturnya.

Di tempat terpisah, anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sultra Wa Ode Farida menilai, meningkatnya penularan penyakit DBD akibat dari kurangnya pemahaman masyarakat akan lingkungannya.

Ketidaktahuan warga ini, lanjut dia, akibat sikap Dinkes yang kurang berkolaborasi dengan tim penggerak PKK. Harusnya, kata dia, ibu PKK dilibatkan dalam sosialisasi ke masyarakat.

“Dinkes kurang manfaatkan PKK menjadi penyluh. Dulu, kita sering manfaatkan PKK untuk memberikan penyuluhan. Akhir-akhir ini saya lihat, dinkes kurang hubungannya dengan PKK,” urainya.

Menurut dia, gerakan PKK jangan dianggap enteng dalam mempengaruhi masyarakat.

“PKK itu sebagai mitra pemerintah. Jadi harus dilibatkan. Peran ibu PKK tidak perlu diragukan,” tuturnya.

Sementara itu, Wali Kota Kendari Asrun mengaku, sebagai daerah yang paling tinggi angka kasus DBD, pihaknya akan berupaya meningkatkan sosialisasi dengan penambahan anggaran untuk pengadaan fogging dan abate.

“Kejadian DBD di Kota Kendari hampir setiap tahun terjadi. Sebelumnya, kita anggarkan terus. Tetapi, kelihatannya anggaran kita akan tambahkan lagi,” jelasnya.

Data DBD Sultra Januari-Februari 2016

Kabupaten Kasus Meninggal

Kota Kendari 159 kasus –
Kolaka 125 kasus –
Konawe Selatan 115 kasus 1 meninggal
Muna 52 kasus 1 meninggal
Kota Baubau 30 kasus –
Konawe 18 kasus –
Bombana 11 kasus –
Buton Utara 8 kasus –
Buton 6 kasus 1 meninggal
Kolaka Timur 2 kasus –
Konawe Kepulauan 1 kasus –

To Top